[Review] Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur II

untaian2

Judul: Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 2
Penulis: Peter Holeinone (retold: Angela Rahaniotis)
Format: Paperback, 16 hal.
Bahasa Indonesia
Penerbit: Tormont Inc. (Kanada), Tira Pustaka (Indonesia)
Tahun Penerbitan: 1994 (Indonesia)
Genre: Anak-anak, dongeng, fabel

Ini adalah buku kedua dari kumpulan dongeng-dongeng terkenal ini terdiri dari tiga cerita bergambar;

Kucing Bersepatu (Puss In Boots by Charles Perrault)

Seorang saudagar yang baru saja meninggal mewasiatkan warisan untuk ketiga puteranya. Anak sulung mendapatkan pabrik penggilingan, anak kedua mendapatkan keledai, dan anak bungsu mendapatkan seekor kucing. Si bungsu mengeluh karena warisannya paling kecil. Lalu kucingnya menghampiri dan mengatakan kalau ia lebih berguna daripada penggilingan bobrok dan keledai tua. Ia meminta sepasang sepatu bot kepada tuannya lalu pergi berburu. Begitu menangkap seekor kelinci ia mempersembahkannya kepada raja dan menyatakan buruan tersebut dari tuannya, Pangeran dari Karabas. Sejak itu kucing bersepatu secara teratur mempersembahkan buruan ke istana atas nama Pangeran dari Karabas.

Puss in Boots
Puss in Boots

Pangeran misterius itu menjadi bahan pembicaraan di istana berkat kucing bersepatu yang selalu membesar-besarkan kehebatan tuannya itu. Suatu saat keluarga kerajaan melakukan perjalanan untuk mengunjungi Pangeran dari Karabas. Kucing bersepatu yang cerdik itu segera menyiapkan rencana. Ketika kereta raja sudah dekat a mengajak tuannya ke pinggir kolam lalu menceburkannya. Setelah itu ia berteriak meminta tolong. Raja dan keluarganya menyelamatkan tuannya, Pangeran dari Karabas. Saat itulah puteri jatuh cinta kepadanya.

Tapi sebelum mengizinkan puterinya dipersunting, raja ingin memastikan kalau pemuda tersebut benar-benar kaya. Mendengar itu si kucing langsung bersiasat. Ia menyatakan kepada raja kalau seluruh tanah berikut puri megah di daerah itu merupakan milik tuannya. Ia mengundang keluarga raja untuk berkunjung. Setelah itu ia bergegas lari ke arah puri. Ia menyuruh semua petani yang sedang bekerja di tanah yang dilaluinya untuk mengatakan kepada setiap orang yang bertanya bahwa pemilik tanah di sana adalah Pangeran dari Karabas.

Setelah itu ia mendatangi puri yang dijaga oleh raksasa yang sakti dan jahat. Ia menantang raksasa itu untuk membuktikan kesaktiannya dengan berubah menjadi tikus. Si raksasa yang marah tanpa pikir panjang menjelma menjadi tikus. Kucing bersepatu langsung memakannya. Lalu ia menyambut kedatangan keluarga raja dan tuannya di puri. Tak lama kemudian si pemuda yang kini dikenal dengan nama Pangeran dari Karabas menikahi puteri.

Ikal Emas & Tiga Beruang (The Story of The Three Bears by Robert Southey)

Dahulu kala ada sebuah keluarga beruang. Pak Beruang bertubuh besar dan dan sangat dihormati. Mak Beruang bertubuh sedang dan disukai para tetangga. Sementara itu Buyung Beruang bertubuh kecil dan tidak punya banyak teman karena sifatnya yang buruk. Suatu hari Mak Beruang membuat puding. Sambil menunggu pudingnya padat mereka pergi mengunjungi tetangga, Mak Berang-Berang.

Kebetulan saat itu seorang gadis kecil yang dikenal dengan nama Ikal Emas sedang berjalan-jalan. Gadis yang perangainya mirip buyung beruang itu melihat rumah keluarga beruang di kejauhan. Karena penasaran ia menghampirinya dan mengintip ke dalam.

Begitu mengetahui kalau pintunya tak terkunci ia masuk dengan seenaknya. Di meja Ikal Emas menemukan tiga mangkuk puding. Lalu ia menghabiskan puding di mangkuk terkecil. Setelah itu Ikal Emas pergi ke ruang perapian. Di sana ia menemukan tiga buah kursi dengan berbagai ukuran. Ia menduduki kursi yang paling kecil, tapi karena tak hati-hati kaki kursinya patah. Lalu ia pergi ke kamar tidur. Di sana ia menemukan sebuah ranjang besar, ranjang berukuran sedang, dan ranjang kecil. Karena mengantuk Ikal Emas pun tidur di ranjang yang paling kecil.

Ikal Emas & Tiga Beruang.
Ikal Emas & Tiga Beruang.

Keluarga beruang kembali ke rumah. Mereka marah mendapati mangkuk puding yang kosong, kursi rusak, dan seseorang tidur di ranjang. Buyung Beruang membangunkan Ikal Emas. Gadis itu langsung ketakutan dan bergegas melarikan diri. Sejak itu Ikal Emas merasa jera. Ia bahkan berubah menjadi gadis yang baik dan bersahabat karib dengan Buyung Beruang.

Anjing Yang Loba (The Dog & Its Reflection by Aesop)
Pada suatu hari seekor anjing mencuri daging di pasar. Daging itu digondolnya ke hutan untuk di lahap sendirian. Ketika sampai di tepi sungai ia melihat pantulan wajahnya di permukaan air.

Anjing yang Loba.
Anjing yang Loba.

Tak sadar kalau itu adalah bayangannya sendiri, si anjing dengan tamak berpikir untuk merebut daging yang dibawa anjing di singai itu. Ia pun mencebur ke air dan menyalak untuk menakut-nakuti anjing satunya. Tapi bayangan anjing itu hilang. Daging curiannya ikut terlepas, lalu hanyut dibawa air sungai.

Puss In Boots: The Talented Mr. Pussy

Buku kedua ini cuma berisi tiga dongeng. Dongeng pertama, Kucing Bersepatu pertama kali dipublikasikan dalam bentuk naratif oleh Charles Perrault.

Kisah ini merupakan salah satu cerita rakyat populer di Perancis yang diterbitkan Perrault bersamaan dengan Cendrillon (Cinderella), La Petite Chaperone (Little Red Riding Hood), dll. Morale of the story: sisi positifnya kurang-lebih sama dengan kisah Tikus dan Singa di buku pertama. Jangan meremehkan sesuatu yang terlihat sepele (seperti kucing jika dibandingkan dengan pabrik penggilingan dan keledai), karena yang terlihat sepele itu bisa jadi mendatangkan sesuatu yang luar biasa.

Tapi yang menjadi perhatian utama pembaca pasti bukan itu, melainkan bagaimana si kucing memanfaatkan kecerdikannya untuk menghasilkan kemujuran bagi tuannya. Dan kecerdikan si kucing ini, atau lebih tepatnya kelicikan jelas merupakan penipuan.

Selain itu cerita ini juga menggambarkan keberuntungan yang diperoleh dengan jalan pintas, bukan dengan kerja keras. Dan si tuan, anak bungsu pemilik penggilingan merupakan karakter yang lemah (terlihat dari mudahnya ia menyetujui segala usul si kucing), pesimistis, dan pemalas. Sementara si kucing perannya benar-benar dominan. Liciknya bukan main. Mulai dari memalsukan identitas sampai memperdaya raksasa. Berasa Tom Ripley :).

The Story of The Three Bears & Snow White

Cerita kedua tentang tiga ekor beruang dan si penyusup, pertama kali dipublikasikan oleh Robert Southey, seorang penulis dan penyair Inggris pada abad XIX. Versi awal yang diperkenalkan Southey menceritakan tiga ekor beruang yang bersahabat dan tinggal bersama dengan nenek tua usil berambut perak. Cerita ini kemudian berkembang menjadi berbagai versi hingga akhirnya muncul versi yang kita kenal saat ini, keluarga beruang dan gadis cilik berambut ikal emas.

Jika diperhatikan, ada persamaan kecil antara kisah ini dengan Snow White. Bagian ketika Ikal Emas masuk ke rumah beruang, lalu memakan makanan mereka dan tidur di ranjang mereka terdengar mirip dengan Snow White yang masuk tanpa permisi ke pondok kurcaci, makan makanan mereka, dan tidur di ranjang mereka.

Anjing Yang Loba dan Lebai Malang

Dongeng Anjing Yang Loba memberikan pesan moral yang jelas. Mengisahkan ketamakan yang membuat seseorang justru kehilangan segalanya. Cerita ini mirip sekali dengan salah satu cerita rakyat Melayu yang berjudul Si Lebai Malang. Sang Lebai (sepertinya ini istilah untuk pemuka agama) diundang untuk memimpin kenduri di dua desa. Desa pertama memberikan tanduk kerbau, sementara desa kedua menyajikan masakan yang lezat.

Si lebai timbul keserakahannya sehingga ia terombang-ambing antara pergi ke desa pertama atau desa kedua. Ketika ia memutuskan pergi ke desa pertama, ia membayangkan makanan enak di desa kedua lalu berubah pikiran dan berangkat ke sana. Di tengah perjalanan ia teringat tanduk kerbau di desa pertama lalu berubah pikiran lagi. Ia terus-menerus berubah pikiran sampai akhirnya ketika dia menetapkan hati untuk memimpin kenduri di salah satu desa, ternyata acaranya sudah selesai. Dan ketika ia pergi ke desa satunya, acara di sana juga sudah selesai. Akhirnya si lebai tak mendapatkan apa-apa.

Level of interest

Review

Saya rasa buku kedua ini tidak banyak berbeda jika dibandingkan dengan buku pertamanya. Masih menyuguhkan fabel dan dongeng dengan pesan moral. Hanya saja saya kurang cocok dengan dongeng Kucing Bersepatu. Baiklah kita tidak boleh meremehkan sesuatu atau seseorang hanya dengan kesan sekilas, sebab kita belum tahu seberapa bernilainya benda atau seseorang itu di kemudian hari.

Tetapi pembuktian si kucing kepada tuannya juga tidak bisa dijadikan teladan. Bukankah segala hal yang dia lakukan sejak awal untuk tuannya adalah muslihat? Dia menipu habis-habisan seluruh istana dengan memanfaatkan para petani yang tidak tahu apa-apa.

Muslihatnya terhadap raksasa penjaga puri bahkan lebih licik lagi. Bisa dikatakan dia merampas sesuatu yang bukan haknya untuk diberikan kepada sang tuan. Walaupun dia disebutkan sebagai raksasa yang kejam, tetap tidak membenarkan tindakan si kucing yang mencuri purinya untuk kepentingan si tuan semata.

Saya rasa orangtua yang hendak menceritakan dongeng ini kepada anak-anak mereka harus memberikan penjelasan ekstra agar si anak tidak menangkap pesan moral yang salah darinya.

Sekian ulasan untuk buku kedua. Selanjutnya akan saya teruskan dengan ulasan buku ketiga di postingan selanjutnya. Bisa juga disimak ulasan untuk buku pertama di sini.

Advertisements