[Review Buku & Film] Jomblo: Sebuah Komedi Cinta

Film Jomblo yang diulas di sini adalah adaptasi tahun 2006 yang disutradarai Hanung Bramantyo, bukan adaptasi 2017 yang dibintangi Arie Kriting dan kawan-kawan.

Jomblo (Buku)

Judul: Jomblo
Penulis: Adhitya Mulya
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 150 hal.
Penerbit: Gagas Media (2003)
Bisa dibaca/didapatkan di: Google Books, Amazon, aplikasi Netgalley (ARC by request)
Genre: nonfiksi, sejarah

Sinopsis

Empat sahabat dengan masalah mereka dalam mencari cinta.

Satu harus memilih—seorang yang baik atau yang cocok.
Satu harus memilih—antara seorang perempuan atau sahabat.
Satu harus memilih—lebih baik diam saja selamanya atau menyatakan cinta.
Satu harus memilih—terus mencoba atau tidak sama sekali.

Jomblo adalah sebuah novel yang menjawab semua pertanyaan itu.
Pertanyaan yang kita temukan sehari-hari, baik dalam cerita teman atau cerita kita sendiri.

2 Points for:

☑️ Story

Setting

Characterization

☑️ Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

❤️❤️❤️❤️

Review (Buku)

Jomblo adalah perkenalan pertama saya dengan novel komedi yang ditulis dari sudut pandang pria. Ini adalah pertama kalinya saya ketawa ngakak gara-gara cerita cinta dari POV cowok.

Filmnya bikin ketawa. Novelnya pun sukses bikin saya cekakakan sendiri.

Waktu “berkenalan” dengan Jomblo belasan tahun lalu, saya masih awam dengan novel seperti ini, jadi bingung juga genrenya apa. Kalau sekarang, menurut saya ini adalah novel coming of age dengan target umur pembaca New Adults. Novel buat anak kuliahan gitulah.

Cerita Cinta dan Coming of Age dari POV Pria

Menurut saya, novel Jomblo itu lucu banget. Lucunya gara-gara nyablak khas guyonan cowok-cowok di tongkrongan. Teman-teman cowok di himpunan dulu guyonnya mirip-mirip gini juga.

Melihat cara Adhitya Mulya menggambarkan kampus Agus dan kawan-kawan dengan penuh penghinaan, kerasa banget kalau nulisnya berdasar pengalaman pribadi selama jadi mahasiswa Teknik Sipil ITB. Cuma nama-nama universitas di sana disamarkan jadi UNB (yang isinya cowok-cowok bau naga) dan Unjat (yang isinya cewek cantik-cantik).

Saya nggak bisa berkomentar banyak soal tindakan para tokohnya, karena saya paham kalau pikiran perempuan dan pria memang berbeda. Bagi saya, ketidaksetiaan Agus terlalu diromantisasi. Lani nggak ngereog tiap hari gara-gara jadi selingkuhan itu nggak makes sense. Rita mendadak stop drama saat Agus mengisyaratkan putus itu out of character banget. Adegan Asri dan Lani saling support di toilet kampus itu nggak natural. Cowok kayak Doni bisa tobat karena ngambil keperawanan partner one night stand-nya itu hampir nggak mungkin terjadi di dunia nyata. Tapi, ya, siapa tahu semua itu masuk akal di kepala Adhitya Mulya.

Satu hal yang paling masuk akal dari cerita Jomblo adalah saat persahabatan Olip dan Doni putus gara-gara Asri. Adegan seperti ini sering terjadi di dunia nyata. Nggak jarang cowok yang saya kenal (saat usia 20-an) berantem sama sahabatnya cuma gara-gara cewek. Plot twist-nya, cewek yang diributin ternyata nggak mau sama mereka.

Satu lagi poin yang kurang, paling cuma penggambaran logat Jawa si Bimo. Mungkin Adhitya Mulya jarang ketemu orang Jawa. Jadi, dikiranya semua kata dikasih awalan huruf “m”. Kami memang nyebut “Batu” (nama kota), “Bali”, “Batak”, dan “besok” jadi “Mbatu”, “Mbali”, “Mbatak”, dan “mbesok”; tapi “bisa” nggak lantas jadi “mbisa”, dong!

Pada akhirnya, Jomblo tetap novel yang lucu banget dan enak dinikmati. Rasanya nostalgic banget buat millennial seperti saya.

***

Jomblo (Film)

film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo
poster film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo

Judul: Jomblo
Diangkat dari: Jomblo
Sutradara: Hanung Bramantyo
Bahasa: Indonesia
Tahun rilis: 2006
Produksi: SinemArt Pictures
Genre: komedi, romance, coming of age
Bisa ditonton di: Netflix

Level of Interest

❤️❤️❤️❤️❤️

Review (Film)

Ada dua adaptasi layar lebar novel Jomblo. Adaptasi pertama rilis tahun 2006, sementara adaptasi keduanya rilis 2017. Saya pilih review yang tahun 2006 besutan Hanung Bramantyo, karena menurut saya itu yang paling bagus dan patuh terhadap bukunya.

Film ini juga kayaknya lebih laris daripada adaptasi terbarunya, sampai-sampai pernah dibikinin sinetron dengan aktor-aktris yang sama. Kebetulan, saya nonton filmnya duluan sebelum baca bukunya.

Secara garis besar, Jomblo ini seperti American Pie dengan unsur 18+ yang jauh lebih mild. Filmnya bego banget alias lucu banget.

Saya pikir, film ini dulu terasa lucu banget karena saya menontonnya di usia yang hampir sama dengan para karakternya. Ternyata meskipun ditonton belasan tahun kemudian, guyonan di film ini masih tetap masuk di saya.

Dibintangi Aktor-Aktor Hits di Pertengahan Tahun 2000-an

Film ini dibintangi empat aktor yang waktu itu masih muda dan lagi naik daun banget. Ringgo di film ini masih terhitung aktor baru. Namanya masih “diperkenalkan” di opening credits. Fisiknya nggak sesuai dengan Agus di novel yang kurus cungkring. Walaupun begitu, voice over-nya sebagai narator film memang selucu Agus di bayangan saya.

Doni (Christian Sugiono), Agus (Ringgo Agus Rahman), (Bimo) Dennis Adhiswara, dan Olip (Rizky Hanggono) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo
kiri ke kanan: Doni (Christian Sugiono), Agus (Ringgo Agus Rahman), Bimo (Dennis Adhiswara), dan Olip (Rizky Hanggono) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo

Dennis Adhiswara juga nggak sesuai deskripsi fisik Bimo di novel. Kalau dari segi fisik, Arie Kriting yang memerankan Bimo di Jomblo (2017) jauh lebih cocok. Meskipun begitu, akting kocak Dennis dapet banget. Logat Jawanya apalagi, luwes beneran.

Menurut perawakan, sebenarnya Rizky Hanggono lebih cocok jadi Doni. Namun dia juga bagus memerankan Olip.

Christian Sugiono agak kegantengan buat memerankan Doni, tapi pembawaannya bolehlah. Cuma aktingnya aja yang masih kagok. Bahasa Indonesianya masih kecampur aksen bule. Saya dengar, dia memang kuliah di Jerman.

Nadia Saphira sebagai Lani memang manis banget dan bikin kepincut. Richa Novisha juga pas banget memerankan Rita, teteh-teteh Sunda yang keibuan tapi suka marah-marah.

Rianti Cartwright di ingatan saya selalu terkesan lembut seperti malaikat. Tapi setelah nonton ulang film ini, saya paham kenapa Olip takut banget mau ngajak kenalan.

Asri (Rianti Cartwright) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo
Asri (Rianti Cartwright) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo

Cantiknya Rianti di film ini memang intimidating. Ini, sih, bukan paling cantik sekampus lagi. Kalau dibilang paling cantik seuniversitas juga saya percaya.

Muladi, si Scene Stealer

Saya paling suka karakter Muladi yang di cerita aslinya cuma muncul sepintas, tapi dapat screen time lebih di filmnya.

Karakter Muladi ini ngeselin banget dan sok asik, tapi kalau pas kena batunya justru bikin penonton puas banget.

Muladi (Shakti Harimurti) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo
Muladi (Shakti Harimurti) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo

Bagi saya, Muladi sukses mencuri perhatian penonton. Dia termasuk karakter paling memorable, meskipun dialognya nggak banyak. Dia bahkan sampai dibikinin post credit scene, lho!

Sayang juga, Shakti Harimurti yang memerankan karakter ini sudah meninggal dunia di tahun 2019.

Perbedaan Novel dan Film Jomblo

Agus (Ringgo Agus Rahman), Bimo (Dennis Adhiswara), Doni (Christian Sugiono), dan Olip (Rizky Hanggono) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo
kiri ke kanan: Agus (Ringgo Agus Rahman), Bimo (Dennis Adhiswara), Doni (Christian Sugiono), dan Olip (Rizky Hanggono) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo

Secara garis besar, cerita film ini patuh terhadap novelnya. Saya suka penambahan animasi untuk visualisasi narasi Agus.

Tentu ada beberapa bagian yang diubah sedikit. Misalnya adegan Agus yang kesusahan nyari kondom dari warung ke warung. Sudah jalan kaki jauh banget, akhirnya malah batal ML karena ngeliat pasangan muda yang pulang salat dari masjid. Kalau di bukunya, Agus dan Lani beneran lanjut ML.

Ada beberapa scene di buku yang cringe banget saat diterjemahkan ke layar lebar. Misalnya adegan imajiner saat Doni dan kawan-kawan yang berkostum wayang orang mengirim Bimo buat meetup dengan Febi.

Walaupun begitu, ada juga adegan di buku yang aslinya cringe, tapi malah lucu banget saat dibawa ke layar.

Doni (Christian Sugiono),  Olip (Rizky Hanggono), Bimo (Dennis Adhiswara), dan Agus (Ringgo Agus Rahman) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo
Doni (Christian Sugiono), Olip (Rizky Hanggono), Bimo (Dennis Adhiswara), dan Agus (Ringgo Agus Rahman) di film Jomblo (2006) © dok. SinemArt Pictures/Jomblo

Sama seperti bukunya, ending film ini agak bittersweet, tapi malah jadi realistis. Adegan penutup itu justru menekankan coming of age yang jadi genre utamanya. Masing-masing karakter move on dengan hidup masing-masing, tapi kali ini dengan kedewasaan yang bertambah.

Sekian ulasan saya soal novel dan film Jomblo. Jadi kangen nonton film-film tahun 2000-an kayak Arisan! dan 5 cm.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.