[Review Buku] Taiko, Hebatnya Eiji Yoshikawa dalam Menceritakan Hideyoshi yang ‘Membuat Seekor Burung Ingin Berkicau’

Judul: Taiko
Penulis:
Eiji Yoshikawa
Bahasa:
Indonesia
Format:
hardcover, 114 hal.
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama (2012)
Genre:
fiksi sejarah, petualangan

Cerita

Dikutip dari Goodreads:

Dalam pergolakan menjelang dekade abad keenam belas, Kekaisaran Jepang menggeliat dalam kekacau-balauan ketika keshogunan tercerai-berai dan panglima-panglima perang musuh berusaha merebut kemenangan. Benteng-benteng dirusak, desa-desa dijarah, ladang-ladang dibakar.

Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa.

Nobunaga yang ekstrem, penuh kharisma, namun brutal.

Ieyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa.

Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak-poranda ini.

Hideyoshi Toyotomi lahir sebagai anak petani, menghadapi dunia tanpa bekal apapun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita.

Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.

Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, penulis bestseller internasional, yang berisi pawai sejarah dan kekerasan, pengkhianatan dan pengorbanan diri, kelembutan dan kekejaman. Sebuah epik yang menggambarkan kebangkitan feodal Jepang secara nyata.

 

5 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review

Sebenarnya sudah hampir 10 tahun lalu saya membaca buku ini. Tapi baru sekarang kesampaian beli bukunya. Kebetulan ada teman sekantor yang punya dua eksemplar dan masih bersegel pula. Intinya, karena ada kesempatan buat baca ulang, akhirnya saya bisa menulis review yang lebih proper untuk buku ini.

Taiko ini buku yang tebal banget, tapi untungnya mudah dicerna. Aslinya terbagi menjadi 10 bagian dan sempat diterbitkan per bagian pula. Tapi belakangan lebih mudah menemukan versi hardcover-nya yang sudah lengkap 10 bagian jadi satu jilid.

Sangat mudah dinikmati, karena saya memang suka sejarah dan tokoh yang cerdik macam Hideyoshi. Bagi saya serunya macam Pedang Tujuh Bintang. Bahkan lebih seru lagi, karena tokoh-tokoh yang disebutkan di dalamnya semua nyata.

Budaya Jepang yang masih dekat dengan Indonesia juga memudahkan pembaca untuk memahami tradisi serta falsafah hidup para samurai yang diceritakan di Taiko.

Hideyoshi, Si Monyet Cerdik

Taiko bercerita tentang Toyotomi Hideyoshi, satu dari tiga tokoh pemersatu jepang. Dua lainnya adalah Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu. Taiko itu julukan yang diberikan kepada Hideyoshi.

Buku ini menjabarkan perjalanan Hideyoshi dari anak miskin yang sering dipanggil Saru (monyet), pembantu di dapur benteng, pembawa sandal Nobunaga, tukang kuda, samurai rendahan, komandan sampai jadi jenderal. Ini adalah fiksi berlatar historis yang coba mereka ulang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Jepang.

Pembaca akan dibuat kagum oleh strategi perang dan politik Hideyoshi. Disebut di awal, dia adalah panglima yang menggunakan akalnya. Kontras dengan Nobunaga yang grusa-grusu dan Tokugawa yang lebih suka menunggu momen untuk bertindak.

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab: “Bunuh saja!”
Hideyoshi menjawab: “Buat burung itu ingin berkicau”
Ieyasu menjawab: “Tunggu.”

Kalau situasi tidak menguntungkan, Hideyoshi akan mencari cara untuk mengubah ‘arah angin’ sesuai keinginannya. Dia tak segan menggunakan muslihat, selama itu bisa membuat tujuannya tercapai. Beda dengan Nobunaga yang sangat menjunjung tinggi kehormatan sebagai samurai.

Bagian paling mengagumkan adalah ketika Hideyoshi menggunakan akalnya untuk memenuhi tantangan menyelesaikan parit/benteng (lupa) dalam waktu singkat. Dia membagi anak buahnya menjadi beberapa grup dan membuat semacam kompetisi agar mereka bisa mengerjakan proyek lebih cepat.

Sayangnya, si monyet punya kelemahan yang khas pria sekali. Libidonya kurang tertib. Selain memperluas kekuasaan, kerjanya mengumpulkan istri di mana-mana.

Nobunaga vs Tokugawa

Selain Toyotomi, yang juga menarik disimak adalah perselisihan Nobunaga dan Tokugawa. Memorable karena kontrasnya sifat kedua penguasa ini.

Sebenarnya Nobunaga dan Tokugawa adalah besan.  Nobuyasu, anak Tokugawa dinikahkan dengan putri Nobunaga sebagai bukti aliansi kedua penguasa tersebut. Namun akhirnya Nobuyasu yang terpaksa melakukan harakiri atas perintah mertuanya. Hukuman ini dijatuhkan karena diam-diam Tokugawa menjalin kesepakatan dengan klan lain. Saya lupa sih, keluarga mana. Nobunaga sendiri akhirnya tewas di dalam penyerangan yang dilakukan oleh Akechi Mitsuhide.

Di sini saya mendapat kesan kalau Nobunaga itu biseksual. Kedekatannya dengan beberapa samurai, terutama Ranmaru Mori yang baru 16 tahun itu rasanya agak khusus. Saya memang pernah membaca (entah di mana) kalau Nobunaga itu memang ada kemungkinan gay.

Advertisements

One thought on “[Review Buku] Taiko, Hebatnya Eiji Yoshikawa dalam Menceritakan Hideyoshi yang ‘Membuat Seekor Burung Ingin Berkicau’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.