[Review Buku & Film] The Virgin Suicides

Sudah lama saya kepingin baca The Virgin Suicides, tapi selalu tertunda dan teralihkan oleh buku-buku lain. Akhirnya, saya malah lebih dulu menonton filmnya, itu pun baru 20 tahun setelah rilis. Setelah nonton filmnya, barulah saya tergerak untuk membaca novelnya. Dan inilah kesan-kesan saya terhadap film dan buku The Virgin Suicides.

The Virgin Suicides (Buku)

The Virgin Suicides (Jeffrey Eugenides). ©2008 Dastan Books

Judul: The Virgin Suicides
Penulis: Jeffrey Eugenides
Bahasa: Indonesia
Format:paperback, 352 hal.
Penerbit: Dastan Books (2008)
Genre: fiksi, drama

Cerita

Taken from Goodreads:

Michigan, awal 1970-an. Keluarga Lisbon adalah keluarga yang sangat religius, keluarga biasa dengan kehidupan yang juga biasa. Sampai ketika satu demi satu anak gadis keluarga itu melakukan bunuh diri. Kelima perawan misterius yang cantik itu mengakhiri hidup mereka sendiri secara misterius pula.

Gadis-gadis keluarga Lisbon berumur tiga belas (Cecilia), empat belas (Lux), lima belas (Bonnie), enam belas (Mary), dan tujuh belas (Therese). Cecilia, si bungsu, menyayat pergelangan tangannya sambil berendam di bak mandi. Kedua tangannya mendekap gambar Perawan Suci. Percobaan pembunuhan pertamanya ini gagal. Namun, ia berhasil dalam percobaan keduanya. Tubuhnya meluncur dari lantai atas rumah. Keberhasilan Cecilia diikuti oleh keempat saudarinya, masing-masing dengan cara yang berbeda.

Gadis-gadis keluarga Lisbon begitu terobsesi dengan kematian. Tidak ada seorang pun yang tahu misteri di balik itu semua. Tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah keluarga Lisbon.

3 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review (Buku)

Kalau kalian tertarik membaca The Virgin Suicides dan mengharapkan novel thriller atau cerita misteri dengan pemecahan bak Detektif Conan, skip saja ke buku lain. Awalnya, saya juga berekspektasi demikian. Pasalnya, judul dan sinopsis The Virgin Suicides memang memberikan kesan seperti cerita misteri berbau sekte sesat. Apalagi, Dastan Books memang sering menerjemahkan novel-novel misteri pembunuhan seperti series Kevin Byrne & Jessica Balzano atau Dexter. Tapi, The Virgin Suicides bukan novel semacam itu.

Sesuai judulnya, novel ini bercerita tentang bunuh diri yang dilakukan oleh lima putri keluarga Lisbon di tahun 70-an. Ini adalah cerita coming of age dari seorang pemuda yang kebetulan berlatar kasus bunuh diri gadis-gadis tetangganya.

Keseluruhan novel bercerita tentang Lisbon bersaudara dari sudut pandang seorang narator tak bernama, seorang pemuda yang kebetulan satu pemukiman dan satu sekolah dengan gadis-gadis berambut pirang itu.

Anak-anak keluarga Lisbon menjadi obsesi tersendiri bagi para pemuda di lingkungan mereka. Sebagian besar daya tarik gadis-gadis itu berasal dari kemisteriusan mereka. Pasalnya, Mr. dan Mrs. Lisbon sangat protektif terhadap putri-putrinya dan membatasi interaksi keluarga mereka dengan para tetangga.

The Virgin Suicides ini diceritakan dengan alur mundur. Si narator yang sudah menjadi pria dewasa memulai ceritanya dengan fakta bahwa keempat gadis Lisbon mengakhiri nyawa di hari yang sama. Lalu, ceritanya mundur ke memori pertamanya tentang gadis-gadis itu.

Kemudian penuturannya bergerak maju, merunut segala sesuatu yang diketahuinya tentang Lisbon bersaudara hingga hari naas ketika keempat gadis itu mengundang dirinya dan para pemuda lain untuk menjadi ‘saksi’ bunuh diri mereka. Motivasinya menceritakan hal itu cukup sederhana. Dia hanya ingin memahami alasan di balik tindakan Lux, Mary, Bonnie, Therese, dan si bungsu Cecilia agar bisa move on dari kejadian traumatis tersebut.

Therese, Mary, Bonnie, Lux, dan Cecilia selalu bersama. Mereka tampak seperti gadis ceria yang berusaha untuk menjalani masa remaja dengan normal, meskipun selalu dikekang orangtua. Namun, pembaca bisa merasakan ketidakbahagiaan mereka dari kilasan memori sang narator. Setelah Cecilia meninggal, perlahan-lahan Lux dan saudara-saudaranya terlihat makin tak bahagia, makin jarang terlihat di luar rumah. Ketika, keempat gadis itu ditemukan tewas pada hari yang sama, hebohlah pemukiman tempat mereka tinggal.

Cecilia adalah putri pertama yang mengakhiri hidupnya. Usianya paling muda, tapi sepertinya juga yang paling depresi. Kematian gadis itu mengubah hidup orang-orang di sekitarnya. Awalnya, kakak-kakak Cecilia mencoba untuk melanjutkan hidup, tapi pada akhirnya mereka pun menyerah terhadap rayuan ajal. Tentu saja hal ini membuat para tetangga bertanya-tanya, apa yang terjadi di dalam rumah keluarga Lisbon.

Si narator berkesimpulan kalau pemicu aksi bunuh diri Lisbon bersaudara adalah ‘pemberontakan’ Lux. Setelah nekat mengabaikan jam malam, memberikan keperawanannya kepada salah satu pemuda di sekolah, Lux dan saudara-saudaranya dikurung di dalam rumah. Mereka bahkan tidak boleh bersekolah lagi.

Tindakan Mr. dan Mrs. Lisbon membuat Lux makin memberontak, meskipun hal itu dilakukannya tanpa sepengetahuan mereka. Dalam waktu singkat, Lux dikenal sebagai gadis liar yang kerap mengundang kurir pizza atau pemuda setempat untuk berhubungan seksual di atap.

Saudara-saudara Lux pun melakukan segala cara untuk ‘tetap waras’. Namun, pada akhirnya hidup seperti tak tertahankan lagi dan mereka memutuskan untuk mengakhirinya.

Seperti si narator, saya pun berharap dapat mengetahui isi hati Lux dan saudara-saudaranya. Terutama, saya ingin mengerti mengapa kematian lebih menarik bagi gadis 13 tahun seperti Cecilia. Terlalu banyak pertanyaan yang seharusnya terjawab di akhir. Namun, sepertinya ini memang bukan cerita yang ditulis untuk memuaskan pembacanya.

Barangkali ini hanya cerita tentang rapuh dan berharganya masa muda. Ini adalah pesan bahwa waktu yang terlewat tak selalu menyembuhkan luka. Rangkaian pertanyaan yang tak terjawab tak akan menguap begitu saja, tapi melekat kuat di ingatan, meskipun tak selalu disadari masih ada di sana. Terus begitu sampai sang narator bisa berkata, “It is what it is” dan merelakannya.

Iya, The Virgin Suicides adalah cerita yang suram. Ini juga bukan cerita yang ditutup dengan konklusi melegakan, entah itu happy ending atau sad ending. Membaca buku ini terasa seperti mendengarkan kisah tragis dari salah satu kenalan yang meninggalkan sensasi pilu, tapi tak ada yang bisa dilakukan selain mencoba untuk melupakannya sebelum memejamkan mata dan meneruskan hidup begitu esok tiba.

The Virgin Suicides (Film)

Judul: The Virgin Suicides
Diangkat dari: The Virgin Suicides oleh Jeffrey Eugenides (1993)
Sutradara: Sofia Coppola
Bahasa: Inggris
Tahun rilis: 1999
Produksi: Paramount Classics/American Zoetrope/Muse Productions/Eternity Pictures
Genre: drama, coming of age

Sinopsis (film)

Taken from Rotten Tomatoes:

In an ordinary suburban house, on a lovely tree-lined street, in the middle of 1970s America, lived the five beautiful, dreamy Lisbon sisters, whose doomed fates indelibly marked the neighborhood boys who to this day continue to obsess over them.

A story of love and repression, fantasy and terror, sex and death, memory and longing. It is at its core a mystery story: a heart-rending investigation into the impenetrable, life-altering secrets of American adolescence.

Level of Interest

Review (film)

The Virgin Suicides adalah feature film pertama Sofia Coppola. Selain menyutradarai, Coppola juga menulis naskah film ini.

Seperti bukunya, film ini juga diceritakan lewat kenangan traumatis seorang narator tak bernama, meminjam suara aktor Giovanni Ribisi (Perfect Stranger, Avatar).

Film ini menggambarkan teen angst lewat adegan-adegan sinematik nan girly dengan latar musim panas tahun 70-an. Ini adalah film yang lumayan depressing, tragis, sekaligus ‘cantik’. Persis seperti Lux dan saudara-saudaranya.

Bagian paling melekat di ingatan tentu saja adalah Lux, diperankan oleh Kirsten Dunst yang saat itu baru berusia 15 atau 16 tahun. Lux adalah putri keluarga Lisbon yang paling cantik dan berjiwa bebas. Menurut saya, dia juga karakter yang paling tragis.

Lux Lisbon (Kirsten Dunst) di The Virgin Suicides. ©1999 Paramount Classics

Berawal sebagai remaja ceria nan flirty, dunia Lux seolah hancur ketika dia mengalami patah hati pertama dan kedua orangtuanya justru memutuskan untuk menghukumnya bersama seluruh saudaranya gara-gara hal itu.

Lux di usia 20 mungkin akan menangani emosi negatifnya dengan cara yang lebih bijak. Tapi, dia cuma seorang remaja 14 tahun yang naif dan tidak didampingi orangtuanya dalam mengenal dunia luar. Jadi, self-destruct adalah satu-satunya pilihan yang dia mengerti.

Kirsten Dunst menunjukkan akting yang apik di sini. Menurut saya, dia adalah aktris yang jauh lebih bagus sebelum memutuskan jadi damsell in distress buat Spider-Man-nya Tobey Maguire. Waktu usianya 10 tahun, dia terlihat meyakinkan saat memerankan vampir berusia ratusan tahun yang terjebak dalam tubuh anak-anak. Saat jadi kapten cheerleader di Bring it On pun dia charming dan cukup lucu. Penampilannya sebagai Lux di film ini juga menawan.

Karakter paling berkesan selanjutnya adalah Cecilia. Hanna Rose Hall yang memerankannya mungkin cuma tampil di seperempat bagian pertama film. Namun, dia mampu menarik perhatian penonton dengan kesan putri cilik nan muram.

Cecilia Lisbon (Hanna Rose Hall) di The Virgin Suicides. ©1999 Paramount Classics

Tak banyak dialog yang diberikan kepadanya, tapi Hall punya cukup banyak kesempatan untuk menampilkan sisi depresifnya dengan sorot mata yang kadang seperti sedang melamun, kadang tak bernyawa. Ekspresi dinginnya saat menanggapi dokter yang mengoloknya karena depresi di usia 13 tahun juga mengena.

Sayangnya, A.J. Cook (di kemudian hari dikenal lewat perannya di crime series Criminal Minds), Leslie Hayman, dan Chelse Swain tidak kebagian momen untuk menunjukkan kemampuan mereka. Soalnya, di buku pun tiga bersaudara ini memang tidak meninggalkan kesan sedalam Lux dan Cecilia bagi si narator.

Film ini bisa dibilang sangat patuh terhadap cerita aslinya, hingga ke detail terkecil. Ini adalah tontonan bikin stres, saya jamin tidak menghibur, tapi harus diakui memang memanjakan mata dengan setiap detail keindahannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.