[Review Buku] Shine, Debutnya Jessica Jung eks SNSD sebagai Novelis YA

Sama seperti novel-novel lain yang saya ulas, Shine ini juga sudah cukup lama saya baca. Sekadar penasaran seperti apa tulisan Jessica Jung. Maklum, saya memang mengikuti per-Korea-an saat SNSD sedang berada di puncak.

Karena saya sedang buntu ide saat mengerjakan draft awal untuk tulisan ini, akhirnya saya tulislah pakai format 5W+1H buat kerangka. Tapi, saya putuskan untuk tidak memolesnya seperti biasa. Semoga masih mudah dibaca.

Judul: Shine (Shine #1)
Penulis: Jessica Jung
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 360 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2020)
Genre: fiksi, young adults, contemporary romance

Cerita

Taken from Goodreads:

Apa yang bersedia kaupertaruhkan demi mewujudkan impianmu?
Bagi Rachel Kim, remaja Korea-Amerika yang berusia tujuh belas tahun, jawabannya adalah: hampir segalanya. Enam tahun lalu ia direkrut oleh DB Entertainment—salah satu perusahaan musik K-pop terbesar di Seoul. Aturan menjadi trainee DB Entertainment cukup sederhana: latihan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tampil sempurna, dilarang berkencan. Mudah, bukan?
Tidak juga.

Ketika skandal-skandal mulai bermunculan dalam industri yang berusaha keras mempertahankan citra kesempurnaan tersebut, apakah Rachel cukup kuat untuk menjadi pemenang? Atau apakah ia akan berakhir dalam keadaan hancur?

JESSICA JUNG, bintang K-pop dan mantan vokalis utama dalam girl group paling terkenal di Korea, Girls Generation, mengajak kita masuk ke dunia K-pop yang penuh warna dan intrik, di mana harga yang harus dibayar untuk kesuksesan—dan cinta—sangat tinggi. Kini saatnya bagi dunia untuk mengetahui apa yang harus dilalui seorang gadis untuk mencapai impiannya sebagai bintang K-pop yang BERSINAR.

3 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review (Buku)

Who:

Shine menceritakan tentang Rachel Kim, seorang remaja berdarah Korea yang dibesarkan di barat sebelum hijrah kembali ke Negeri Ginseng untuk mengejar mimpi sebagai idol K-pop.

What:

Fokus utamanya adalah jatuh bangun Rachel dalam mewujudkan mimpinya, seberapa pusingnya Rachel yang harus juggling antara sekolah dan K-pop training, bagaimana Rachel bisa tetap menikmati masa remaja di antara kesibukan yang senantiasa padat, dan apa yang harus Rachel lakukan untuk mempertahankan posisinya di agensi.

Kenapa poin terakhir yang saya sebutkan di atas menjadi hal penting? Rachel harus bersaing dengan trainee lain yang—menurut perkataannya sendiri—semuanya sangat berbakat atau sangat cantik. Kesempatan untuk mendapat perhatian dari executive agensi adalah hal langka. Kalaupun ada, kesempatan itu bisa hilang sekedipan mata. Karena itu, tak sedikit yang saling tusuk dari belakang untuk memperolehnya.

Untuk membuat hidup Rachel makin rumit (atau makin juicy), datangnya Jason, idol berstatus nation’s boyfriend yang kebetulan punya latar belakang sama dengan Rachel. Karena sama-sama dibesarkan di luar negeri, tak heran kalau keduanya langsung merasakan chemistry. Namun menjadi gadis pujaan seorang idola mendatangkan lebih banyak masalah daripada romansa seindah dongeng. Kalau meminjam quote dari K-drama favorit saya, The Greatest Love, rasanya seperti menantu perempuan yang dibenci dengan seluruh negeri sebagai mertua. Kira-kira itulah yang dirasakan Rachel.

Where:

Industri hiburan Korea Selatan. Lebih tepatnya adalah dunia di balik panggung gemerlap K-pop. Di sini, Jessica mengajak pembaca untuk mengintip dunia hiburan dari belakang layar. Melalui tokoh Rachel, pembaca dibawa ke kehidupan seorang rookie idol saat sorotan spotlight tak mengarah kepadanya.

When:

Present day. Novel ini tidak menggunakan alur maju-mundur. Kalaupun ada flashback, sangat minim dan tidak membuat alur cerita seperti bergerak mundur.

Why:

Kenapa Shine bisa terasa seru, meskipun saya sudah tidak bisa merasa terhubung dengan alur klise khas novel YA begini? Saya rasa karena gagasan ‘behind the scene‘ dengan latar dunia hiburan atau kaum elit memang ampuh untuk menarik minat pembaca. Mungkin, tanpa sadar saya mencari-cari jawaban untuk rasa penasaran saya setiap menyaksikan grup seperti SNSD sedang perform. Berapa puluh trainee yang ‘patah hati’ saat gadis-gadis ini terpilih untuk debut? Mampukah mereka meraih kesuksesan? Jika popularitas sudah di tangan, berapa lama mereka bisa bertahan? Apa yang dirasakan rekan-rekannya saat sang visual menjadi sorotan utama ketika melakukan pose ending fairy-nya? Siapa di antara mereka yang sedang memaksakan seulas senyum ceria atas nama profesionalisme, lalu menangis sendirian di kamar mandi?

Popularitas Jessica sebagai penulisnya tentu juga menjadi nilai tambah. Jessica ini adalah idol yang sosoknya selalu ‘sedap dirujak’ netizen. Dia dipuja karena doll-like beauty dan talenta yang dimilikinya, tapi juga dibenci karena sikap dinginnya di berbagai variety show (setidaknya selama beberapa tahun pertama SNSD menuai popularitas). Penampilan, rumor percintaan, sampai hengkangnya dari SNSD sempat jadi topik hangat.

Ketika membaca nama Jessica Jung di sampul, mau tak mau pembaca jadi berpikir kalau Shine adalah insights yang dibagikan Jessica kepada para penggemarnya. Sebuah novel YA romance tentang dunianya para idol K-pop yang ditulis oleh seorang idol sungguhan.

How:

Shine diceritakan melalui sudut pandang orang pertama, melalui POV (point of view, ya, adik-adik Wattpad author-nim? Bukan point of voices. Jangan dicampur aduk sama inner voice, dong, aduh!) Rachel Kim.

Saya rasa, tokoh Rachel ini sengaja menggunakan persona publik Jessica Jung sebagai inspirasi. Mereka sama-sama dianggap berbakat nyanyi, dibesarkan di Amerika Serikat, mengenyam pendidikan di sekolah internasional, punya adik perempuan yang juga berbakat dan bercita-cita jadi idol, trainee di agensi terbesar Korea yang namanya menggunakan dua huruf alfabet, dan didebutkan dalam girl group dengan sembilan member. Kalau Jessica punya julukan ‘ice princess’ karena citranya yang seperti putri angkuh (setidaknya selama masih di SNSD), maka Rachel diolok-olok dengan julukan Princess Rachel oleh rekan-rekannya.

Sebenarnya, saya sedikit menyayangkan karakter Rachel yang digambarkan nyaris tanpa cela. Dia diceritakan sebagai gadis yang cantik alami tanpa perlu oplas, kurus tanpa perlu diet ketat, cerdas, berbakat besar, menyayangi adiknya, dan tidak pernah ‘keluar jalur’, meskipun kesialan kerap menimpa.

Saya lebih menghargai karakter yang punya sederet cela, karena semua manusia memang begitu. Meskipun Rachel adalah seorang selebritas, ada baiknya jika sifat-sifatnya masih tetap relatable bagi pembaca. Walaupun begitu, saya menghargai upaya Jessica untuk menyisipkan isu tentang oplas dan diet ekstrem yang dijalani para trainee.

Saat membuka halaman pertama Shine, jujur saya tak berekspektasi tinggi. Belakangan ini saya sudah kesulitan menikmati YA romance, karena fase hidup saya sebagai perempuan 30-an memang sudah jauh melewati masa remaja yang jadi target pembacanya. Walaupun begitu, ternyata saya menikmati Shine.

Meskipun banyak klise di sana-sini dari segi karakter, dialog, dan konflik, saya akui Jessica mampu menulis fiksi dengan luwes. Saya tidak akan heran kalau buku ini ditulis bareng co-author atau ghost writer. Tapi, cuma nama Jessica yang tertulis di sampul. Jadi, salutlah buat Mbak Sica. Berarti dia memang punya banyak bakat, ya?

Untuk urusan roman, saya tidak merasakan sesuatu yang spesial di antara Rachel dan Jason. Chemistry mereka terasa ‘suam-suam kuku’ bagi saya. Mungkin karena sejak awal saya bermasalah dengan pembangunan karakternya yang kurang. Bagaimana mau menciptakan chemistry yang apik kalau karakter dua tokoh utamanya saja kurang kuat atau relatable?

Tapi, ya, kembali lagi, semua soal selera. Saya hanya bisa berpendapat kalau Shine adalah novel remaja yang sangat mudah dinikmati, bahkan oleh pembaca yang usianya sudah jauh dari remaja. Kalau kemampuan menulisnya terus dikembangkan dan dieksplorasi, saya rasa kelak Jessica Jung bisa melahirkan novel-novel untuk pembaca dewasa yang sama-sama nikmatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.