[Review Buku & TV Series] The Duke and I vs Bridgerton: Season 1

Sudah terlalu lama tidak menyentuh blog, apalagi bikin review. Rasanya sampai lupa format yang biasa saya pakai. Biar ingatannya nggak karatan sekaligus nyapuin debu di halaman-halaman blog ini, mari kita review sesuatu.

Kali ini, saya mau menyelesaikan draft review The Duke and I alias Bridgerton #1. Terjemahan buku ini pertama kali saya baca di 2012, lalu saya baca ulang dalam bahasa aslinya di 2016. Mumpung season 2-nya belum tayang, kan, ya. So, here we go.

The Duke and I (Bridgerton #1)

The Duke and I (Julia Quinn). ©Gramedia Pustaka Utama
The Duke and I (Julia Quinn). ©Gramedia Pustaka Utama

Judul: The Duke and I – Aku dan Sang Duke (Bridgerton #1)
Judul Asli: The Duke and I (Bridgerton #1)
Penulis: Julia Quinn
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 464 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
Genre: fiksi, historical romance (roman sejarah), drama

Cerita

Taken from Goodreads:

Adakah tantangan yang lebih besar bagi para Ibu Ambisius London selain duke yang masih lajang?

Lembar Berita Lady Whistledown, April 1813

Semua orang tahu Simon Basset, Duke of Hastings, sebentar lagi akan meminang Daphne Bridgerton yang manis, yang selama ini hanya dianggap sebagai sahabat alih-alih calon istri oleh para pria lajang. Tapi mereka berdua tahu yang sebenarnya—semua itu cuma taktik untuk menyelamatkan Simon dari serbuan ibu-ibu kaum bangsawan yang hendak menjodohkan pria itu dengan putri mereka. Sementara itu, menjadi pasangan duke membuat Daphne mendapat perhatian beberapa pria lajang yang layak sebagai calon suami.

Tapi manakala berputar-putar di lantai dansa bersama Simon, Daphne sulit mengingat bahwa kedekatan mereka ini sandiwara semata. Mungkin ini gara-gara senyum jail Simon, atau bahkan cara pria itu memandangnya setiap kali mereka berduaan. Ia hanya tahu dirinya telah jatuh cinta kepada sang duke! Kini ia perlu meyakinkan pria tampan itu bahwa sandiwara kecil mereka membutuhkan sedikit perubahan, dan bahwa cinta itu merupakan faktor yang amat pantas ditambahkan di dalamnya.

Para Tokoh

Simon Basset, Earl of Clyvedon, Duke of Hastings

Pewaris dukedom Hastings yang dibesarkan dengan keras sehingga membenci ayahnya. Simon berusaha keras untuk mengatasi dan menyembunyikan gagapnya dengan ‘tameng’ sikap angkuh di hadapan semua orang. Dia juga bertekad untuk mengakhiri garis keturunan Hastings untuk menyakiti ayahnya.

Daphne Bridgerton

Putri tertua dari keluarga Bridgerton yang agak tomboi. Gadis menyenangkan dan cerdas yang dianggap sebagai teman oleh semua pria di kalangan bangsawan. Daphne merasa dirinya kurang memesona sebagai wanita. Karena itulah, dia memerlukan bantuan Simon untuk membuat para lelaki menginginkannya.

Lady Violet Bridgerton

Perempuan tegar dan ceria yang membesarkan kedelapan anaknya dengan cinta berlimpah, meskipun tanpa kehadiran suaminya. Lady Bridgerton bertekad untuk membuat semua keturunannya menikah dengan cinta. Kali ini, ‘proyek’ utama sang viscountess yang banyak akal itu adalah Daphne.

Anthony Bridgerton, Viscount Bridgerton

Putra tertua yang mengemban tugas sebagai kepala keluarga sejak remaja. Cenderung overprotektif dan kadang bersikap otoriter terhadap adik-adiknya. Namun, tak bisa berkutik jika Lady Bridgerton sudah ‘bertitah’. Saat ini, kekhawatiran utama Anthony adalah adik perempuannya. Dia selalu menyukai Simon sejak zaman sekolah, tapi tak ingin Daphne terluka gara-gara pria itu.

4 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review (Buku)

The Duke and I adalah perkenalan keluarga Bridgerton dengan penikmat historical romance. Meskipun fokus utamanya adalah Daphne, dari sini pembaca bisa sekaligus mengakrabi karakter saudara-saudaranya. Mulai dari Anthony yang memang paling banyak berinteraksi dengannya, Colin yang disebut sebagai saudara terdekatnya, Eloise dan Francesca remaja yang saat itu terlihat seperti anak kembar, Benedict, sampai Gregory dan Hyacinth yang masih bocah. Adu mulut khas siblings yang mereka suguhkan sepanjang cerita pasti membuat pembaca jatuh cinta kepada mereka.

Lady Bridgerton yang karakternya khas ibu-ibu cerewet, tapi penyayang ini juga pasti membuat pembaca merasa simpati. Bagi saya, daya tarik utama di buku ini adalah dinamika keluarga Bridgerton itu sendiri, meskipun romansa Simon dan Daphne juga tetap menarik untuk diikuti.

Kalau keluarga Daphne adalah gambaran keceriaan, maka keluarga Simon adalah kebalikannya. Duke of Hastings adalah ayah yang dingin, hanya tahu cara menuntut tanpa memberikan apresiasi kepada putranya. Itulah yang membuat Simon sangat membencinya. Flashback masa kecil Simon sangat menyedihkan buat saya. Karena itulah, terlepas dari perlakuannya sebagai suami Daphne, saya tetap berharap karakter yang satu ini menemukan arti cinta. Dan tentu saja, dia akan menemukan cinta itu dari Daphne.

Hal yang saya sukai dari romansa Simon dan Daphne adalah fakta bahwa Simon yang merasakan instant attraction saat pertama kali bertemu. Waktu itu, Simon bahkan tidak tahu kalau perempuan yang membuatnya berpikiran tidak-tidak pada pandangan pertama itu adalah adik teman sekolahnya.

Biasanya, kalau ada non-consentual sex di cerita seperti ini, pihak yang dipaksa pasti yang perempuan, ya. Uniknya, di buku ini malah si pria yang tidak dimintai consent. Bukannya saya oke dengan perbuatan Daphne, ya. Cuma karena saya sadar kalau ini fiksi, saya pikir pembalikan peran seperti ini cukup menarik untuk dieksplorasi. Meskipun sebenarnya banyak cara lain untuk mengembangkannya tanpa harus melibatkan non-consentual anything.

Bicara soal sex scenes, cukup steamy untuk membuat pembaca ‘kipas-kipas keringat’. Saya cuma bisa berkomentar sex-scene-nya ‘rich’.

Satu lagi yang menarik dari The Duke and I adalah lembar gosip Lady Whistledown. Membaca komentar-komentar witty dari kolumnis gosip macam Gossip Girl begini memang menghibur, kan?

Intinya, The Duke and I adalah ‘perkenalan’ yang berkesan dengan Bridgerton series. Kalau suka steamy romance dengan genre historical, saya jamin bakal kepingin melanjutkan ke buku-buku selanjutnya. Seperti saya, kalian bakal menemukan cerita dan pasangan yang lebih kental chemistry-nya di buku-buku berikutnya.

Bridgerton: Season 1

Bridgerton: Season 1. ©2020 Netflix

Judul: Bridgerton: Season 1
Diangkat dari: The Duke and I (Bridgerton #1) oleh Julia Quinn
Developer: Chris Van Dusen
Bahasa: Inggris
Jumlah episode: 8
Tahun rilis: 2020
Penayang: Netflix
Produksi: Shondaland, Netflix
Genre: period drama, historical romance

Sinopsis (film)

Taken from IMDb:

Netflix’s Bridgerton follows Daphne Bridgerton, the eldest daughter of the powerful Bridgerton family as she makes her debut onto Regency London’s competitive marriage market.

Hoping to follow in her parent’s footsteps and find a match sparked by true love, Daphne’s prospects initially seem to be unrivaled. But as her older brother begins to rule out her potential suitors, the high society scandal sheet written by the mysterious Lady Whistledown casts aspersions on Daphne.

Enter the highly desirable and rebellious Duke of Hastings, committed bachelor and the catch of the season for the debutantes’ mamas. Despite proclaiming that they want nothing the other has to offer, their attraction is undeniable and sparks fly as they find themselves engaged in an increasing battle of wits while navigating society’s expectations for their future.

Bridgerton: Season 1 Official Trailer ©YouTube/Netflix

Level of Interest

Review (series)

Jadi Bridgerton series-nya Julia Quinn dipinang Netflix untuk diproduksi sebagai original series menggandeng Shondaland. Tentu tidak mengherankan jika series yang berlatar Inggris di era Regency ini lantas dirombak jadi Regency imajinatif. Memang meleset dari sejarah. Faktanya, zaman segitu nggak ada orang kulit hitam atau mixed race di Inggris yang bergelar duke. Dansa-dansi dengan orang kulit putih seperti Simon saja nggak mungkin. Ada juga masih jadi budak di perkebunan.

Awalnya saya agak kurang sreg, karena saya termasuk penikmat tontonan dengan latar sejarah autentik. Kalau mau menceritakan tentang orang kulit hitam dari sisi yang berbeda, cobalah angkat karakter mereka sebagai sosok inspiratif tanpa meniadakan fakta bahwa mereka diperlakukan dengan diskriminatif di masa lalu. Toh, pada kenyataannya ada karakter fiktif seperti Isaura atau Adelaide-nya Sinha Moca yang bisa tetap bercinta dengan orang kulit putih meskipun latarnya adalah zaman perbudakan orang kulit hitam. Sosok para penguasa dari Afrika juga belum banyak difilmkan. Walaupun begitu, ternyata pemilihan aktor dan aktris kulit hitam di Bridgerton bisa memuaskan saya.

Period Drama nan Glamor

Queen Charlotte (Golda Rosheuvel) di Bridgerton: Season 1. ©2020 Netflix
Queen Charlotte (Golda Rosheuvel) di Bridgerton: Season 1. ©2020 Netflix

Kalau mau bicara soal sinematografi, saya cuma bisa membandingkannya dengan period drama sejenis yang sudah pernah saya tonton. Dikomparasi dengan Pride and Prejudice atau Outlander, misalnya. Bagi saya, Bridgerton ini masih kalah artistik.

Bridgerton lebih menonjolkan sisi glamor dari era Regency dengan kostum, properti, dan latar London kelas atas di masa lalu. Berbeda dengan Pride and Prejudice dan Outlander yang lebih banyak menampilkan latar pedesaan dan kostum-kostum sederhana berwarna kusam.

Meskipun para kreatornya menyewa ‘pakar’ untuk menciptakan show yang cukup akurat, saya rasa masalah utamanya ada di aktor dan aktrisnya. Di sini saya bukan bicara soal warna kulit, tapi mannerism para aktornya yang menurut saya kelihatan terlalu modern. Ini terlihat paling jelas pada Claudia Jessie dan Bridgerton’s sibling lainnya.

Pemilihan Aktor dan Aktris Bridgerton: Season 1

Simon dan Daphne di Bridgerton: Season 1. ©2020 Netflix
Simon dan Daphne di Bridgerton: Season 1. ©2020 Netflix

Pemilihan Rege-Jean Page (Simon), Adjoa Andoh (Lady Danbury), dan Golda Rosheuvel (Queen Charlotte) itu pas sekali menurut saya. Terutama Rege-Jean Page yang memang ganteng sekali dan berwibawa sebagai seorang duke muda. Khusus karakter Queen Charlotte—sebenarnya tidak diceritakan di buku—saya menyukai tokoh ini karena kreatornya sengaja ‘bermain-main’ dengan kontroversi seputar ras Ratu Charlotte yang asli. Mungkin kalian sudah pernah dengar tentang isu bahwa Ratu Charlotte adalah keturunan kulit hitam.

Ternyata saya sama sekali tak bermasalah dengan diversed casts yang disodorkan serial ini ke penontonnya. Chemistry antarkarakternya juga bagus. Terutama Simon dan Daphne yang jadi fokus cerita di season pertama ini.

Phoebe Dynevor, pemeran Daphne cantik banget. Karakternya dirombak dari perempuan agak tomboi yang nggak cantik-cantik amat menjadi lady yang sempurna. Persoalan yang dia hadapi kurang lebih sama. Kalah pamor di ajang pencarian jodoh—meskipun untuk alasan yang berbeda—tuntutan untuk menjadi contoh bagi adik-adiknya, dan insecurity akibat suami yang dia pikir tak menginginkannya.

Saya suka sekali sama crooked smile Luke Thompson yang memerankan Benedict Bridgerton, meskipun menurut saya dia lebih cocok memerankan Colin. Latar belakang cerita buat karakter ini juga dibuat bagus, meskipun berbeda dengan buku.

Menurut saya, pemilihan Nicola Coughlan (Penelope) , Luke Newton (Colin), dan Jonathan Bailey (Anthony) juga sangat pas. Anthony sama annoying-nya dengan karakter dia di buku. Tapi nggak apa-apa, nanti karakternya bakal berkembang.

Kekurangpuasan saya mungkin cuma di pemilihan Claudia Jessie dan Ruth Gemmell sebagai Eloise dan Lady Bridgerton. Akting Jessie agak berlebihan menurut selera saya. Walaupun begitu, saya akui chemistry Eloise dan Benedict di layar memang bagus. Sementara Lady Bridgerton-nya jadi kalah aura dari Lady Featherington (Polly Walker). Mungkin malah lebih cocok kalau Polly Walker memerankan Lady Bridgerton.

Saya sangat tidak bersimpati pada Marina Thompson, karena karakternya sangat berbeda dari bukunya. Menurut saya, terlalu cepat kalau tokoh ini muncul di season pertama. Lalu, entah kenapa Colin dibikin jatuh cinta ke Marina juga. Saya rasa ini benar-benar mengsle dari esensi karakter Colin di buku.

Siap untuk Romansa Bridgerton Selanjutnya?

Para pemain utama Bridgerton: Season 1. ©2020 Netflix

Interaksi seluruh keluarga Bridgerton masih semenarik novelnya. Garis besar cerita Daphne dan Simon juga masih tetap sama.

Sex scenes-nya sebanyak, ‘sepanas’, dan ‘sekaya’ bukunya. Bisa di segala tempat gitu, ya. 😂 Kalau Bridgerton benar-benar diproduksi sampai 8 season, berarti kita harus menunggu sampai pemeran Gregory dan Hyacinth cukup umur, ya. Karena apalah artinya romansa Bridgerton tanpa adegan panas.

Intinya, hampir semua hal yang kita sukai dari book series-nya tak ditinggalkan. Tontonan Netflix original ini cukup menghibur untuk ditonton 2—3 kali. Lagipula, jumlah episodenya cuma 8. Ditonton semalam suntuk juga kelar. Sayangnya, identitas Lady Whistledown sudah ketahuan dari akhir season 1.

Sebagai pembaca book series-nya, saya paling menikmati cerita Colin-Penelope dan Francesca-Michael. Namun sebagai penonton Netflix series-nya, saya sangat menantikan cerita Benedict-Sophie, Anthony-Kate, dan Colin-Penelope. Sementara ini, kita cuma bisa menunggu Anthony dan Kate menceritakan kisah mereka di bulan Maret 2022 nanti.

Ada apa dengan lebah yang terus-terusan muncul di beberapa adegan? Nah, story arc Anthony nanti akan memberikan jawabannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.