[Review Film] The Perks of Being a Wallflower (2012), Drama Apik Tentang Perjalanan Menuju Kedewasaan

THE PERKS OF BEING A WALLFLOWER

Sepertinya ini adalah minggu film buat saya. Ada 6 film yang saya tonton minggu ini. Saya menemukan beberapa judul yang bagus. Bukan jenis film yang bikin banyak mikir seperti Number 23 atau Beautiful Mind. Saya sedang tidak bernafsu dengan tontonan seperti itu. Beberapa film bagus yang saya tonton kebetulan diadaptasi dari buku. Dan karena itu bisa saya bahas di blog ini.

Di postingan kali ini saya akan membahas The Perks of Being a Wallflower. Film yang diangkat dari buku berjudul sama karya Stephen Chbosky. Sutradara dan penulis screenplay filmnya juga Chbosky sendiri.

Ini adalah film coming of age yang mengusung tema gangguan kejiwaan dengan sedikit humor sinis. Jenis film yang membuat kita tersentuh dan lalu ingin tersenyum di bagian akhir. Menurut saya cocok ditonton saat sedang down atau sedih.

Film berlatar tahun 90-an ini diceritakan dari sudut pandang Charlie (Logan Lerman), seorang murid kelas 1 SMA yang menjadi ‘alien’ di sekolah. Charlie diperlakukan demikian setelah dia keluar dari pusat rehabilitasi untuk gangguan kejiwaan. Dia menderita depresi akut karena sahabatnya bunuh diri.

Untungnya Charlie berkenalan dengan Patrick (Ezra Miller), teman sekelasnya. Patrick adalah murid senior yang kebetulan mengulang salah satu kelas bersamanya. Dia pemuda yang iseng, seru, dan benar-benar ramah. Patrick punya seorang saudara tiri, Sam (Emma Watson) yang cantik dan tak kalah gilanya. Keduanya memiliki geng berisi anak-anak tidak populer yang mereka sebut sekumpulan wallflower. Ada Mary Elizabeth yang anak punk pemeluk Buddha. Ada Alice yang anak orang kaya tapi kleptomania. Lalu apa ‘keistimewaan’ Patrick dan Sam yang membuat mereka pantas berada di dalam kelompok ini? Charlie adalah gay dan dia menjalin hubungan diam-diam dengan Brad, si bintang futbol sekolah. Sementara Sam terkenal sebagai cewek gampangan di antara para senior.

The Perks of Being a Wallflower
The Perks of Being a Wallflower

Suatu hari Patrick dan teman-temannya mengadakan pesta khusus anak-anak tak populer di sekolah. Dan begitu mendengar kalau Charlie baru sembuh dari depresi, mereka langsung menerimanya dengan tangan terbuka.

Cerita berkembang dengan pergulatan batin yang dialami ketiga tokoh sentral di dalam poster film. Charlie dan trauma masa kecil serta perasaannya terhadap Sam. Sam dengan kecenderungannya memilih pria yang tak pernah menghargainya. Sementara yang paling kasihan adalah Patrick. Hubungannya dengan Brad ketahuan. Setelah dipukuli oleh ayahnya, Brad memutuskan untuk bersikap dingin kepada Patrick. Dia bahkan mengejek Patrick gay di depan seisi sekolah.

The Perks of Being a Wallflower
The Perks of Being a Wallflower. Photo credit: IMDB

Pada akhirnya ketiga tokoh ini berhasil mengatasi masalah masing-masing dan menjadi pribadi yang lebih dewasa. Segalanya berangsur membaik seiring berjalannya waktu dan kita pun sebagai penonton jadi ikut merasa optimis.

The Perks of Being a Wallflower. Photo credit: Goodreads
The Perks of Being a Wallflower. Photo credit: Goodreads

Meskipun saya belum pernah membaca bukunya, saya dengar buku ini sempat dilarang beredar di Amerika Serikat karena menampilkan seks, penyalahgunaan narkoba, dan hal-hal asusila lainnya secara eksplisit. Padahal ini adalah cerita tentang remaja. Mungkin kebanyakan penonton juga mengharapkan lebih banyak angst di dalam film ini. Tetapi kita tidak akan menemukan sesuatu yang bisa disebut vulgar di dalam film ini.  Tetapi tampaknya Chbosky memang tidak berniat untuk menonjolkan hal tersebut.

Dari segi akting, menurut saya Lerman memerankan karakter Charlie dengan baik. Sikap canggung dan lugunya terasa benar-benar nyata.

Emma Watson juga tampak meyakinkan sebagai Sam. Aksen Inggrisnya masih sedikit terdengar, tetapi menurut saya aktingnya jauh lebih bagus daripada saat memerankan Hermione Granger. Seperti Charlie, saya pun ikut naksir kepada tokoh Sam yang diperankannya.

Tetapi yang menurut saya paling mengesankan adalah Ezra Miller. Gara-gara film ini saya jadi kepincut kepadanya. Dia menunjukkan kualitas yang hebat sebagai Barry Allen aka The Flash di Justice League. Tetapi aktingnya sebagai Patrick yang berjiwa bebas namun insecure juga memikat. Dan menurut saya Miller sedikit mirip dengan Ed Westwick, tetapi lebih jangkung.

Saya penasaran kenapa dia kelihatan tinggi sekali di film ini. Selama ini saya berpikiran kalau Ezra Miller itu pendek. Pasalnya dia terkesan ‘mini’ di dekat Henry Cavill (Superman). Padahal menurut saya Cavill itu sudah pendek. Sebuah asumsi keliru gara-gara saya membandingkan tinggi tubuhnya dengan Armie Hammer dan Elizabeth Debicki di film Men From UNCLE.

Justice League (2017)
Justice League (2017)

Ternyata Henry Cavill itu tingginya 185 cm. Dia kelihatan pendek karena bersanding dengan Debicki (190 cm), Hammer (196 cm), Jason Mamoa aka Aquaman (193 cm), Ben Affleck (192 cm), dan Ray Fisher aka Cyborg (191 cm). Dan Ezra Miller dengan tinggi badan 180 cm jelas bukannya pendek.

Gara-gara Patrick-nya Miller, saya jadi memutuskan untuk menonton film-filmnya yang lain. Dan kemungkinan besar saya memang akan membahasnya lagi di ulasan Fantastic Beasts and Where To Find Them atau We Need To Talk About Kevin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.