[Review Buku] Dunia di Kepala Alice dan Kisah-Kisah Lainnya

Jadi, Dunia di Kepala Alice ini sudah saya beli lebih dari sepuluh tahun lalu, dan baru  saya baca sekitar enam atau delapan tahun lalu. Waktu itu, saya belum terlalu menikmati cerita yang dituturkan dengan metafora. Karena kesan saya setelah baca ulang bagus, coba review boleh kali.

Dunia di Kepala Alice. ©2006 Gramedia Pustaka Utama

Judul: Dunia di Kepala Alice dan Kisah-Kisah Lainnya
Penulis: Ucu Agustin
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 135 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2006)
Genre: fiksi, kumpulan cerita pendek

Cerita

Taken from Goodreads:

Kumpulan cerpen Dunia di Kepala Alice berisi sebelas cerpen yang memadukan style dongeng dengan ‘tema-tema zaman sekarang’, seperti child abuse, homoseksualitas, dan cinta di luar kelaziman. Dalam cerpen “Origins”, Ucu menulis tentang cinta antara manusia dengan alien dari Planet Jupiter. Cerpen “Penelan Cahaya” berkisah tentang cinta terlarang antara saudara kandung. Sementara dalam “Amoretti, Kisah Labu Ungu yang Jatuh Cinta pada Serigala”, Ucu mengisahkan seorang eks gay yang berubah menjadi nekrofil. Lalu dalam cerpen “Giring Angin”, ia bercerita tentang angin yang jatuh cinta pada perempuan yang mencuci di pinggir kali.

Keindahan berbahasa ditampilkan oleh Ucu dengan pemakaian metafora-metafora yang puitis. Dalam cerpen “Ismail Penjahit Hati”, misalnya, tokoh Ismail diceritakan memiliki benang dari pintalan ludah laba-laba untuk menjahit hati yang luka karena cinta. Contoh lain, dalam meng-gambarkan seorang lesbian, Ucu menulis lelaki yang menetas di tubuhku (dalam cerpen yang berjudul sama).

Selain bereksperimen dengan bebas dalam penggarapan tema, tokoh, alur cerita, dan berbahasa, Ucu juga bereksplorasi dalam bentuk. Cerpen “Penelan Cahaya” dan “Mengapa Kau Menari, Pierr?” menampilkan bentuk narasi yang unik.

Kumpulan cerpen Dunia di Kepala Alice menyodorkan kepada pembaca sebuah perjalanan ke negeri dongeng dengan cita rasa masa kini.

2 Points for:

 Story
 Setting
 Characterization
Writing style
 Moral/interesting trivia

Level of Interest

heart 4

Review

Jujur, saya belum bisa menikmati cerita yang agak surealis begitu dalam bentuk novel. Paling banter cuma kumpulan cerpen begini. Baca Semua Ikan di Langit punya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie pun nggak paham-paham.

Sepertinya, model cerita yang menggunakan metafora baru memikat saya saat membaca Sepotong Kue Kuning di antologi cerita Filosofi Kopi. Saya juga sangat terkesan pada Bao, film pendeknya Disney-Pixar yang baru-baru ini saya tonton. Bahkan, gara-gara Bao ini juga saya memutuskan untuk baca ulang Dunia di Kepala Alice.

Ternyata, kumpulan cerpen ini seru juga buat dibaca. Selain banyak metafora, cerita-cerita di dalamnya juga dituliskan layaknya dongeng puitis. Terdengar indah dan imajinatif, tapi bagi saya tak terlalu mendakik-dakik. Pasalnya, Ucu Agustin tak berusaha menyelipkan pesan moral tertentu, apalagi mencoba menggurui pembacanya.

Walaupun dibahasakan seperti dongeng, tentu ini bukan cerita untuk anak-anak. Tema yang diusung cukup dewasa dan ‘gelap’. Mulai dari mental disorder, self-harm, inses, sampai pelecehan seksual terhadap anak.

“Vacuum Cleaner”

 

ilustrasi vacuum cleaner. Pixnio
ilustrasi vacuum cleaner. © Pixnio

Saya paling suka cerita pertama, “Vacuum Cleaner”. Ini adalah jenis cerita yang biasa saya sebut ‘berlapis’. Setiap kali baca bisa muncul penafsiran yang berbeda. Bisa diartikan sebagai alegori pembunuhan, penuturan tentang keluarga disfungsional dari sudut pandang seorang anak berkebutuhan khusus, atau kisah panjang dari seorang penderita schizophrenia. Terserah pembaca mau menafsirkan seperti apa.

“Dunia di Kepala Alice”

Ini adalah cerita utama yang dijadikan judul antologi cerpennya. Seperti dongeng Alice in Wonderland versi Tim Burton, kisah Alice yang satu ini juga suram.

Secara tersirat, “Dunia di Kepala Alice” mengisahkan gadis dengan mental disorder yang punya kecenderungan self-harm. Makin miris, karena ada pelecehan seksual terhadap anak juga di dalamnya.

“Origins”

Cerpen yang satu ini agak unik. Ceritanya tentang perempuan yang sempat diculik dan dihamili oleh alien dari planet Jupiter. Menurut saya, cerita ini bisa juga ditafsirkan sebagai bentuk gangguan kejiwaan.

Bisa jadi si perempuan di dalam cerita mengalami depresi karena diperkosa hingga hamil. Lalu, ia mengubah ingatannya tentang kejadian naas tersebut menjadi kisah diculik alien sebagai coping mechanism.

“Giring Angin”

ilustrasi genta angin © pixabay.com/morn_japan

Cerpen ini dituturkan layaknya kisah Boreas, sang dewa angin utara dalam mitologi Yunani yang menghamili Orithyia dalam bentuk embusan angin. Separuh bagian pertama menceritakan kelahiran Giring Angin yang disebut berayah angin. Kalau ada metafora di baliknya, saya tidak bisa menangkap artinya.

Separuh bagian berikutnya menceritakan Giring Angin sebagai pemuda desa  yang bermimpi meraih kesuksesan di kota. Seperti kebanyakan cerita tentang anak rantau di film Indonesia, Giring Angin pun tergerus kejamnya kota.

“Ismael, Penjahit Hati”

Lalu, ada “Ismael, Penjahit Hati” yang terasa seperti sebuah legenda dari negeri seberang. Tentu Ismael yang menyembuhkan luka hati dengan benang halus pintalan laba-laba adalah metafora dari cara manusia menyembuhkan hati yang terluka alias self-healing.

Dongeng panjang tentang Ismael si penjahit hati hanyalah intro, pembuka kisah dari seorang pria yang hatinya patah hingga tak tertolong lagi. Pasalnya, kekasih yang berjanji untuk menemuinya tewas dalam ledakan Bom Bali II. Ia meratapi kematian kekasihnya dan bertanya, “Tapi ke mana aku harus mencari Ismael?”

“Kisah tentang Seorang Perempuan yang Bertemu Roh, Semalam”

Cerpen ini terasa paling berbeda, karena paling tipis dan tidak bisa saya multitafsirkan. Bagi saya, keseluruhan cerita tentang perempuan yang ingin dirasuki roh ini adalah alegori dari perempuan yang ingin meraih kebahagiaan di masa mudanya. Ia menempuh perjalanan spiritual karena ingin menjadi manusia yang melihat dunia dengan kegembiraan seperti dulu, tapi menyadari kalau hal yang telah berlalu tak bisa kembali. Cerita pun ditutup dengan keikhlasan untuk menerima keadaan di ujung perjalanan.

“Penelan Cahaya”

ilustrasi cahaya © unsplash.com/Elia Pellegrini

Kali ini ada cerita inses yang dituturkan dari sudut pandang seorang kakak perempuan. Ia menceritakan adik lelakinya yang seorang musisi tenar dan jatuh cinta kepadanya, layaknya Apollo yang tergila-gila kepada Daphne.

Dalam cerita ini, Ucu Agustin beneran menyebutkan beberapa tokoh dari mitologi Yunani. Sementara ‘menelan cahaya’ yang dimaksud di sini adalah high gara-gara narkoba.

“Lelaki yang Menetas di Tubuhku”

Ini adalah kisah tentang seorang lesbian yang menyadari kecenderungan seksualnya berkat suatu peristiwa di masa kecil. Diceritakan dari sudut pandang orang pertama dan diakhiri dengan pertanyaan, kenapa hanya jenis kelamin hanya dibagi jadi dua?

“Mengapa Kau Menari, Pierr?”

Nah, kali ini cerita tentang seorang male stripper biseksual dan dua kekasihnya, Selena dan Ahmad. Keduanya sama-sama meminta Pierr settled (entah dengan berumah tangga atau tinggal bersama). Walaupun begitu, Pierr tak memilih siapa pun dan tetap menjadi penari erotis, karena ia pun masih belum tahu apa yang dicarinya dalam hidup.

“Indigo”

Cerita yang satu ini juga tidak terlalu metaphoric kalau dibandingkan cerpen yang lain. Benar-benar tentang seorang anak indigo bernama Lucy. Seperti gadis di cerpen “Firasat” di antologi Rectoverso, Lucy juga bisa merasakan jika seseorang di dekatnya akan segera meninggal. Poin utamanya bukan pada metafora, tapi pada plot twist di akhir cerita.

“Amoretti, Kisah Labu Ungu yang Jatuh Cinta pada Serigala”

Terakhir, ada asmara platonis online antara dua pria yang berakhir tragis. Tentu saja diceritakan dengan gaya fabel si kancil yang mencuri wortel.

‘Serigala’ memutuskan untuk menikah dengan perempuan dan mengakhiri ‘pertemanannya’ dengan ‘Labu Ungu’. ‘Labu Ungu’ yang patah hati pun bunuh diri, meninggalkan pria satunya yang hanya bisa meratap.

Pria beristri itu menyesali diri, karena baru menyadari perasaannya saat semua sudah terlambat. Ia patah hati dan gila, hingga merasakan keinginan untuk menyetubuhi jasad pria yang dicintainya.

Nah, memang segitu twisted cerita-cerita di dalam antologi cerpen Dunia di Kepala Alice. Saya suka sekali. Sayangnya, saya juga baru menyadari pesona buku ini setelah Alice dan kawan-kawan mengendap bertahun-tahun di tumpukan koleksi bacaan saya. Dilihat dari sedikitnya review di Goodreads, tampaknya buku ini juga kurang diminati. Sayang juga, ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.