Highland Scandal (Scandalous Series #2)

Highland Scandal

Judul: Highland Scandal – Kemelut Asa Si Pencuri Hati
Penulis: Julia London
Penerbit: Oak Tree
Tahun Penerbitan: 2011
Genre: Adult, historical romance
Setting: Skotlandia (Inggris), London (Inggris) – 1870

Cerita

Jack Haines, Earl of Lambourne dituduh memiliki skandal dengan Princess Caroline of Brunswick dan menghadapi tuntutan hukum yang sangat berat dari suami sang puteri, Prince of Wales. Jack harus melarikan diri dari kejaran anak buah sang pangeran ke tanah kelahirannya, Skotlandia. Sialnya, Jack justru ditawan oleh seorang tuan tanah dan diancam agar mau menikahi keponakannya, Lizzie Beal. Lizzie dipaksa menikah dengan Jack untuk melunasi ‘hutangnya’ pada sang paman. Akhirnya Jack dan Lizzie menjalani kawin kontrak selama setahun sehari, yang dipandang Jack sebagai pilihan lebih baik daripada digantung di pengadilan istana. Tapi pernikahan itu ternyata adalah kesalahan besar, karena si cantik Lizzie merupakan istri yang sangat sulit. Mereka berdua saling membenci dan tak sabar untuk segera mengakhiri kontrak. Tapi pertengkaran demi pertengkaran, dan interaksi hari demi hari justru membangkitkan ketertarikan di antara mereka.

Para Tokoh

Jack Haines, Earl of Lambourne

Bangsawan Skotlandia yang menikmati hidupnya dengan hura-hura di London. Sepintas Jack tampak terlalu santai, tapi saat dibutuhkan ternyata dapat diandalkan.

Elizabeth ‘Lizzie’ Beal

Lizzie dan kakaknya yang lumpuh hidup sebatang kara. Ia memiliki sifat keras kepala dan emosional. Lizzie membenci Jack karena menganggapnya menghalangi hubungan Lizzie dengan kekasihnya.

1 Poin Untuk:

check signGood Story/Idea

cross signGood writing style

cross signWell-developed characters

cross signAdditional information/message

Level of Interest

heart rate12

Another Bad HR From Julia London

Scandalaous series buku kedua ini mengusung kisah Jack, sahabat Nathan, Earl of Linsey dari buku sebelumnya. Dalam buku pertama Jack diceritakan tersangkut skandal yang sebenarnya keliru dengan puteri mahkota. Pelarian Jack ke Highland/Skotlandia justru membuatnya terjebak dalam pemerasan oleh seorang tuan tanah yang ternyata masih satu klan dengannya.

Buku ini menawarkan premis yang menarik, begitu pula excerptnya yang terdapat di bagian belakang The Book of Scandal. Karena itu aku berekspektasi lebih pada buku ini. Sayangnya buku ini ternyata bahkan lebih buruk daripada The Book of Scandal yang tidak kunikmati. Sekali lagi Julia London menyuguhkan pertengkaran demi pertengkaran tak penting yang membuatku enggan untuk meneruskan membalik halaman. Apalagi hal-hal yang diperdebatkan sangat konyol. Mulai dari gambut kering, gaun butut, sampai bonnet. Ini adalah love-hate relationship paling menyebalkan yang pernah aku temui dalam HR.

Selain itu, Lizzie si heroine terasa begitu dangkal dan kasar hingga membuatku sebal sekali kepadanya. Heroine HR selalu digambarkan sebagai pribadi yang keras kepala, angkuh, kadang juga disertai sifat liar, tapi selalu mengundang simpati pembaca. Sayangnya karakter Lizzie yang gemar menyumpah dan marah di saat-saat yang tak tepat ini sama sekali tidak simpatik. Jack sendiri juga tak jauh berbeda. Di buku pertama dia tampak seperti karakter yang menjanjikan dengan sikap malas mempesona dan rake charm-nya yang mengingatkan pada Sebastian St. Vincent dan Gavin Byrne. Tapi di buku ini pesonanya memudar sedemikian rupa hingga ia terlihat seperti playboy narsistik biasa. Dan rasanya konyol saja membaca Jack yang sepertinya terlalu gampang terpancing untuk berkelahi. Yah, maksudku dia bahkan tak berkelahi untuk hal-hal yang berguna.
Ah, intinya ini adalah buku yang paling mengecewakan dari sebuah serial yang mengecewakan. Dengan gaya penulisan yang lumayan dan ide cerita yang sebenarnya bisa jadi bagus tapi dihancurkan oleh karakter-karakternya dan dialog-dialog tak penting. Dan sebenarnya aku jarang berpendapat senegatif ini karena unsur Historicalnya biasanya sudah menjadi pin plus bagiku. Sepertinya ini akan menjadi kali terakhir aku membaca karya-karya Julia London.

The Black Pudding

black puddingBuku ini tak memberikan pengetahuan apapun bagiku. Tapi ada satu hal kecil yang menarik perhatianku. Ya, black pudding. Dalam salah satu scene diceritakan kalau Jack dan Lizzie sarapan dengan berbagai menu, salah satunya black pudding. Aku pernah membaca di satu majalah kalau black pudding adalah salah satu menu sarapan tradisional khas Inggris, tepatnya daerah Irlandia dan Skotlandia yang sekarang sudah mulai jarang ditemui. Meskipun namanya terdengar seperti puding blackberry atau puding kopi, sebenarnya black pudding adalah semacam sosis yang terbuat dari darah babi atau kambing dikeringkan. Disebut juga blood sausage, makanan yang mirip didih di Jawa ini berwarna cokelat saat belum dimasak dan berubah menjadi kehitaman ketika sudah matang.

Disgusting? Yup. Tampaknya Inggris memang bangsa barat yang memiliki selera makanan seabsurd orang Asia. Jadi ingat ‘pankreas anak sapi yang digoreng lembut’ di It Happened One Autumn. Uh, yuck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.