[Review Buku] Born to Be Wilde (The Wildes of Lindow Castle #3)

Judul: Born To Be Wilde (The Wildes of Lindow Castle #3)
Penulis: Eloisa James
Bahasa: Indonesia
Format: ebook, 384 hal.
Penerbit: Avon (2018)
Genre: fiksi, historical romance, drama

Cerita

Dikutip dari Goodreads:

The richest bachelor in England plays matchmaker…for an heiress he wants for himself!

For beautiful, witty Lavinia Gray, there’s only one thing worse than having to ask the appalling Parth Sterling to marry her: being turned down by him.

Now the richest bachelor in England, Parth is not about to marry a woman as reckless and fashion-obsessed as Lavinia; he’s chosen a far more suitable bride.

But when he learns of Lavinia’s desperate circumstances, he offers to find her a husband. Even better, he’ll find her a prince.

As usual, there’s no problem Parth can’t fix. But the more time he spends with the beguiling Lavinia, the more he finds himself wondering…

Why does the woman who’s completely wrong feel so right in his arms?

2 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

 

Level of Interest

 

Born To Be Wilde
Born To Be Wilde (The Wildes of Lindow Castle #3)

Review

Sebenarnya saya paling malas sama sampul buku bergambar mas-mas sumuk begini. Jadi mohon maaf kalau nggak saya pakai sebagai featured image.

Born To Be Wilde ini termasuk karya yang cukup baru dari Eloisa James. Seri terakhir James yang saya baca adalah Fairy Tales, itu pun baru empat buku plus dua novella. Masih ada Once Upon a Tower yang belum saya baca. Sebelum buku ini, ada Wilde in Love dan Too Wilde to Wed yang juga belum saya baca. Tapi kalau dari rating di Goodreads, kelihatannya  buku keempat, Say No to The Duke lebih menjanjikan daripada buku pertama dan kedua.

Born To Be Wilde ini menceritakan Parth, karakter yang kurang lebih mirip dengan Lucius Felton di Much Ado About You (Essex Sisters #1). Bukan seorang bangsawan, tetapi berhasil meraih status sebagai pria terhormat lewat kekayaan yang dikumpulkan dari nol.

Sang heroine, Lavinia bahkan lebih tipikal lagi. Serasa Annabelle Peyton, Annabel Essex, dan sederet tokoh perempuan dengan kecantikan luar biasa tapi insecure yang jadi favorit historical romance. Jujur saya lebih menyukai karakter dengan penampilan yang tidak terlalu mencolok, tetapi memiliki kualitas diri menarik seperti para heroine dari Bridgertons-nya Julia Quinn. Rasanya lebih simpatik dan relatable buat pembaca.

Sementara alur ceritanya sendiri mengambil formula yang sama dengan Devil In Winter karya Lisa Kleypas. Seorang lady yang kepepet sehingga nekat ‘tembak’ langsung si tokoh utama pria demi jalan keluar instan dari masalahnya. Tentu saja langkah gegabah ini justru membuat tokoh utama pria mundur. Lalu dari sanalah konflik terbentuk dan chemistry mulai tumbuh.

Born To Be Wilde ini nggak pakai multiple leads seperti kebanyakan cerita Eloisa James. Ada second leads, yaitu Betsy dan Jeremy. Tapi kehadiran mereka cuma buat perkenalan untuk buku selanjutnya, Say No to The Duke di mana keduanya menjadi karakter utama.

Secara keseluruhan, saya anggap buku masih enak dinikmati. Bisa dibaca sekali jalan, karena alurnya tidak terlalu lambat juga. Tetapi tidak ada sesuatu yang baru untuk ditawarkan. Bisa dikatakan, Born To Be Wilde ini tertolong karena chemistry di antara Lavinia dan Parth. Sementara kisah Betsy dan Jeremy justru lebih sukses dalam menarik minat saya untuk membaca buku selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.