[Review Buku & Film] Rita Hayworth and Shawshank Redemption

Shawshank Redemption. Photo: Castle Rock Entertainment (1994)

Pada postingan kali ini saya ingin membahas soal film terfavorit saya yaitu The Shawshank Redemption. Sekalian mengulas cerita orisinalnya yang berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption.

Shawshank ini adalah satu-satunya film yang saya tonton hampir setiap bulan, sekaligus satu-satunya cerita di antologi Different Seasons yang saya baca. Menulis ulasan untuk judul ini lumayan susah. Pasalnya saya nggak kepingin menulis review setengah hati untuk karya sebagus ini.

Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Photo: Viking Press
Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Photo: Viking Press

Judul: Rita Hayworth and Shawshank Redemption
Penulis:
Stephen King
Bahasa:
Inggris
Format:
ebook,112 hal.
Penerbit:
Viking Press
Genre:
fiksi, drama, novella

Cerita

Dikutip dari Goodreads:

Andy Dufresne, a banker, was convicted of killing his wife and her lover and sent to Shawshank Prison.

He maintains his innocence over the decades he spends at Shawshank during which time he forms a friendship with “Red”, a fellow inmate.

***

In The Shawshank Redemption, a man convicted of a bloody murder lives in a prison brutally ruled by a sadistic warden and secretly run by a con who knows all the ropes and pulls all the strings.

He has more brains than anyone else in the sinister slammer, and has a diabolically cunning plan of revenge that no one can guess until it’s far too late.

5 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

 

Level of Interest

 

Review (Buku)

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, The Shawshank Redemption diadaptasi dari novella karya Stephen King yang dipulikasikan di dalam antologi cerita pendek Different Seasons. Namun karena kepopuleran filmnya, sekarang judul ini juga diterbitkan sebagai cerita yang berdiri sendiri.

Namanya juga novella, Rita Hayworth and Shawshank Redemption kelewat panjang untuk disebut cerpen. Namun jumlah halamanya sendiri cuma seratusan lebih.

Saya tidak ingin membahas detail ceritanya yang kurang lebih sama dengan film. Tapi saya akan mencoba menyoroti beberapa perbedaan cerita orisinal dan versi filmnya. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Ellis Boyd ‘Red’ Redding yang diperankan Morgan Freeman aslinya adalah seorang pria Irlandia berkulit putih dengan rambut kemerahan.

2. Menurut cerita aslinya, kejahatan yang membuat Red mendekam di Shawshank sebenarnya jauh lebih sadis.

3. Andy Dufresne adalah pria bertampang biasa dengan tubuh kecil, bukannya pria ganteng setinggi 196 cm seperti Tim Robbins.

“When Andy came to Shawshank in 1948, he was thirty years old. He was short, neat little man with sandy hair and small, clever hands. He wore gold-rimmed spectacles. His fingernails were always clipped, and they were always clean.”

-Ellis Boyd ‘Red’ Redding-

4. Samuel Norton bukan satu-satunya kepala sipir yang muncul sepanjang cerita. Ada beberapa kepala sipir yang kemudian dilebur menjadi satu karakter di dalam filmnya.

5. Tommy tidak mati.

6. Kepala sipir Norton juga tidak mati, cuma ‘resign in disgrace

7. Bogs Diamond, pimpinan geng pemerkosa di Shawshank tidak dipindahkan dari Shawshank setelah dihajar penjaga sampai lumpuh. Dia bahkan tidak pernah keluar dari Shawshank sampai hari kematiannya. Cerita aslinya menyiratkan bahwa Andy menyewa preman penjara, bukan para penjaga untuk memberi pelajaran kepada Bogs.

8. Brooks Hatlen hanya muncul sekali di dalam cerita asli, tepatnya di dalam satu paragraf singkat. Namanya di novella adalah Sherwood Bolton dan burung peliharaannya, Jake adalah seekor merpati, bukan gagak.

9. Andy menjalani masa hukumannya di Shawshank lebih dari dua dekade, tidak seperti versi film di mana dia kabur setelah 19 tahun.

10. Tidak seperti filmnya, Rita Hayworth and Shawshank Redemption menggunakan open ending. Cerita di dalam novella berakhir saat Red berangkat untuk mencari Andy setelah menemukan suratnya. Tidak ada adegan jabat tangan di tepi Laut Pasifik segala.

***

Seperti kita ketahui bersama, Stephen King dikenal sebagai rajanya cerita horor. Karya-karyanya yang paling terkenal dan sampai dibuat film juga bergenre horor, antara lain The Shining, It, Carrie, Pet Sematary, The Mist, dan Children of The Corn.

Cerita Rita Hayworth and Shawshank Redemption mengambil genre yang berbeda, yaitu prison drama. Walaupun begitu, kita masih bisa menemukan ciri khas Stephen King di dalamnya. Apa itu? Kalau menurut pendapat saya, gaya King dalam mendeskripsikan karakter-karakternya cukup khas.

Misalnya saja saat menceritakan salah satu karakter antagonis di Shawshank, Kapten Byron Hadley. Alih-alih membuat pembaca bosan dengan sederet detail, King lebih memilih menggunakan cara berikut:

“For Byron Hadley, the glass was always half empty.

If you gave him a cool drink of apple cider, he’d think of vinegar. If you told him his wife had always been faithful to him, he’d tell you it was because she was so damn ugly.”

-Ellis Boyd ‘Red’ Redding-

Selain itu, King juga hampir selalu menggunakan Maine sebagai latar cerita. Maklum, si penulis memang kelahiran sana.

***

Shawshank Redemption. Photo: Castle Rock Entertainment (1994)
The Shawshank Redemption. Photo: Castle Rock Entertainment (1994)

Judul: The Shawshank Redemption
Diangkat dari: Rita Hayworth and Shawshank Redemption
Sutradara: Frank Darabont
Bahasa: Inggris
Tahun rilis: 1994
Produksi: Castle Rock Entertainment,
Genre: prison drama

Sinopsis (film)

The Shawshank Redemption is a 1994 American drama film written and directed by Frank Darabont, based on the 1982 Stephen King novella Rita Hayworth and Shawshank Redemption.

It tells the story of banker Andy Dufresne (Tim Robbins), who is sentenced to life in Shawshank State Penitentiary for the murders of his wife and her lover, despite his claims of innocence.

Over the following two decades, he befriends a fellow prisoner, contraband smuggler Ellis “Red” Redding (Morgan Freeman), and becomes instrumental in a money-laundering operation led by the prison warden Samuel Norton (Bob Gunton).

Level of Interest

 

Review (film)

Saya yakin sebagian besar orang sudah menonton The Shawshank Redemption. Kalaupun belum, paling tidak sudah pernah mendengar film ini masuk berbagai daftar film terbaik sepanjang masa. Dan menurut saya, semua puja-puji terhadap film ini memang layak diberikan.

The Shawshank Redemption adalah film dengan latar suram, tanpa aktris jelita atau seksi sebagai pemanis layar, atau bahkan tokoh utama dengan otot perut layaknya roti sobek. Tentu saja, film ini juga punya beberapa kekurangan yang nanti akan saya jabarkan. Tapi jalinan cerita dan akting apik para aktornya saja sudah cukup untuk menjadikan Shawshank sebagai salah satu film ‘terindah’ yang pernah dibuat.

Shawshank adalah film yang mengaduk emosi. Sebagai penonton, saya merasa tersentuh kepada hampir setiap karakter di film ini. Bahkan Norton dan Bogs yang notabene karakter antagonis pun punya sisi ironi di mata saya.

Red dan Andy menunjukkan level bromance yang sulit disamai. Dua karakter ini begitu berbeda dari segi fisik, umur, dan gaya berbicara. Kontak fisik seperti Sherlock dan John Watson juga sangat minim. Namun interaksi keduanya selalu sukses menyedot perhatian sepanjang film.

Andy Dufresne dan Ellis 'Red' Boyd Redding. Photo: Castle Rock Entertainment (1994)
Andy Dufresne dan Ellis ‘Red’ Boyd Redding. Photo: Castle Rock Entertainment (1994)

Saya paham kalau fokus utama film ini adalah redemption alias penebusan. Kalau mau, kalian bahkan bisa menemukan analisis panjang yang mengaitkan Shawshank dengan konsep penebusan dosa di Alkitab atau metafora kebangkitan Yesus Kristus. Namun bagi saya, Shawshank adalah film tentang persahabatan Ellis Boyd ‘Red’ Redding dan Andy Dufresne.

Seperti biasa, Morgan Freeman menunjukkan karismanya yang luar biasa sebagai aktor. Freeman punya suara berkarakter yang bisa menghidupkan cerita hanya dengan voice-over. Interpretasinya terhadap karakter Red sangat kuat, terutama sebagai mantan napi berusia senja yang kesulitan beradaptasi di dunia luar. Saya beneran ikut mewek setiap menonton ekspresinya setelah membaca surat Andy.

Tim Robbins yang kala itu masih ganteng-gantengnya juga membawakan karakter Andy Dufresne dengan bagus. Dia ini jenis karakter protagonis yang terlalu ‘putih’, sehingga biasanya membosankan. Namun Andy dengan keunikan pribadi dan segala kebaikan yang dibawanya ke Shawshank menjadikan dirinya karakter yang memikat.

Film tentang Ketabahan dan Integritas pada Masa Tersulit

Bagi saya Shawshank adalah film yang mengajarkan ketabahan, harga diri, dan kemauan untuk bertahan di saat-saat tersulit. Karena semua orang mengalami yang namanya masa sulit. Tinggal bagaimana cara menghadapinya saja. Seperti kata Andy kepada Red:

“Get busy living, or get busy dying.”

-Andy Dufresne

Quote di atas terepresentasikan oleh Brooks dan Red setelah dilepas ke masyarakat. Setelah puluhan tahun menghabiskan hidup di penjara, menjalani hidup sebagai manusia bebas di luar tembok Shawshank terasa begitu menakutkan bagi keduanya.

“Forty years I been asking permission to piss. I can’t squeeze a drop without say-so.”

-Ellis Boyd ‘Red’ Redding-

Namun Brooks dan Red menghadapinya dengan cara yang bertolak belakang. Kalau diperhatikan lagi, Frank Darabont menyuguhkan adegan demi adegan Red dan Brooks setelah dibebaskan secara identik. Namun saat naik bus, Red dan Brooks didudukkan di baris kursi yang berseberangan. Saya rasa adegan itu juga bisa menjadi simbol atas jalan berbeda yang mereka pilih.

Brooks Hatlen. Photo: Castle Rock Entertainment (1994)
Brooks Hatlen. Photo: Castle Rock Entertainment (1994)
Ellis 'Red' Boyd Redding. Photo: Castle Rock Entertainment (1994)
Ellis ‘Red’ Boyd Redding. Photo: Castle Rock Entertainment (1994)

Pada akhirnya, adegan paling sarat makna bagi saya adalah saat Andy merangkak di pipa pembuangan sepanjang 457 meter. Kekuatan apa yang memberinya dorongan untuk melakukan hal segila itu? Jawabannya cuma satu, harapan.

“Remember Red, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies.”

-Andy Dufresne-

Film ini selalu sukses memberikan suntikan semangat saat saya merasa ingin menyerah dalam beberapa hal. Mungkin sebagian besar orang yang sudah menonton Shawshank juga berpendapat sama.

2 thoughts on “[Review Buku & Film] Rita Hayworth and Shawshank Redemption

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.