[Review Buku] Untaian Mestika Kisah-Kisah Termashyur I: Fabel-Fabel Sarat Pesan Moral

Untaian Mestika_Kisah-Kisah Termasyhur. Photo credit: Tira Pustaka

Akhirnya selesai juga hiatus blog ini. Seharusnya saya bikin postingan baru. Tapi masih malas menyelesaikan draft yang entah ada berapa itu. Jadi saya edit dan repost tulisan lama saja.

Kenapa pilih postingan ini? Karena saya masih gagal move on dari ilustrasi di buku-buku dongeng yang saya ulas ini. Kalau nggak salah karya Tony Wolf, ya. Saya potret dari bukunya yang sudah dimiliki sejak TK. Sampai sekarang masih awet dan disayang-sayang, meskipun halamannya sudah banyak yang rusak. Nah, saya kepingin pembaca lain juga bisa menikmati gambar-gambar bagus ini.

Judul: Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1
Penulis: Peter Holeinone (retold: Angela Rahaniotis)
Format: paperback, 16 hal.
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Tormont Inc. (Kanada), Tira Pustaka (Indonesia)
Tahun Penerbitan: 1994 (Indonesia)
Genre: fiksi, anak-anak, dongeng, fabel

Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tira Pustaka
Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tira Pustaka

Cerita

“Tikus dan Singa (The Lion & The Mouse)” oleh Aesop

ilustrasi dongeng "Tikus dan Singa" di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf
ilustrasi dongeng “Tikus dan Singa” di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf

Seekor singa mengampuni tikus yang membuatnya marah. Suatu saat singa itu terjebak dalam jerat. Tikus yang dulu ia tolong berniat membantunya, tapi singa ragu binatang sekecil itu bisa membebaskan dirinya.

Lalu, tikus menggigiti tali jaring pelan-pelan sampai putus dan singa terbebas. Kemudian singa berterimakasih kepada tikus.

Sidang para Tikus (Belling The Cat)” oleh Aesop

Para tikus berembuk untuk menemukan cara menyingkirkan kucing yang selama ini merongrong mereka. Salah satu tikus mengemukakan ide yang dianggap paling brilian, memasang giring-giring pada ekor si kucing agar para tikus dapat melarikan diri begitu suaranya terdengar.

Sayangnya, ide itu urung dilaksanakan karena tak ada satu tikus pun yang mau diserahi tugas memasang giring-giring.

“Pemain Musik Kota Bremen (Town Musicians of Bremen)” oleh Grimm Bersaudara

ilustrasi dongeng "Pemain Musik Kota Bremen" di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf
ilustrasi dongeng “Pemain Musik Kota Bremen” di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf

Seekor keledai yang disiksa majikannya, anjing kurus, kucing tua, dan ayam yang hendak disembelih melarikan diri bersama. Mereka berniat melamar pekerjaan sebagai musisi di kota Bremen. Namun mereka tersesat di tengah perjalanan, kelaparan, dan ketakutan karena sudah malam.

Tanpa sengaja, mereka menemukan pondok gerombolan pencuri yang tengah berpesta. Mereka mengintip para pencuri itu dari jendela.

ilustrasi dongeng "Pemain Musik Kota Bremen" di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf
ilustrasi dongeng “Pemain Musik Kota Bremen” di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf

Karena tergelincir, mereka semua jatuh menimpa jendela hingga kacanya pecah. Lentera ikut pecah hingga ruangan jadi gelap gulita.

Karena panik dalam kegelapan, empat binatang itu menyerang gerombolan pencuri dan membuat mereka ketakutan.

Para pencuri itu lari tunggang langgang meninggalkan rumah. Akhirnya, kawanan binatang tersebut tinggal di pondok dan hidup dengan harta peninggalan mereka.

Sapi dan Katak (The Frog and The Cow)” oleh Aesop

Pada suatu hari seekor sapi minum di kolam tempat tinggal para katak. Para katak kagum dengan tubuhnya yang sangat besar.

Seekor katak congkak merasa iri. Ia membual kepada temean-temannya kalau ia bisa menyamai ukuran tubuh si sapi.

ilustrasi dongeng "Sapi dan Katak" di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf
ilustrasi dongeng “Sapi dan Katak” di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf

Lalu, si katak congkak menghirup udara banyak-banyak untuk menggembungkan tubuhnya. Tubuhnya mengembang, tapi masih kalah besar dari sapi yang berukuran raksasa. Katak-katak lain menertawainya.

Katak congkak pun “panas”. Jadi, ia menghirup udara sekuat tenaga. Tubuhnya makin besar, terus membesar hingga meletus. Pada akhirnya, tak ada satu katak pun yang kagum kepadanya.

Semut dan Tonggeret (The Ant & The Cicada)” oleh Aesop

ilustrasi dongeng "Semut dan Tonggeret" di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf
ilustrasi dongeng “Semut dan Tonggeret” di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf

Seekor tonggeret melihat kawanan semut yang sedang sibuk mengangkut makanan. Ia mengajak mereka untuk beristirahat sejenak dan bernyanyi.

Para semut menolak dan lanjut bekerja. Tonggeret menertawakan mereka karena terlalu serius bekerja.

Para semut terus-menerus bekerja selama musim panas. Sementara itu, tonggeret hanya menghabiskan waktunya dengan bernyanyi.

Begitu musim dingin tiba, tonggeret kedinginan dan kelaparan. Ia mengetuk pintu rumah semut untuk meminta makanan dan tempat berteduh.

Kali ini giliran semut yang mengejeknya. Alih-alih memberikan makanan, ia menyuruh tonggeret menari untuk menghabiskan waktunya dengan menari.

Gagak yang Banyak Lagak (The Bird with Borrowed Feathers)” oleh Aesop

ilustrasi dongeng "Gagak yang Banyak Lagak" di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf
ilustrasi dongeng “Gagak yang Banyak Lagak” di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf

Seekor gagak merasa iri dengan keindahan bulu merak. Suatu hari, ia mengambil bulu-bulu merak yang tanggal.

Ditancapkannya bulu-bulu itu ke ekornya sendiri. Ia menyombongkan ekor barunya kepada teman-teman gagaknya.

Merak-merak mau berteman dengannya karena kasihan. Mereka menyangka si gagak adalah merak yang bulu-bulunya sudah rontok. Namun begitu gagak menirukan lengkingan merak, keluarlah suara aslinya.

ilustrasi dongeng "Gagak yang Banyak Lagak" di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf
ilustrasi dongeng “Gagak yang Banyak Lagak” di buku Untaian Mestika Kisah-Kisah Termasyhur Buku 1 © Tony Wolf

Terbongkarlah identitas asli si gagak. Merak-merak itu pun marah dan mengusirnya.

Si gagak kembali kepada teman-temannya. Namun, kawanan gagak juga tak mau menerimanya lagi.

Level of Interest

💗💗💗💗💗

Review

Ini adalah buku kenangan zaman saya masih anak-anak dulu. Kesannya eksklusif sekali, bersampul biru elegan, dicetak di halaman-halaman kertas glossy dengan ilustrasi cantik, lalu dimasukkan ke amplop besar cantik yang senuansa dengan sampulnya.

Bukunya berisi dongeng-dongeng klasik yang sudah sering kita akrabi dan fabel-fabel sarat nilai karya Aesop. Sampai sekarang pun saya masih kagum dengan ilustrasinya.

Dulu, buku ini sering saya bacakan buat keponakan. Sayangnya, waktu itu anaknya masih lebih tertarik sama gambar binatang dan senapan di dalamnya daripada ceritanya. Walaupun begitu, dia suka banget sama cergam ini sampai minta dibacakan tiap hari.

Nah, buku ini dijual satu set dan terdiri dari empat buku. Sekarang sudah jadi buku langka. Kalau mau intip-intip di Toped atau Bukalapak, harganya bisa sampai Rp300.000.

Buku pertama ini berisi enam fabel, lima di antaranya rekaan Aesop. Hampir semuanya memberikan pelajaran moral melalui sifat dan tindak-tanduk para binatang yang dipersonifikasi.

Kisah “Tikus dan Singa” menurut saya paling sarat nilai. Cerita ini mengajarkan agar kita tidak meremehkan orang lain, bahwa perbuatan baik akan berbalas hal baik pula, dan menunjukkan bahwa hal kecil yang dilakukan dengan sabar dan sungguh-sungguh akan menghasilkan sesuatu yang besar.

Big things come in small packages sepertinya tepat untuk menggambarkan si tikus yang kesungguhannya membuat ia mampu melepaskan singa dari jerat. Singa di sini juga digambarkan sebagai sosok yang patut menjadi panutan. Meskipun pada awalnya meremehkan si tikus, tapi pada akhirnya ia berterima kasih dengan tulus. Contoh yang baik untuk para pejabat kita yang suka menunjukkan arogansi kepada warga sipil.

“Sidang para Tikus” mengibaratkan gagasan, hukum, dan peraturan yang mati jika tak didukung sarana untuk mewujudkannya.

“Sapi dan Katak” menyajikan pelajaran moral yang sederhana. Jangan omong besar dan pahamilah batas kemampuan diri sendiri.

Versi orisinal “Semut dan Tonggeret” adalah semut dan belalang. Fabel ini menekankan pentingnya kerja keras untuk mempersiapkan masa depan.

Bagian terakhir saat semut menolak memberi makanan dan menyuruh tonggeret menari sepertinya bukan contoh yang bagus mengenai sikap murah hati, ya? Sebenarnya, akhir cerita ini memang berbeda dengan ending orisinal versi Aesop. Versi Aesop hanya menyebutkan belalang kelaparan sembari memandangi semut-semut mendistribusikan makanan yang sudah mereka kumpulkan.

“Gagak yang Banyak Lagak” mengingatkan pentingnya menerima diri kita apa adanya. You can dress up like a peacock, but in the end, you’re still a crow.

Sementara itu, “Pemain Musik Kota Bremen” tak banyak memberikan pelajaran selain berani mengambil langkah besar demi meraih masa depan yang lebih baik. Dongeng ini mungkin juga ingin mengingatkan pembaca bahwa masa depan itu penuh kejutan, tak selamanya sesuai dengan rencana. Walaupun begitu, hidup enak dengan harta peninggalan pencuri sepertinya juga bukan contoh yang baik.

Trivia

Aesop, si Pendongeng Ulung dari Yunani Kuno

patung dada Aesop Pushkin State Museum of Fine Arts di Pushkin State Museum of Fine Arts, Moskow, Rusia © Wikimedia Commons/shakko
patung dada Aesop Pushkin State Museum of Fine Arts di Pushkin State Museum of Fine Arts, Moskow, Rusia © Wikimedia Commons/shakko

Aesop adalah pendongeng terkenal dari zaman Yunani kuno. Konon, ia adalah mantan budak yang memperoleh kebebasan dan beberapa keistimewaan dari penguasa berkat kecerdasan dan kepiawaiannya bercerita.

Tak ada tulisan asli Aesop yang pernah ditemukan. Walaupun begitu, banyak fabel yang disebut sebagai buah pikirannya. Beberapa di antaranya adalah “Kura-Kura dan Kelinci”, “Tikus Desa dan Tikus Kota”, “Rubah dan Ayam”, serta “Semut dan Belalang”. Cerita-cerita tersebut lantas dibukukan menjadi Fabel Aesop.

Earl of Angus V, Bangsawan Skotlandia Berjulukan Archibald ‘Bell-the-Cat’

“To bell the cat” means ‘to perform a very dangerous or very difficult task; – taken metaphorically from a fable about a mouse who proposes to put a bell on a cat, so as to be able to hear the cat coming’.

The Free Dictionary by Farlex

Ada tokoh sejarah yang punya julukan berdasar fabel “Belling the Cat” yang diceritakan ulang menjadi “Sidang para Tikus” di buku ini. Dia adalah Archibald Douglas, Earl of Angus V.

lukisan yang menggambarkan penangkapan Thomas Cochrane oleh Archibald Douglas, Earl of Angus V© Joseph Ratcliffe Skelton
lukisan yang menggambarkan penangkapan Thomas Cochrane oleh Archibald Douglas, Earl of Angus V © Joseph Ratcliffe Skelton

Pada tahun 1482, anggota dewan Kerajaan Skotlandia berkumpul untuk membicarakan rencana penggulingan Thomas Cochrane, bangsawan yang mendapat simpati Raja James III. Sayangnya, tak ada hadirin yang bersedia “mengikatkan giring-giring” ke leher Cochrane karena tidak ingin berselisih dengan raja.

Akhirnya, Earl of Angus V maju dan menyatakan kesediaannya untuk mengemban tugas tersebut. Singkat kata, ia sukses membuat Cochrane digantung. Sementara James III ditangkap dan ditawan. Sejak itu, Earl of Angus dijuluki Archibald ‘Bell-the-Cat’.

Sumber bacaan:

Aesop. Wikipedia
Archibald Douglas, 5th Earl of Angus. Wikipedia
Archibald Douglas, 5th Earl of Angus (1449 – 1513). The Douglas Archives
Thomas (Robert) Cochrane. Wikipedia
To Bell the Cat. The Free Dictionary by Farlex