Film terbaru Hercule Poirot-nya Kenneth Branagh, A Haunting in Venice tayang di bioskop-bioskop Indonesia sejak 13 September 2023 lalu. Saya biasanya cuma nyinyir kalau sudah menyangkut Poirot versi Branagh, tapi toh tetap nonton filmnya juga. Soalnya, film detektif memang nggak banyak. Kalau ada yang lumayan baru, paling cuma dua filmnya Benoit Blanc (yang saya suka banget).
Judul: A Haunting in Venice
Diangkat dari: Hallowe’en Party
Sutradara: Kenneth Branagh
Bahasa: Inggris
Tahun rilis: 2023
Produksi: 20th Century Studios
Genre: thriller, misteri, crime drama
Bisa ditonton di: –
Sinopsis (film)
Detektif kenamaan asal Belgia, Hercule Poirot memutuskan untuk pensiun dan menikmati hari tua di Venesia. Sayangnya, ia tak bisa lepas dari kejahatan.
Teman lamanya, novelis cerita detektif, Ariadne Oliver berkunjung dan mengajak Poirot mendatangi pesta Halloween yang bakal ditutup dengan sesi pemanggilan arwah.
Poirot dan Oliver pun datang ke palazzo angker milik Rowena Drake. Sang empunya rumah bermaksud mendatangkan arwah putrinya, Alicia dengan bantuan cenayang terkenal, Joyce Reynolds.
Sayangnya, ritual itu berakhir dengan sebuah pembunuhan. Poirot sendiri nyaris kehilangan nyawa.
Terisolasi di dalam palazzo akibat serangan badai, para tamu mulai diliputi ketakutan.
Begitu juga Poirot yang mendengar dan menyaksikan hal-hal ganjil di rumah tua itu.
Poirot membanggakan dirinya sebagai manusia yang rasional. Namun, ia mulai meragukan dirinya. Apakah ada penjelasan di balik fenomena-fenomena misterius yang dialaminya ataukah makhluk gaib memang benar-benar ada?
Level of Interest
💗💗💗💗
Review (Film)
Dua hari lalu, saya tontonlah filmnya dalam keadaan ‘bersih’. Bersih, karena saya belum pernah baca bukunya. Tidak seperti Murder on the Orient Express dan Death on the Nile yang sudah saya tamatkan duluan sebelum menonton adaptasi layar lebarnya.
Berikut ini beberapa informasi yang berhasil saya dapatkan dan kesan-kesan saya terhadap film ini.
Adaptasi Bebas Hallowe’en Party dan The Last Séance
A Haunting in Venice adalah loose adaptation dari novel Agatha Christie yang berjudul Hallowe’en Party.
Selain itu, kumpulan cerpen Christie yang berjudul The Last Séance (terbit di Indonesia dengan judul Yang Terakhir) juga menginspirasi naskah film ini.
Saya beli dan baca Hallowe’en Party langsung setelah nonton A Haunting in Venice. Menurut saya, ini sudah bukan loose adaptation lagi. Lebih cocok kalau disebut “inspired by” Hallowe’en Party.
Ceritanya benar-benar beda. A Haunting in Venice cuma menggunakan major plot dan beberapa tokoh kunci di Hallowe’en Party. Walaupun begitu, peran tiap karakter di film dan buku 80 persen beda.
- Joyce Reynolds (Michelle Yeoh), cenayang yang dipanggil dalam sesi pemanggilan arwah di cerita aslinya adalah remaja 13 tahun.
- Rowena Drake (Kelly Reilly) aslinya tak punya anak.
- Lesley Ferrier (Jamie Dornan) di cerita asli bukan seorang dokter, tapi karyawan sebuah kantor pengacara. Karakter ini diceritakan sudah meninggal lebih dari setahun di bukunya.
Masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang rasanya tak perlu saya jabarkan lengkap. Pokoknya, ini adalah loose adaptation yang benar-benar “loose”.
Kemunculan Ariadne Oliver yang Karakternya Mirip dengan Agatha Christie
Sejauh ini, Branagh belum menampilkan Arthur Hastings buat menemani Poirot.
Dia adalah sahabat sekaligus sidekick terbaik sang detektif Belgia. Kurang lebih seperti Dr. Watson bagi Sherlock Holmes.
Walaupun begitu, Branagh hampir selalu memilih cerita yang menampilkan karakter sidekick buat Poirot.
Ada Bouc yang bertindak seperti asisten Poirot di Murder on the Orient Express. Kali ini, hadirlah Ariadne Oliver (Tina Fey) buat menemani Poirot.

Ariadne Oliver adalah seorang novelis cerita detektif best seller seperti Agatha Christie.
Sama seperti di buku-buku Christie, ia digambarkan sebagai perempuan yang punya banyak gagasan, tapi intuisi dan pemikirannya tak setajam Poirot.
Kehadirannya saya rasa hanya untuk “mengantarkan” petunjuk kasus ke sel-sel kelabu Poirot lewat celetukan sambil lalu.
Plot Twist di Dalam Plot Twist
Karena cerita yang cukup berbeda dengan bukunya, penonton yang sudah baca Hallowe’en Party tak bakal kehilangan greget. Misteri pertama mungkin sudah tertebak, tapi masih ada plot twist demi plot twist yang bakal memberi kejutan.
Cerita-cerita Agatha Christie tak pernah cukup dengan satu kejutan. Branagh memastikan hal ini ada di dalam filmnya.
Pembaca Hallowe’en Party mungkin bisa menebak identitas si pembunuh, tapi tetap dibuat bingung dengan motif dan metode yang digunakan.
Kejahatan-kejahatan lain yang terungkap di akhir film juga bakal bikin penonton merasa film ini cukup “worthed”, meskipun sempat bosan di pertengahan film. Saya sendiri juga sempat ngantuk.
Latar Venesia yang Eksotis, tapi Kurang Ditonjolkan
Bukan cuma cerita dan karakter para tokoh yang diubah oleh Branagh. Ia menggeser latarnya dari pedesaan di Inggris ke Venesia.
Pada bagian awal film, penonton memang dipameri sungai biru permai, gondola yang menyusuri kanal-kanal cantik, arsitektur yang megah, patung-patung kuno bernuansa seram, dan palazzo angker.
Saya berharap diajak “jalan-jalan” sebentar ke berbagai objek wisata terkenal, seperti saat menonton Death on the Nile.
Sayangnya, A Haunting in Venice segera fokus ke satu latar saja.
Seperti dua film sebelumnya, Branagh lebih memilih untuk mengisolasi tokoh-tokohnya di satu lokasi sampai akhir film. Setelah kereta api dan kapal pesiar, sekarang cerita bergulir di palazzo remang-remang nan angker milik Rowena Drake yang tertutup dari dunia luar akibat badai semalam suntuk.

Ini memang perlu buat menyampaikan kesan mencekam. Walaupun begitu, jumlah kematian yang terlalu sedikit dan remangnya suasana sepanjang film bikin saya mulai jenuh di paruh kedua film.
Tiga Clue yang Jadi Ciri Khas Agatha Christie
A Haunting in Venice menawarkan konklusi yang berbeda dengan Hallowe’en Party. Petunjuk-petunjuk yang dilempar ke penonton sudah jelas berbeda juga.
Walaupun begitu, Michael Green, si penulis naskah kelihatan kalau sudah melakukan riset dengan membaca karya-karya Christie.
Dia memasukkan tiga unsur yang memang sering banget muncul di novel Agatha Christie.
Spoiler Alert! Click at your own risk!
Tiga unsur itu adalah racun, drama panggung klasik, dan pertamanan. Kalau ada satu dari tiga unsur itu disebutkan di cerita, bisa dipastikan Christie menyembunyikan clue di sana. Saya tidak tahu apakah Christie memang hobi nonton drama panggung dan berkebun, tapi dia memang punya pengetahuan lebih soal racun. Dia pernah bekerja sebagai perawat saat perang. Karena itu juga, dia cukup memahami farmasi. Racun bahkan kerap dipilihnya sebagai senjata pembunuh di cerita.
Elemen Horor yang ‘Menyelamatkan’ Hercule Poirot Branagh
Terakhir, saya mau mengapresiasi keputusan Branagh dan Green untuk menambahkan horor di A Haunting in Venice.
Unsur horornya memang lebih ditonjolkan lewat latar yang gelap melulu dan sesekali jump scare. Tapi, menurut saya inilah penyelamat keseluruhan film.
Death on the Nile sudah terasa membosankan bagi penonton yang sudah membaca bukunya. Nyaris tidak ada hal baru yang ditawarkan kepada penonton.
Penonton cuma disuguhi potongan masa lalu Poirot, termasuk alasan dia memilih kumis jelaprang gaya Czar Romanov sebagai ciri khas. Ah, Poirot di film itu benar-benar out of character.
A Haunting in Venice bakal bernasib sama dengan Death on the Nile jika Branagh tidak mengganti latar dan mengubah genre film ini jadi supernatural thriller.
Kalau Branagh terus memberikan hal baru di adaptasi kisah Hercule Poirot versinya, bisa jadi franchise ini bakal bertahan lama.
Meskipun sempat bikin saya angop di tengah film, meskipun level menghiburnya masih jauh di bawah Sherlock-nya Benedict Cumberbatch, meskipun interpretasi karakter Poirot-nya Branagh masih tetap keliru di mata saya, kali ini saya bisa lebih mengapresiasi upaya tim yang telah membawa karakter fiktif terpopuler Agatha Christie itu. Nanti kalau ada film keempat, saya pasti nonton lagi, kok!





