“There’s the scarlet thread of murder running through the colourless skein of life, and our duty is to unravel it, and isolate it, and expose every inch of it.”
Sherlock Holmes di A Study in Scarlet (Arthur Conan Doyle)
Judul: A Study in Scarlet – Penelusuran Benang Merah
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013, pertama kali terbit 1887)
Format: paperback, 216 hal.
Genre: fiksi, detektif, misteri, klasik
Sinopsis
John Watson, seorang dokter militer yang dipulangkan dari medan perang karena luka tembak menceritakan awal pertemuannya dengan Sherlock Holmes. Kelak mereka bakal dikenal sebagai pasangan detektif paling terkemuka di Inggris.
Watson berbagi flat dengan Holmes karena keduanya harus menghemat. Kediaman mereka di Baker Street kerap dikunjungi klien dari berbagai kelas sosial, mulai dari portir sampai bangsawan. Mereka semua punya satu kesamaan, yaitu membutuhkan jasa Holmes untuk menangani suatu kasus.
Sherlock Holmes adalah sosok eksentrik, tapi berotak cemerlang. Dia mampu menebak profesi, latar belakang hingga kondisi kesehatan seseorang hanya dalam sekali pandang.
Holmes membuat semua orang kesal dengan sifat eksentrik dan komentar-komentar sinisnya. Namun, Watson merasa beruntung karena dia dapat menyaksikan rekannya itu bekerja.
Suatu hati, Sherlock Holmes dan dr. Watson dihadapkan pada suatu kasus pembunuhan di rumah kosong. Kasus tersebut mengarah pada pembunuhan lain.
Holmes harus menelusuri benang merah rangkaian pembunuhan ini untuk mengungkap kebenaran di baliknya.
3 Points for:
☑️ Story
☑️ Setting
☑️ Characterization
❎ Writing style
❎ Moral/interesting trivia
Level of Interest
❤️❤️❤️
Review
Sebagian besar buku Sherlock Holmes yang saya miliki berisi kumpulan kasus. Ini adalah satu-satunya novel Sherlock Holmes yang saya punya.
Sir Arthur Conan Doyle menulis 56 cerita pendek dengan tokoh utama Sherlock Holmes. Sementara jumlah novelnya cuma empat. A Study in Scarlet ini adalah novel pertama sekaligus cerita pertama Sherlock Holmes. Novel keduanya adalah The Sign of the Four.
Sebelum masuk ke bahasan tentang ceritanya, saya ingin mengapresiasi judul terjemahannya yang bagus banget. Terjemahannya tidak harfiah, tapi menggunakan frasa “penelusuran benang merah” yang berarti sama dan tetap terdengar puitis. Sama seperti Three-Body Problem yang diterjemahkan menjadi Trisurya. Diksinya bagus banget.



Dua Bagian, Dua Cerita yang Harus Ditemukan Benang Merahnya
A Study in Scarlet diceritakan lewat sudut pandang orang pertama, tepatnya lewat narasi dr. Watson. Menggunakan format buku harian, Watson menceritakan pertemuan pertamanya dengan Sherlock Holmes.
Novel ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terdiri dari tujuh bab, dimulai dari perkenalan Sherlock Holmes dan Watson, lanjut ke pembunuhan Enoch Drebber, pembunuhan kedua dengan korban Joseph Stangerson, sampai tertangkapnya si pelaku.
Bagian kedua juga terdiri dari tujuh bab dan menceritakan kisah yang tampak tak berhubungan dengan bagian pertama. Meskipun awalnya terkesan nggak nyambung, pelan-pelan pembaca akan diajak menyusuri benang merah yang menghubungkan cerita ini dengan dua kasus pembunuhan di bagian pertama.
Saya nggak bisa banyak cerita tentang isi ceritanya karena khawatir spoiler. Namun pembaca yang sudah lebih dulu menonton episode pertama serial Sherlock (BBC) yang berjudul “A Study in Pink” pasti sudah bisa menebak pembunuhnya. Soalnya, serial itu memang cuma sedikit memodifikasi cerita orisinal A Study in Scarlet. Hanya motif pembunuhnya saja yang berbeda total.

Bicara soal cerita, misteri pembunuhan di novel ini nggak serumit novel detektif modern. Analisisnya cukup sederhana, tapi tetap menarik untuk diikuti. Soalnya, jujur saja, cerita-cerita Sherlock Holmes masih seru diikuti sampai sekarang karena daya tarik utamanya adalah karakter si detektif sendiri. Kebanyakan cerita detektif klasik seperti Holmes dan Hercule Poirot memang begitu.
Saya lebih suka The Hound of the Baskervilles, novel ketiga Sherlock Holmes yang saya baca lebih dulu daripada buku ini. Ceritanya lebih mencekam dan seru.
Unsur Nostalgianya Lebih Menarik daripada Analisis Kasusnya
Saya nggak banyak baca cerita Sherlock Holmes, tapi ngefans banget dengan adaptasi layar lebar dan layar kacanya. Apalagi, Sherlock Holmes juga sering disebut di Detective Conan, manga detektif yang juga saya ikuti sejak kecil. Rasanya, segala hal tentang detektif rekaan Conan Doyle itu sudah nggak asing.
Nah, A Study in Scarlet ini serasa menghadirkan nostalgia buat penggemar Sherlock Holmes yang berkenalan dengan sang detektif lewat film atau TV series.
Pembaca bisa menemukan adegan Holmes menggunakan kaca pembesar untuk menyelidiki kasus. Berapa film coba yang menampilkan Holmes menggunakan alat ini untuk memeriksa sidik jari?
Melalui buku ini, pembaca juga diajak berkenalan dengan Baker Street Irregulars, kelompok anak jalanan yang kerap membantu Holmes dalam penyidikan.
Momen Menggelitik saat Sherlock Holmes Mengejek Dua Detektif Fiktif Pendahulunya
Pada buku ini, Arthur Conan Doyle mengejek dua detektif rekaan yang sudah lebih dulu terkenal daripada Sherlock Holmes, yaitu Auguste Dupin dan Monsieur Lecoq.


Dupin adalah detektif rekaan Edgar Allan Poe. Beberapa ceritanya yang terkenal adalah The Murders in the Rue Morgue dan The Mystery of Marie Rogêt.
Sementara itu, Monsieur Lecoq adalah karakter detektif ciptaan Émile Gaboriau. Cerita-cerita Lecoq ini bikin Gaboriau dijuluki sebagai “bapak cerita detektif masa kini”.
Pada salah satu adegan, Watson yang baru “dikupas” habis dengan analisis Holmes menyebut rekannya itu mirip dengan Dupin. Bukannya merasa tersanjung, Holmes justru mengejek Dupin “punya kemampuan analisis bagus, tapi tak sehebat yang dibayangkan Poe”. Dia juga menyebut Lecoq sebagai “pembual yang payah”.
Saya rasa ejekan tersebut menunjukkan kalau Doyle bertekad untuk menciptakan karakter detektif yang mengungguli Dupin dan Lecoq. Kalau Rouletabille dan Poirot sudah ada sebelum Sherlock Holmes, barangkali mereka juga ikutan diejek.
Kontroversi Penggambaran Gereja Mormon di A Study in Scarlet
Sebelum menutup ulasan ini, saya juga kepingin menyoroti penggambaran para penganut aliran Gereja Mormon di novel ini yang cukup kontroversial. Para pengikutnya digambarkan dengan cara yang benar-benar negatif. Suka memperbudak, menculik, sampai membunuh.
Kalau terbit di zaman sekarang, novel ini pasti sudah jadi bahan perdebatan. Sayangnya saya nggak tahu alasan yang menyebabkan Conan Doyle tampak begitu antipati terhadap aliran ini. Soalnya saya sendiri kurang familiar dengan sejarah Mormon.
Pengetahuan saya tentang itu cuma sebatas dokumenter Keep Sweet di Netflix yang membahas Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints, aliran sempalannya Gereja Mormon. Nantilah, ya, kita cari tahu lebih dalam kalau ada waktu luang.

