Empress Orchid (Empress Orchid #1)

cover-depan-empress-orchid

Judul: Empress Orchid
Penulis: Anchee Min
Penerbit: Mariner Books (AS), Hikmah (Indonesia)
Tahun Penerbitan: 2005 (AS), 2008 (Indonesia)
Genre: sejarah
Setting: Kota Terlarang, Peking (China)

Cerita

Pada masa-masa terakhir Dinasti Ch’iing, hiduplah seorang selir bernama Puteri Yehonala. Dengan kecantikan dan kecerdasannya, Yehonala berhasil meraih posisi puncak di Kota Terlarang. Banyak pihak yang meragukan motifnya, bahkan berniat menyingkirkannya. Namun saat negerinya menghadapi gempuran dahsyat dari luar dan dalam, Yehonala menolak hidup dalam ilusi semu keadigdayaan China dan mengatasi situasi seorang diri.

Para Tokoh

Anggrek/ Puteri Yehonala

Berawal sebagai puteri mantan gubernur yang jatuh miskin, dengan keberuntungan dan kecerdasannya Anggrek berhasil terpilih menjadi salah satu selir kaisar. Ia adalah wanita cantik berkepribadian kuat dan memiliki insting yang tajam.

Kaisar Hsien Feng

Kaisar yang masa pemerintahannya dipenuhi pemberontokan dan usaha invasi dari negara-negara barat. Hsien Feng memiliki watak yang lemah. Ia bergantung pada Anggrek dalam urusan-urusan kenegaraan.

Permaisuri Nuharoo

Dikenal sebagi wanita yang anggun dan lembut hati. Nuharoo cenderung naif dan tak suka memikirkan hal-hal rumit. Ia cukup sering berselisih dengan Anggrek dalam hal pendidikan putera mahkota.

Pangeran Kung

Kakak tiri Hsien Feng, putera dari permaisuri Kaisar Kang Hsi yang berpikiran tajam. Awalnya ia sering memiliki pendapat politik yang sama dengan Anggrek.

Tung Cih

Anak lelaki Anggrek. Tung Cih adalah satu-satunya putera lelaki Hsien Feng. Ia sangat manja, berkepribadian buruk, dan sulit belajar karena terlalu sering mendapat perlakuan istimewa dari ibu tirinya, Nuharoo. Tung Cih tidak dekat dengan Anggrek karena ibu kandungnya itu selalu mendidiknya dengan keras.

4 poin untuk:

check sign Good Story/Idea

check sign Good writing style

check sign Well-developed characters

check sign Additional information/message

Interest Level

heart rate42

Ini adalah kisah Ci Xi/Tzu Hsi, penguasa wanita dari Dinasti Ch’iing dan ibu dari Kaisar Tung Cih/Dongzhi. Ia menjadi regent 220px-The_Ci-Xi_Imperial_Dowager_Empress_(5)(semacam raja pengganti bagi si pemegang tahta yang sedang tidak mampu melaksanakan kepemimpinan) bagi kaisar Tung Cih dan Guangxu, memimpin China dari balik tirai (literally, karena resminya seorang wanita tak diperkenankan menjadi penguasa China). Dibumbui dengan drama, intrik politik, dan gaya hidup di Kota Terlarang yang serba formal sekaligus memikat membuat cerita sang maharani enak diikuti. Apalagi dikisahkan dari sudut pandang Ci Xi sendiri. Aku jadi tak bisa berhenti membaca sampai halaman terakhir.

Di sini Maharani Ci Xi/Puteri Yehonala/Selir Yi yang nama lahirnya tak pernah diketahui diberikan nama lahir fiktif Anggrek. Ia diceritakan sebagai perempuan sederhana, yang ambisinya cuma menyediakan masa depan layak bagi ibu dan adik-adiknya. Segala tindakannya sebagai selir dan ibusuri didasari oleh keinginan bertahan hidup semata, juga keinginan untuk melindungi masa depan puteranya. Anggrek juga digambarkan sebagai wanita penuh gairah yang mendambakan cinta. Meskipun sadar akan posisinya sebagai salah satu dari tujuh istri resmi kaisar dan satu dari tiga ribu wanita milik kaisar, dia tak dapat mencegah diri merasa cemburu karena harus berbagi suami dengan wanita lain.

Woman’s Image In History

Dalam berbagai literatur, Ci Xi selalu digambarkan sebagai wanita yang licik, haus kekuasaan, dan penuh intrik. Image ini kemungkinan besar berasal dari keterangan Kang Youwei kepada pers barat, padahal dia sendiri sebenarnya tak pernah bertemu langsung dengan Ci Xi. Keterangan-keterangan meragukan Kang ini, sekitar tiga puluh tahun kemudian diadopsi JOP Bland dan Edmund Backhouse yang mengaku memiliki kedekatan tertentu dengan Ci Xi saat tinggal di Beijing dalam buku China Under The Empress Dowager. Di kemudian hari, keterangan Backhouse ini terbukti palsu. Namun nama Ci Xi terlanjur melekat dengan image negatif. Ia disebut-sebut sebagai penguasa tak kenal belas kasihan yang korup. Namanya selalu dikaitkan dengan ramalan tentang kejatuhan Cina di tangan seorang perempuan.

Belakangan mulai banyak pengkajian ulang terhadap maharani Ci Xi, dan menurut banyak pendapat, Ci Xi tidak lebih kejam dibandingkan penguasa-penguasa lain. Tindakan-tindakan politiknya dipandang sebagai langkah politik yang bijaksana dan upaya untuk mempertahankan dinasti semata, mengingat puteranya Tung Cih memang kaisar yang inkompeten dan keponakannya Guangzu merupakan penguasa yang sangat terpengaruh pemikiran barat. Pendapat ini dibenarkan oleh beberapa orang wanita yang pernah mengenal dekat Ci Xi, di antaranya Der Ling dan seorang pelukis yang pernah tinggal di Kota Terlarang selama beberapa waktu. Mereka menggambarkan Ci Xi sebagai wanita tua yang bijaksana dan cukup menyenangkan.

Tapi memang benar kalau Ci Xi menyingkirkan orang-orang yang tak sepandangan dengannya melalui hukuman kejam. Ia merencanakan konspirasi Xinyou untuk menyingkirkan Sushun, menghukum mati permaisuri Jishou dan selir Zhen, serta dicurigai meracuni Guangxu. Guangxu meninggal secara mendadak diikuti meninggalnya Ci Xi sehari kemudia,n setelah menunjuk Pu Yi sebagai penerus. Beberapa tahun belakangan ditemukan kandungan arsenik sebanyak 2000 kali lipat dalam jasad Guangxu. Kemungkinan besar peracunan ini diperintahkan Ci Xi pada saat-saat terakhirnya karena takut Guangxu akan meneruskan usaha reformasi setelah ia meninggal.

Kalau diperhatikan lagi, banyak sekali tokoh wanita dalam sejarah yang dipersalahkan atas jatuhnya suatu rezim, atau paling tidak sebagai alasan kelemahan seorang raja. Selain Ci Xi, masih ada Anne Boleyn yang dituduh melakukan inses, Selir Mishil dari Korea (mungkin waktu itu masih bernama negeri Goryeo) yang menjadi penguasa dari balik tirai selama beberapa generasi raja, Lady Jang Okjong yang dituduh berkonspirasi untuk menjatuhkan Ratu In Hyeon, Ratu Kedaton yang memberontak demi menuntut hak puteranya atas mahkota, Ratu Mary Stuart, dll. Semuanya mendapatkan pencitraan negatif. Padahal manuskrip-manuskrip yang menuliskan kepribadian tokoh-tokoh ini belum tentu obyektif, bahkan beberapa tidak akurat. Seperti tulisan Edmund Backhouse, yang di kemudian hari terbongkar kepalsuannya. Perlu diingat sejarah selalu dituliskan dalam versi kebenaran sang penguasa. Dan seperti kita ketahui, peradaban manusia zaman dahulu tak berpihak kepada wanita. Wanita seringkali diantagoniskan, sekedar untuk menjadi kambing hitam sejarah. Jadi mudah saja untuk menitikberatkan kesalahan pada wanita seperti Ci Xi, Anne Boleyn, Marie Antoinette untuk menutupi kegagalan seorang pria penguasa seperti Hsien Feng, Tung Cih, dan Louis XVI. Tapi ini hanya teoriku, tentu saja.

3 thoughts on “Empress Orchid (Empress Orchid #1)

Leave a Reply to tantri06 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.