[Review] A Escrava Isaura – Novel Klasik Tentang Perbudakan di Brasil

A Escrava Isaura
A Escrava Isaura

Judul: Isaura (Judul asli: A Escrava Isaura)
Penulis: Bernardo Guimaraes
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (1989)
Format: Paperback, 240 hal.
Genre: Roman, klasik, drama, fiksi sejarah (historical fiction)

Sinopsis

Brasil, pertengahan abad ke-19. Isaura, gadis budak cantik berkulit putih hidup di fazenda keluarga Almeida. Nyonya Almeida, yang tidak mempunyai anak perempuan, menyayangi Isaura seperti anak sendiri. Isaura mendapatkan kesempatan untuk belajar baca-tulis, berdansa, bermain piano, menyanyi dan mempelajari beberapa bahasa asing. Tapi bagaimana ia tetap seorang budak.

Leoncio, putra tunggal keluarga Almeida yang pulang ke Brasil setelah sekian tahun berfoya-foya sebagai mahasiswa di Eropa, dan telah menikah, jatuh cinta pada Isaura. Dengan segala cara yang halus dan kasar Leoncio berusaha memiliki Isaura.

Sementara Miguel, ayah Isaura, berupaya membeli Isaura agar terbebas dari perbudakan, tetapi tawarannya selalu ditolak oleh Leoncio. Karena tak tahan dengan siksaan dan ancaman Leoncio, Isaura akhirnya melarikan diri ke Recife. Di kota itu ia jatuh cinta pada Alvaro, pemuda baik hati dan pemberani. Alvaro berusaha sekuat tenaga membebaskan Isaura saat ia tahu gadis itu adalah seorang budak.

2 Points for:

cross signGood Story/Idea

check signGood writing style

cross signWell-developed characters

check signAdditional information/message

Level of Interest

heart rate32

Review

A Escrava Isaura yang artinya ‘budak Isaura’ adalah novel roman klasik asal Brasil yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1875. Isu tentang perbudakan di Amerika Selatan yang diusung oleh Guimaraes dalam kisah Isaura membuat novel ini dijadikan bahan bacaan wajib bagi siswa-siswa sekolah. Saya sendiri sempat membaca excerpt-nya di buku Bahasa Indonesia SMP.

Photo by en.wikipedia.org
Photo by en.wikipedia.org

Saat itu isu penghapusan praktek perbudakan di Brasil memang sedang gencar-gencarnya. Sepuluh tahun kemudian, Putri Isabella menandatangani akta penghapusan perbudakan di negara itu melalui perjanjian Lei Aurea (Golden Law).

Photo by blackwomenofbrazil.co
Photo by blackwomenofbrazil.co

Bagi saya, penyampaian isu perbudakan di novel ini kurang mendalam, sehingga sebagai pembaca saya kurang tergugah dengan ceritanya. Rasanya isu tersebut lebih kental dalam Sinha Moca, juga novel berlatar zaman perbudakan di Brasil. Mungkin karena Guimaraes, seperti yang ia ungkapkan pada media waktu itu, memang tak berniat menyuarakan ketidakadilan yang dialami para budak atau menyindir kejamnya praktek perbudakan di Brasil. Ia cuma ingin menyampaikan bahwa pada saat ia menuliskan Isaura, rasisme dan diskriminasi terhadap kaum berkulit hitam sudah jarang terjadi, karena itu perbudakan sudah waktunya ditiadakan.

Saya juga kurang bisa bersimpati pada Isaura, karena yah, seperti yang bisa dibayangkan akan dilakukan oleh perempuan pada masa itu (dengan status sosial seperti itu), Isaura merupakan karakter yang cenderung pasif. Guimaraes berusaha memberikan kesan kalau Isaura layak mendapatkan nasib baik karena meskipun berdarah kaum budak, ia cantik, berkulit putih, dan terpelajar. Menurut saya Guimaraes tak cukup berani untuk menjadikan seorang budak dengan kulit berwarna seperti Adelaide (Sinha Moca) sebagai tokoh utama.

Saya akui Isaura adalah seorang wanita yang memiliki harga diri dan beriman teguh. Moralnya pun terpuji karena dia tidak pernah tergoda oleh Leoncio, sang majikan. Untuk seorang budak, dia cukup berani menyuarakan penolakan  untuk menjadi gundik. Tetapi hanya sampai di situ keberaniannya. Seandainya saja Isaura memiliki pemikiran yang lebih progesif dan menyingkirkan sikap ‘apalah aku ini cuma seorang budak hina’, saya rasa dia akan membuat para pembaca lebih tergerak.

Tapi mungkin budaya di Brasil pada saat itu memang tidak bisa saya bandingkan dengan budaya di mana Miss Elizabeth Bennet dan Catherine Earnshaw hidup. Dan kembali lagi pada poin utama, Isaura adalah budak yang diajarkan untuk merendahkan derajat sejak lahir. Bahkan meskipun dia hidup di dalam rumah utama, diberi pendidikan, dan baju yang layak. Statusnya tetap setara dengan para pekerja di perkebunan yang tidur berdesakan di gudang.

A Escrava Isaura TV Series

Bagi yang sudah lahir di tahun 80-an (seperti saya) mungkin sudah akrab dengan telenovela Isaura yang sempat ditayangkan TVRI.  Waktu itu series ini hit sekali, bukan hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia, termasuk Rusia dan Timur Tengah. Pemerannya adalah Lucelia Santos yang juga kita kenal sebagai pemeran Little Missy. Sedikit berbeda dengan bukunya, untuk perpanjangan cerita maka dalam telenovelanya ditambahkan beberapa tokoh seperti Tobias (pacar pertama Isaura), Dona Alba, dll.

A Escrava Isaura (telenovela). Photo credit: Audienciadatvmix.wordpress.com
A Escrava Isaura (telenovela – 1976). Photo credit: Audienciadatvmix.wordpress.com

Serial televisi yang dibuat tahun 1976 itu kemudian di- remake lagi di tahun 2004. Kali ini pemerannya Bianca Rinaldi.

A Escrava Isaura (telenovela). Photo credit: Wikipedia.org
A Escrava Isaura (telenovela – 2004). Photo credit: Wikipedia.org
Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.