[Review Buku] Delirium, Ketika Cinta Tak Lagi Diagungkan dan Dianggap Penyakit Mematikan

Now I’d rather be infected with love for the tiniest sliver of a second than live a hundred years smothered by a lie.

Delirium (Lauren Oliver)
sampul novel Delirium. © Mizan
sampul novel Delirium. © Mizan

Judul: Delirium (Delirium #1)
Penulis: Lauren Oliver
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 518 hal.
Penerbit:  Mizan Fantasi (2012)
First published: 2011
Genre: YA, dystopia, romance
Prequel: Annabel (Delirium #0.5)
Lanjutan: Hana (Delirium #1.5), Pandemonium (Delirium #2)

Cerita

Taken from Goodreads:

Dunia yang dihuni Lena Haloway adalah dunia tanpa cinta.
Cinta adalah sebuah dosa besar.
Sastra dan puisi masuk dalam “Kompilasi Lengkap Kata-Kata dan Ide-Ide Berbahaya.”
Penikmat musik dijebloskan ke penjara.
Tertawa bahagia dianggap melanggar aturan.
Suami-istri, ibu-anak, kakak-adik, hanya sebuah ikatan tanpa kasih sayang.
Binatang. Orang yang jatuh cinta dianggap binatang.

Lena pun demikian, ketika dia jatuh cinta kepada Alex Sheates.
Mereka hidup dalam rasa takut hebat, dan hanya menunggu waktu hingga mereka menanggung hukuman.

3 Points for:

☑️ The story

☑️ The characterization

☑️ The writing style

❎ The moral/interesting trivia

Level of Interest

Review

Pertama, saya pingin mengomentari sampul buku terjemahan kepunyaan ini. Sayang sekali, sinopsis dan blurbs yang sudah mengundang orang untuk membaca justru dikemas dengan sampul buku yang, yah…sangat kurang menarik. Sebenarnya sayajuga kurang suka sampul aslinya. Tapi masih jauh lebih artistik daripada sampul yang ini. Untung sekuelnya diterbitkan dengan sampul asli.

trilogi novel Delirium karya Lauren Oliver. © epicreads.com
trilogi novel Delirium karya Lauren Oliver. © epicreads.com

Cerita Delirium sendiri model-modelnya seperti Twilight, tetapi dengan penggarapan karakter yang jauh lebih bagus. Baik Lena, Alex, maupun Hana yang bukan karakter utama punya kualitas kepribadian yang setidaknya bisa membuat pembaca bersimpati.

Setting cerita bisa dikatakan lebih matang daripada novel-novel dystopia atau fantasi remaja yang pernah saya baca. Bahkan lebih detail daripada Battle Royale yang bagi saya adalah rajanya dystopian fiction.

Saya menghargai upaya Lauren Oliver dalam menciptakan sumber-sumber literatur fiktif yang jadi rujukan tentang bahayanya Amor Deliria Nervousa (disisipkan di pembukaan tiap bab). Kutipan-kutipan sumber literatur Amor Deliria Nervousa itu memang jadi daya tarik tersendiri setiap kali memasuki bab baru.

Gaya penulisan Lauren Oliver menurut saya juga bagus. Dia cukup pintar bermain kata-kata. Kalimat-kalimat yang dia gunakan (dari POV Lena yang masih remaja) lumayan puitis tanpa terdengar berlebihan.

Cuma ceritanya kurang ‘gelap’ untuk selera saya. Namanya juga novel roman remaja. Chemistry antara Lena dan Alex juga kurang mengena.  Karena itulah, saya cukup sering skip halaman begitu sampai ke bagian tengah cerita.

Pesan moral yang bisa saya petik dari cerita sejauh ini juga tidak banyak. Sama seperti dystopia lain yang pernah aku baca, buku ini mengajak pembaca untuk jadi lebih kritis dan objektif. Jangan takut untuk mempertanyakan sesuatu yang tidak bisa kita pahami dengan nalar, bahkan meskipun sesuatu itu sudah menjadi doktrin. Ini adalah sikap yang lebih bijaksana daripada menerima mentah-mentah segala pemikiran yang disodorkan kepada kita. Pasalnya, keengganan untuk mencari jawabab atas sesuatu yang sulit diterima dengan logika inilah yang akhirnya tumbuh menjadi fanatisme sempit atau malah keyakinan setengah matang yang mudah dipatahkan.

The Dystopian Nation

Bisa saya katakan, Delirium adalah kisah romance ala Romeo and Juliet dengan latar dystopia. Ide ceritanya cukup bagus. Amerika Serikat di alternate timeline di mana cinta dianggap penyakit berbahaya bernama Amor Deliria Nervousa. Semua orang yang menunjukkan gejala jatuh cinta diperlakukan seperti pasien yang tengah terjangkit ebola, dan karenanya harus disembuhkan.

Ada serangkaian prosedur vaksinasi yang harus dijalani oleh setiap warga negara. Tujuannya adalah untuk memusnahkan semua rasa cinta yang ada dalam diri mereka. Dan karena cinta adalah emosi yang mendasari nyaris setiap tindakan manusia (hobi juga termasuk bentuk kecintaan, kan? Passion untuk menciptakan teknologi baru juga bentuk kecintaan, kan?), jadinya semua orang yang sudah divaksinasi berubah seperti robot tanpa emosi.

Semua aspek kehidupan warga ‘dibantu perencanaannya’ oleh negara. Mulai dari pekerjaan sampai pasangan hidup, semuanya diatur oleh negara.

Deskripsi pemerintah dalam novel dystopia seperti ini mengingatkan saya pada pemerintahan totaliter ala Korea Utara dan China pra-ekonomi kapitalis. Di Korea Utara pekerjaan tiap warga juga ditentukan oleh negara.  Hak warga untuk mengekspresikan diri juga sangat dibatasi. Pasalnya, kebebasan berekspresi bisa menjadi gerbang bagi pemikiran-pemikiran liberal dan moderat yang akhirnya bisa mengancam eksistensi pemerintahan itu sendiri.

Trivia

Dengar-dengar Delirium ini sempat mau dijadikan TV series dengan bintang Emma Roberts. Tapi sampai sekarang kelihatannya masih belum ada realisasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.