[Review Buku] Tarian Bumi, Menghakimi Sistem Kasta dan Budaya Patriarkis Gaya Oka Rusmini

Judul: Tarian Bumi
Penulis: Oka Rusmini
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 224 hal.
Penerbit: Indonesia Tera (2000)
Genre: fiksi, drama, sosiokultural, sastra Indonesia

Cerita

Dikutip dari Goodreads:

Di tengah kering kerontangnya penerbitan novel sastra Indonesia mutakhir, Tarian Bumi hadir sebagai oase yang menyejukkan.

Novel yang pernah dimuat bersambung di harian Republika (4 Maret – 8 April 1997) ini menceritakan perjalanan Telaga mencari identitas dirinya sebagai seorang perempuan yang dibesarkan di tengah keluarga bangsawan Bali namun lahir dari seorang ibu kasta sudra.

Sebagaimana terlihat pula dalam puisi-puisinya, melalui novel ini Oka Rusmini menegaskan cara pandang kontemporer yang sangat kritis terhadap kosmologi dan tradisi Bali yang di masa lalu muncul dalam karya-karya seni tak lebih sebagai entitas eksotik dan turistik.

Jika novelis Inggris, Graham Greene merasa telah menemukan India yang sebenarnya justru dalam novel-novel dan cerita pendek yang ditulis R.K. Narayan, maka tak berlebihan jika kita pun merasa telah menemukan Bali yang sebenarnya melalui novel ini.

5 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

 

Level of Interest

Review

Tarian Bumi adalah sebuah buku lama yang saya baca di SMP atau SMA, direkomendasikan oleh almarhumah kakak. Waktu itu isinya cukup sulit dicerna oleh saya yang masih berusia belasan tahun, meskipun saya sangat terkesan dengan detail budaya Balinya. Jadi ketika saya menemukan buku ini di koleksi pribadi Frita Ayu tahun lalu, langsung saya comot dan baca ulang. Karena itulah kali ini saya bisa menuliskan ulasan yang sedikit lebih pantas untuk buku ini.

Intinya, Tarian Bumi menawarkan sebuah ‘penghakiman’ atas tradisi kuno Bali yang kerap patriarkal. Sebuah penghakiman yang dilakukan dari dalam, karena Oka Rusmini sang penulis adalah orang Bali. Dia berbagi sudut pandangnya tentang budaya, tradisi, sistem kasta, wanita, pria, cinta dan kehidupan melalui mata para tokoh wanitanya. Ini adalah sebuah novel dengan multikarakter, tak hanya Telaga Pidada seperti yang tertulis di dalam sinopsis di atas.

Siapa saja tokoh utama wanita yang bergantian mengalirkan kisah di dalam Tarian Bumi?

Luh Sekar yang memaksakan diri untuk menaikkan status sosialnya dengan menerima pinangan seorang pria Brahmana, tetapi harus menanggung derita karena berumahtangga dengan seorang pria tak bertanggungjawab dan tak pernah didengar di dalam griya sebab terlahir dari kaum Sudra.

Luh Dalem yang dikucilkan, dicemooh, bahkan diperkosa hingga mengalami kebutaan. Hingga ajal menjemput, jasadnya pun tak diizinkan masuk ke dalam rumah karena diyakini akan membawa tulak.

Ida Ayu Telaga Pidada, seorang bangsawan jelita dengan pikiran modern yang dilarang mencintai seorang pria Sudra akibat tembok hierarki sosial.

Luh Kenten yang meludahi kaum pria di dalam hatinya, namun tak bisa melepaskan diri dari tradisi yang telah menempatkannya di dasar tangga sosial.

Luh Kambren yang seumur hidupnya dimanfaatkan pemerintah sebagai ‘agen’ untuk mempromosikan budaya dan kesenian, tetapi tidak pernah mendapatkan kompensasi apa pun selain lembaran piagam yang tak terhitung jumlahnya.

Semuanya memiliki satu persamaan, yaitu diperlakukan dengan tidak adil oleh adat yang masih mencekik leher kaum perempuan pada masa itu. Bisa jadi Bali sudah banyak berubah sejak Tarian Bumi ditulis, tetapi sesungguhnya saya pun kurang tahu, karena tidak pernah mengamati kehidupan di sana secara langsung.

Seperti saat membaca Incest, satu hal yang membuat saya seperti tertampar adalah pendapat penulis tentang kaum wanita yang dipinggirkan dalam patriarki, tetapi menjadi penopang kehidupan yang sesungguhnya. Mereka bertugas melahirkan, mendidik anak, dan banting tulang untuk memastikan tungku di dapur senantiasa mengepul sementara kaum prianya hanya cangkruk di warung atau menonton pertunjukan tari. Para wanitalah yang menjadi pahlawan di rumah, tetapi tetap tidak pernah dianggap setara dengan para lelaki.

“Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari tubuh mereka. Merekapun menyusui laki-laki. Menyusui hidup itu sendiri.”

-Oka Rusmini, Tarian Bumi

Buku ini diakhiri dengan tindakan berani dari Telaga. Bukan seperti perlawanan Gek Bulan dan Putu Geo di akhir Incest, tetapi lebih ke tindakan berani untuk keluar dari kenyamanan sistem kasta yang sebenarnya membelenggu untuk memasuki kasta Sudra yang dipandang menyedihkan oleh sebagian besar masyarakat. Namun tindakan itu justru terasa membebaskan bagi Telaga. Dan untuk itu saya memberikan applause kepada Oka Rusmini.

Akhirnya, Tarian Bumi adalah sebuah novel kaya yang berceloteh tentang banyak aspek dalam kehidupan para tokohnya. Ini adalah sebuah penghakiman atas tradisi menakjubkan yang ditulis dengan cantik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.