[Review Buku & Film] Simon Vs The Homo Sapiens Agenda dan Love, Simon

If you consider yourself a homophobic, surely this review is not your cup of tea 😀

Move to the next review, please!

Simon Vs The Homo Sapiens Agenda
Simon Vs The Homo Sapiens Agenda

Judul: Simon Vs The Homo Sapiens Agenda (Creekwood #1)
Penulis: Becky Albertalli
Bahasa: Inggris
Format: ebook, 336 hal.
Penerbit: Balzer + Bray (2015)
Genre: Fiksi, young adults, drama, contemporary romance, LGBT

Sinopsis (buku)

Sixteen-year-old and not-so-openly gay Simon Spier prefers to save his drama for the school musical. But when an email falls into the wrong hands, his secret is at risk of being thrust into the spotlight.

Now Simon is actually being blackmailed: if he doesn’t play wingman for class clown Martin, his sexual identity will become everyone’s business. Worse, the privacy of Blue, the pen name of the boy he’s been emailing, will be compromised.

With some messy dynamics emerging in his once tight-knit group of friends, and his email correspondence with Blue growing more flirtatious every day, Simon’s junior year has suddenly gotten all kinds of complicated.

Now, change-averse Simon has to find a way to step out of his comfort zone before he’s pushed out—without alienating his friends, compromising himself, or fumbling a shot at happiness with the most confusing, adorable guy he’s never met.

Tokoh

Simon Spier

Simon Spier. Photo: 20th Century Fox
Simon Spier. Photo: 20th Century Fox

Remaja 16 tahun yang cukup populer dengan kehidupan sosial cukup mulus. Merasa seperti ‘menahan napas’ selama bertahun-tahun karena harus menyembunyikan jatidirinya sebagai seorang pria homoseksual.

Blue

Pemuda gay yang jadi ‘sahabat pena’ Simon. Salah satu murid di sekolah Simon yang mengirimkan pengakuan anonim ke halaman Tumblr sekolah (or something like that, I don’t remember). Tak ada satu orang pun yang mengetahui siapa dirinya.

Leah Burke

Leah Burke. Photo: 20th Century Fox
Leah Burke. Photo: 20th Century Fox

Sahabat terlama dan terdekat Simon. Memiliki selera humor sarkastik dan bisa dibilang membenci manusia pada umumnya, kecuali Simon dan Nick.

Abby Suso

Abby Suso. Photo: 20th Century Fox
Abby Suso. Photo: 20th Century Fox

Murid baru di sekolah yang tak butuh waktu lama untuk masuk ke lingkaran dalam Simon. Berkulit gelap, ekstrovert, dan terlalu cantik untuk menjadi anak yang tidak populer.

Nick Eisner

Nick Eisner. Photo: 20th Century Fox
Nick Eisner. Photo: 20th Century Fox

Bintang sepakbola sekolah, filsuf amatir, penyanyi berbakat, dan gitaris. Salah satu dari sekian banyak pemuda di sekolah yang memendam rasa kepada Abby.

Martin Addison

Martin Addison. Photo: 20th Century Fox
Martin Addison. Photo: 20th Century Fox

Class clown. Pemuda jangkung dengan selera humor ganjil yang mencoba ‘memeras’ Simon untuk menjadi comblang bagi dirinya dan Abby.

Cal Price

Cal Price. Photo: 20th Century Fox
Cal Price. Photo: 20th Century Fox

Pemuda ramah yang menjadi manajer panggung untuk teater sekolah. Simon berharap dialah Blue.

Bram Greenfeld

Bram Greenfeld. Photo: 20th Century Fox
Bram Greenfeld. Photo: 20th Century Fox

Bintang sepakbola sekolah. Berkulit gelap, pendiam, sopan, dan lebih suka mengulum senyum daripada ikut larut dalam pembicaraan di meja makan kantin sekolah.

4 Poin untuk:

check sign

Story

check sign

Setting

check sign

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review (buku)

Saya jarang-jarang mengulas fiksi bertema LGBT, mungkin malah cuma sekali sebelum ini. Tapi Simon Vs The Homo Sapiens Agenda ini menurut saya cukup istimewa, jadi saya sempatkan untuk menulis review selengkap zaman-zaman awal blogging, meskipun masih kagok.

Jadi buku ini secara garis besar menceritakan konflik batin Simon Spiers,  Iya, Simon adalah closeted gay yang bimbang untuk coming out. Bukan karena takut keluarganya tidak bisa menerima dirinya lagi. Simon memiliki orangtua yang sangat terbuka. Ibunya adalah psikolog anak yang tentunya paham seperti apa perjuangan anak-anak gay untuk diterima lingkungan sekitarnya. Ayahnya juga sangat terbuka meskipun sering melontarkan lelucon seksis. Bahkan teman-teman dan sekolah Simon pun sebenarnya menganut pemikiran yang terbuka terhadap konsep LGBTQIA. Tapi tentunya masih ada rasa ragu di batin Simon.

Poin penting dari Simon vs The Homo Sapiens Agenda adalah perjuangan Simon untuk menemukan jalannya sebagai pemuda gay yang percaya diri atas identitasnya. Intensitas emosi di dalam cerita terasa cukup tajam. Terutama ketika rahasia Simon diketahui seluruh sekolah.

“A part of me feels like I jumped over some kind of border, and now I’m on the other side realizing I can’t cross back. I think it’s a good feeling, or at least an exciting feeling.”

Cerita romannya sendiri cukup manis dan menyentuh. Email-email Simon bersama Blue benar-benar penuh chemistry. Meskipun dua orang ini tidak pernah bertemu, saya yakin hampir semua pembaca tetap menginginkan happy ending untuk mereka berdua. Bahkan seandainya Blue adalah Martin Addison, si pemeras.

Satu hal penting yang coba Becky Albertalli ajarkan kepada para pembacanya adalah homoseksualitas tidak selalu perkara krisis maskulinitas. Siapa pun bisa menjadi seorang pria yang percaya diri dengan maskulinitasnya dan memeluk jati diri sebagai gay. Sebaliknya, seorang pria straight berhak menyukai warna pink tanpa dihujat sebagai maho atau sekong. Pemikiran-pemikiran judgmental seperti itu cuma prasangka yang berakar dari stereotip. Sudah waktunya diluruskan atau dihilangkan sama sekali.

Intinya buku ini cukup mencerahkan pandangan awam saya terhadap gagasan tentang LGBTQIA. Saya rasa Becky Albertalli tahu betul apa yang coba disampaikannya, mengingat dia memiliki latar belakang sebagai psikolog berpengalaman selama bertahun-tahun.

Simon dan Peliknya Transisi dari Fase Anak-Anak ke Remaja

Selain isu LGBT di sini, satu hal yang juga patut disorot dari Simon vs The Homo Sapiens Agenda adalah permasalahan yang harus dihadapi Simon sebagai remaja yang tengah berada di garis batas antara fase anak-anak dan remaja. Terlepas dari kenyataan bahwa Simon adalah gay, pada akhirnya dia cuma seorang remaja yang berkutat dengan isu transisi.

“I try not to change, but I keep changing, in all these tiny ways. I get a girlfriend. I have a beer. And every freaking time, I have to reintroduce myself to the universe all over again.”

Ada banyak hal yang bisa membuat pembaca merasa terhubung dengan cerita ini, bahkan meskipun kita sudah jauh melewati masa remaja. Salah satunya adalah pengalaman pertama Simon mencicipi bir.

“I take a sip of my beer , and it’s-I mean, it’s just astonishingly disgusting. I don’t think I was expecting it to taste like ice cream, but holy fucking hell. People lie and get fake IDs and sneak intor bars, and for this?”

Saya rasa kita semua punya pengalaman yang mirip seperti ini. Ketika mencoba sesuatu yang ‘dewasa’ dengan ekspektasi tinggi, tetapi nyatanya cuma sesuatu yang ‘overrated‘ untuk benak remaja kita. Entah itu bir, rokok, first kiss, atau apa punlah. Saya sendiri masih ingat ketika diam-diam mencoba mengisap rokok di masa sekolah. Waktu itu saya langsung tersedak asap dan batuk-batuk dengan hebatnya. Sampai sekarang pun saya masih gagal paham kenapa orang-orang terobsesi sekali dengan rokok.

Referensi Budaya Pop

Simon vs The Homo Sapiens Agenda memasukkan banyak referensi budaya populer yang entah kenapa membuat saya tersenyum. Mulai dari Harry Potter, Kim Kardashian, Fruits Basket, Justin Bieber, sampai The Hunger Games. Juga musik-musik rock oldies yang didengarkan Simon dan Blue.

Kim K merilis Selfish. Photo credit: Amanda Edwards/WireImage

Tampaknya Becky Albertalli tergila-gila dengan festival dan kostum. Dia memasukkan tiga festival sekolah sekaligus di dalam cerita. Setelah homecoming ada gender bender dan disusul dengan Halloween. Semuanya melibatkan kostum heboh.

Masih ada pula tradisi keluarga Simon yang unik, scavanger bermodal Facebook dan menyanyikan lagu chipmunk di hari Natal.

 

Judul: Love, Simon
Sutradara: Greg Berlanti
Bahasa: Inggris
Tahun rilis: 2018
Produksi: Fox 2000 Pictures, Temple Hill Productions, TSG Entertainment
Genre: young adults, drama, contemporary romance, LGBT

Sinopsis (film)

Simon Spier is a closeted gay high school boy living in a suburb of Atlanta, Georgia. He has a close and loving family—parents Emily and Jack, and sister Nora—as well as three best friends: Nick and Leah, whom he has known most of his life, and newcomer Abby.

One day, Leah informs Simon about an online confession of a closeted gay student at their high school, known only by the pseudonym “Blue”. Simon begins communicating with Blue via email using the pseudonym “Jacques”. The two confide personal details and form a connection. However, their emails are accidentally discovered by another student, Martin, who is infatuated with Abby. After learning his secret, Martin blackmails Simon by threatening to make his emails public unless he agrees to help Martin win over Abby.

This closeted gay high school boy is forced to balance his friends, his family, and the blackmailer threatening to out him to the entire school, while simultaneously attempting to discover the identity of the anonymous classmate with whom he has fallen in love online.

Level of Interest

Review (film)

Karena sudah banyak yang saya bahas di review buku, saya rasa tak banyak yang bisa saya tambahkan lagi di review film adaptasi Simon vs The Homo Sapiens Agenda. Jadi saya akan menyoroti para aktor dan beberapa adegan terbaik saja.

Nick Robinson, pemeran Simon menunjukkan kualitas akting yang cukup mengesankan di sini. Dia adalah tipe pemuda yang berbeda dari Peter Kavinsky-nya Noah Centineo. Simon adalah pemuda yang unyu dan simpatik dengan tatapan canggungnya. Dari segi akting, saya rasa dia sedikit lebih articulate daripada Centineo. Interpretasinya terhadap karakter Simon membuat saya seolah kepingin memeluk cowok unyuk ini. Sayangnya, Robinson seperti terjebak di peran-peran serupa. Ini adalah kesimpulan saya setelah menyaksikan perannya di Everything Everything dan Krystal. Dia perlu peran yang lebih menggigit untuk segera lepas dari citra remaja.

Leah yang diperankan oleh Katherine Langford adalah karakter yang simpatik di sini. Berbeda dengan Leah versi buku yang grumpy, suka ngambek, dan sarkastik sampai tahap menyebalkan.

Abby versi film tidak berambut panjang. Tetapi secara garis besar dia masih gadis ekstrovert dan charming yang sama. Nick, Bram, dan Martin juga tidak beda jauh dengan karakter mereka di buku.

Love, SImon. Photo: 20th Century Fox
Love, SImon. Photo: 20th Century Fox

Simon menunjukkan chemistry yang nyata dengan keluarganya. Terutama dengan sang ibu yang diperankan oleh Jennifer Garner. Ayah Simon yang diperankan Josh Duhamel pun aktingngnya cukup mengena. Bisa dikatakan dia berhasil memerankan bapak-bapak Kinsey 6 straight dengan dad jokes cenderung seksis yang tidak tahu bagaimana harus menunjukkan dukungan kepada putranya yang gay.

Love, SImon. Photo: 20th Century Fox
Love, SImon. Photo: 20th Century Fox

Adegan paling emosional di dalam film ini adalah ketika Simon mengkonfrontasi Martin karena membocorkan rahasianya kepada seluruh sekolah.

Sementara adegan paling meyentuh adalah ketika Simon mengirimkan surat terbuka kepada Blue dengan mengatakan kalau mereka berhak untuk mengalami kisah cinta yang indah.

Saya puas film ini berakhir dengan manis untuk semua orang. Tak ada adegan intim yang R rated macam Call Me By Your Name. Jadi rasanya masih bisa dinikmati oleh penonton straight sekalipun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.