[Review Buku & Film] Catatan Harian Sang Pembunuh

Sudah lama juga nggak blogging. Belakangan lebih sibuk mainan template Canva. Maklum, anak kurang kreatif. Nggak bisa bikin postingan yang cakep pake desain sendiri. Ini adalah kali pertama saya pakai visual editor-nya WordPress yang baru. Kebiasaan pakai yang classic mode, jadi agak ribet juga, ya. Tapi tampilannya memang lebih modern, meskipun masih butuh waktu buat membiasakan diri.

Unggahan kali ini berisi review tentang Diary of A Murderer, novella dari Korea yang sudah diangkat ke layar lebar dengan judul Memoir of a Murderer (2017). Salah satu best read saya di tahun 2020, nih.

Catatan Harian Sang Pembunuh (Diary of a Murderer): Novella

Catatan Harian Sang Pembunuh. ©2019 Gramedia Pustaka Utama

Judul: Catatan Harian Sang Pembunuh – Diary of a Murderer
Judul Asli: A Murderer’s Guide to Memorization
Penulis: Kim Young-ha
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 160 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2020)
Genre: fiksi, misteri, psychological thriller, crime thriller

Cerita

Taken from Goodreads:

Terakhir kali aku membunuh seseorang adalah 25 tahun yang lalu—atau 26 tahun yang lalu? Kurang-lebih begitulah.

Kim Byeong-su adalah mantan pembunuh berantai berumur 70 tahun yang mulai hilang ingatan akibat demensia. Demi mempertahankan ingatan yang tersisa, ia pun mencatat semua yang terjadi pada dirinya, termasuk kehadiran kekasih putrinya yang dicurigainya sebagai pembunuh berantai yang kini mengincar wanita-wanita di desa tempat tinggal mereka.

Kim Byeong-su harus memastikan putrinya tidak menjadi korban berikut. Ia pun memutuskan membunuh pria itu, sebelum ingatannya hilang seluruhnya.

Para Tokoh

Kim Byeong-su

Seorang pensiunan dokter hewan yang memilih hidup menyendiri bersama puterinya di pedesaan. Tak ada yang tahu, penggemar puisi berusia 70 tahun yang sudah pikun ini sudah membunuh banyak orang di masa mudanya.

Kim Eun-hee

Puteri semata wayang Kim Byeong-su. Seorang anak yang penyayang, namun kerap berselisih dengan ayahnya. Eun-hee tak tahu kalau kedua orangtua kandungnya adalah korban kesadisan Kim Byeong-su puluhan tahun lalu.

Park Ju-tae

Seorang polisi yang cukup ramah dan karismatik, calon suami pilihan Eun-hee. Namun Byong-su yakin pria ini adalah pembunuh berantai seperti dirinya sejak pertama bertemu.

Novella, Cerita Pendek, atau…

Sebenarnya Diary of a Murderer ini apa, sih, ya? Novel, tapi, kok, pendek amat. Cerpen, tapi, nggak pendek juga. Jadi namanya apa? Dulu saya sering bertanya-tanya kalau menemukan cerita yang kayak begini. Sekarang sudah paham kalau ini namanya novella.

Barangkali masih awam dengan istilah novella seperti saya waktu itu, ini saya sertakan definisinya dari Merriam-Webster, ya.

Definition of novella

1plural  novelle: a story with a compact and pointed plot

2plural  novellas: a work of fiction intermediate in length and complexity between a short story and a novel.

Merriam-Webster

A novella is a short novel, that is, a narrative prose fiction whose length is shorter than that of most novels, but longer than most short stories. 

Wikipedia

Gampangnya, novella adalah cerita fiksi yang panjangnya berada di antara novel dan cerpen.

Tapi khusus Diary of a Murderer ini masih agak ribet juga, ya. Soalnya, buku ini didaftar ke novel-novel karangan Kim Young-ha oleh Wikipedia. Sementara itu, beberapa penerbit luar menerbitkannya sebagai cerita pendek yang dikompilasi bersama cerita-cerita lain. Tapi, karena di sini memang diterbitkan secara terpisah dari cerita-cerita lain, saya anggap novella sajalah, ya.

5 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review (Buku)

Meskipun tema yang diusung lumayan bikin stres, seperti tren crime thriller di K-drama 2021, saya bisa bilang kalau Diary of a Murderer ini bacaan ringan. Ringan karena ceritanya cukup pendek, tidak bertele-tele dan cukup seru untuk diselesaikan dalam sekali jalan.

Ceritanya mencekam, serasa baca thriller Jepang. Tapi kalau thriller Jepang biasanya lebih terkesan dingin dan absurd, sih.

Penyajiannya cukup berbeda daripada thriller yang lain. Novel berformat catatan harian sudah biasa. Menjadikan seorang pembunuh sebagai narator sebenarnya juga bukan hal baru. Tapi di sini sang narator adalah pembunuh yang sudah pikun parah.

Kisah Kim Byeong-su, pensiunan dokter hewan yang juga pensiunan pembunuh berantai ini sangat menarik buat saya. Kim Young-ha menghadirkan sisi humanis seorang kriminal lewat tokoh Kim Byeong-su yang bertentangan. Tetap arogan dan berjiwa kriminal bahkan di tengah kerapuhannya sebagai manula yang menderita alzheimer, namun juga mengundang iba di saat bersamaan.

Pembunuh berbakat sepertiku saja sudah berhenti membunuh, tapi dia masih menulis puisi dengan bakat seremeh itu?

Kim Byeong-su

Ada sentuhan ironi di balik perasaan tak berdaya Kim Byeong-su yang dibalut sikap sinis. Rasa cintanya kepada sang anak, Eun-hee juga lumayan menyentuh. Di sinilah letak sisi humanis Kim Byeong-su, saat dia berpacu dengan alzheimer yang menggerogoti mentalnya untuk menyelamatkan Eun-hee.

Yang menakutkan itu bukan iblis, melainkan waktu. Tidak seorang pun bisa mengalahkan waktu.

Kim Byeong-su

Mind games-nya lumayanlah. Rasanya jadi ikutan gila karena bingung, mana realitas yang benar. Buat saya, sensasinya kayak nonton Number 23 atau Vanilla Sky.

Plot twist yang coba dihadirkan Kim Young-ha dari pertengahan hingga akhir cerita juga lumayan bagus. Memang tidak semengejutkan ekspektasi saya. Seperti yang sudah saya sebutkan, ini bukan alur cerita yang belum pernah dipakai penulis lain sebelumnya. Cuma sayanya sudah terlanjur hanyut ke arah yang diinginkan Kim Young-ha untuk kita tuju. Jadi, ya, cukup mengena.

Intinya, cerita ini cocok buat mereka yang suka crime thriller, tapi sudah jenuh dengan plot yang formulaic. Coba, deh. Nanti kalau sudah selesai baca bukunya, baru lanjut ke filmnya.

Catatan Harian Sang Pembunuh (Diary of a Murderer): Movie

Memoir of a Murderer (2017). ©2017 Showbox

Judul: Memoir of a Murderer
Diangkat dari: A Murderer’s Guide to Memorization (2013)
Sutradara: Won Shin-yun
Bahasa: hangul (Korea)
Tahun rilis: 2017
Produksi: Showbox/Mediaplex
Genre: misteri, drama, psychological thriller, crime thriller

Sinopsis (film)

Taken from Showbox:

Former serial killer Kim Byeong-su (Sol Kyung-gu) gets diagnosed with Alzheimer’s. The doctor tells him that it’s due to the aftereffects from a traffic accident 17 years ago; the same accident that stopped him from his killings and allowed him to live a normal life with his dear daughter.

When a series of murders occurs near his town, Byung-su gets worried whether the killings are his doing during his memory lapses. But then he comes across Tae-ju (Kim Nam-gil) and instinctively realizes that he is the serial killer. He reports this to the police, only to learn that Tae-ju is one.

Byung-su tries to find firm evidence that Tae-ju is a psychopath, but only raises Tae-ju’s interest in him and his daughter, Eun-hee. (Kim Seol-hyun).

Now with his memory slipping, Byung-su must find a way to protect his daughter from Tae-ju. Tae-ju even begins to woo Eun-hee. Byeong-su struggles to retain his memory and to kill Tae-ju.

Level of Interest

Review (film)

Jadi, rupanya saya ini sudah pernah menonton Memoir of a Murderer sebelum baca bukunya dan nggak ngeh kalau ini diangkat dari Diary of a Murderer.

Kenapa saya sarankan untuk baca bukunya dulu? Karena beberapa bagian di filmnya dibuat berbeda dari buku. Masalahnya, bagian yang berbeda ini cukup krusial. Jadi, mempengaruhi konklusi ceritanya juga.

Secara garis besar, ceritanya masih sama. Tentang Kim Byeong-su yang berusaha menyelamatkan Eun-hee dari cengkeraman pria yang dia yakini sebagai psikopat dengan sisa-sisa ingatannya. Kali ini nama si pria yang ternyata memacari puterinya itu adalah Min Tae-ju, bukan Park Ju-tae.

Kim Nam-gil beradu akting dengan Sol Kyung-gu di Memoir of a Murderer (2017). ©2017 Showbox

Adu akting antara Sol Kyung-gu dan Kim Nam-gil di film ini bagus banget. Upaya mereka untuk outsmart satu sama lain bikin ceritanya semakin seru.

Anda yang sudah duluan nonton film ini bakal menyebut bukunya kurang greget. Karena film ini thriller-nya lebih kental. Lebih tegang memang, meskipun saya lebih memilih keseluruhan cerita di buku.

Nah, kalau masih belum bosan dengan tontonan crime thriller plus psychological thriller, tapi nggak betah nunggu sampai belasan episode, bolehlah coba nonton film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.