[Review Buku] Audiobook First Timer: The Hunger Games

The Hunger Games Audiobook Special Edition Tatiana Maslany

Audiobook, format bacaan yang sebenarnya sudah ada sejak lama. Tapi karena saya jenis pembaca yang lama menyerap kemajuan teknologi, jadilah saya masih asyik baca buku fisik dan e-book sampai minus naik dari -0,75 ke -2. Lalu, tibalah masanya seorang wanita kudet ini mencoba audiobook.

Karena masih first timer, saya pilih yang ada di Spotify saja. Pilihannya antara sastra klasik atau YA dystopia yang sudah lawas. Akhirnya, saya pilih The Hunger Games saja yang memang sudah saya akrabi ceritanya. Selama ini saya bacanya dari koleksi pribadi yang terjemahan. Kali ini coba versi bahasa aslinya, karena, ya, adanya memang itu.

The Hunger Games yang saya baca (atau dengarkan) ini adalah edisi spesial yang unabridged dan dinarasikan oleh Tatiana Maslany.

The Emmy-winning, chameleonic Orphan Black actress is now joining the Hunger Games family. Maslany has been tapped to narrate the special-edition audiobook of Suzanne Collins’ trilogy, pegged to its 10th anniversary, which we announced here at EW back in April. The package is set to include more than 50 pages of new content, including extensive interviews and a comprehensive timeline.

Sumber: The Entertainment Weekly

Karena trilogi The Hunger Games sudah saya kupas tuntas sampai jadi 10.000 kata, kali ini saya sharing pengalaman menikmati audiobook saja. Kalau mau baca review lengkap triloginya, silakan mampir di sini, ya. Pemilihan katanya masih agak alay, jadi harap dimaklumi.

The Hunger Games - Special Edition (Unabridged)
The Hunger Games – Special Edition (Unabridged) ©2018 Scholastic Audio

Judul: The Hunger Games (The Hunger Games #1) Special Edition
Penulis: Suzanne Collins, Tatiana Maslany (Narrator)
Bahasa: Indonesia
Format: Audiobook
Penerbit: Scholastic Audio (2018)
Genre: Fiksi ilmiah, dystopia, drama, aksi, young adults

Cerita

Adapted from Goodreads:

Panem, sebuah negara yang terbentuk dari Amerika Utara pasca-bencana terdiri dari Capitol yang makmur dan dikelilingi 12 distrik miskin berisi kelas pekerja. Menurut catatan sejarah, dahulu kala terjadi pemberontakan terhadap Capitol yang dipimpin Distrik 13. Pemberontakan yang gagal ini berujung pada kehancuran Distrik bungsu Panem dan melahirkan Hunger Games.

Sebagai bentuk hukuman dan peringatan, Capitol mewajibkan setiap distrik untuk mengirim sepasang anak lelaki dan perempuan untuk dilempar ke arena. Mereka harus saling bunuh untuk sebuah reality survival show yang menjadi hiburan bagi warga Capitol dan siksaan tahunan bagi warga distrik.

Ketika Katniss Everdeen, 16 tahun, mendengar nama adiknya terpilih sebagai peserta Hunger Games, dia tak ragu untuk menggantikan. Katniss dan rekan sedistriknya, Peeta harus terjun ke hutan dengan satwa-satwa yang telah dimutasi genetik, melawan peserta distrik lain yang jauh lebih unggul.

Namun, Katniss adalah seorang gadis dengan jiwa petarung. Baginya, bertahan hidup adalah sebuah keahlian.

Level of Interest

Review

Saya yang tipe reading/writing learner ini ternyata bisa menikmati audiobook. Barangkali ada faktor familiarity yang ikut berperan di dalamnya. Tapi, saya mendapati audiobook sebagai suara yang menenangkan. Sensasinya nggak beda jauh sama white noises suara hujan yang biasa saya dengarkan kalau lagi gelisah.

Suara Tatiana Maslany cukup soothing. Jadi, enak aja didengerin sambil jalan kaki 6 kilo. Saya pikir aktris ini cukup piawai menarasikan cerita lewat POV Katnis sambil sesekali menyuarakan dialog karakter lain. Terutama bagian Effie Trinket yang sangat sesuai bayangan saya. Cuma Katniss-nya kurang galak saja.

Teenage vibe-nya dapet. Saya bisa bilang begini, karena sudah membandingkan dengan narasi versi Carolyn McCormick yang menurut saya terlalu dewasa.

Walaupun begitu, ada beberapa bagian yang kurang nyaman didengarkan. Misalnya saat Maslany mencoba menggambarkan Katniss yang panik atau menggunakan intonasi tinggi dan kelewat girly untuk membedakan Katniss dan Peeta atau Gale. Tapi, ya, wajarlah. Kemampuan seorang narator pasti ada batasannya.

Saya menyelesaikan buku ini dalam waktu tiga hari, karena kalau kerja nulis artikel sambil dengerin audiobook, ya, sulit juga buat konsentrasi. Selain itu, rasanya agak lambat, karena normalnya saya bisa menyelesaikan buku ini dalam semalam. Tapi, mendengarkan audiobook pastinya tidak bisa pakai teknik skimming. Jadi, sekali lagi, sudah sewajarnya.

Soal 50 halaman tambahan yang katanya jadi bagian buku ini? Jujur, saya nggak menemukan perbedaan dari versi ‘katanya abridged‘ yang saya baca selama ini. Entah nggak ketemunya gara-gara dengerin sambil multitasking atau bagaimana. Wawancara spesial di bagian akhir? Sengaja nggak saya dengerin, karena pengen langsung lanjut ke buku kedua.

Secara keseluruhan, saya merasa Maslany mampu menghidupkan cerita dengan suaranya yang ’empuk’ itu. Mudah bagi saya untuk membayangkan setiap adegan dalam cerita. Jadi, kayaknya saya bakal mencoba audiobook lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.