Review: Great Expectations (1998), Modern Retelling yang Setengah Hati Dari Karya Charles Dickens 

Ada yang sudah nonton Great Expectations-nya Ethan Hawke sama Gwyneth Paltrow? Bukan film baru sih. Ini modern retelling novelnya Charles Dickens yang rilis di tahun 1998. Saya sendiri belum baca bukunya sampai kelar, baru satu bab dan itu pun waktu zaman kuliah. Tapi gara-gara nostalgia nonton video klip “Wishful Thinking” (OST. Great Expectations) saya jadi tergerak buat nonton filmnya.

Judul: Great Expectations
Diangkat dari: Great Expectations oleh Charles Dickens
Bahasa: Inggris
Tahun rilis: 1998
Produksi: Art Linson Productions
Genre:psychological thriller, drama kriminal

Sinopsis

This is a modernization of Charles Dickens’ 1861 classic novel of the same title.

It finds the hapless Finn as an orphan who struggles to became a painter in New York City.

He suffers a lot pursuing his unrequited and haughty childhood love, Estella.

Level of Interest

Review

Jadi, Great Expectations versi 1998 ini dibuka dengan adegan Finn, bocah lelaki kurang mampu yang ‘dengan terpaksa’ menyelamatkan seorang buronan berbahaya dari kejaran polisi. Beberapa lama kemudian, Finn diminta untuk datang ke mansion Miss Dinsmoor, seorang wanita kaya nan eksentrik di daerahnya. Miss Dinsmoor mengalami gangguan mental setelah ditinggalkan calon suaminya di altar. Miss Dinsmoor punya keponakan bernama Estella. Bocah cantik ini punya sifat flirty sekaligus dingin, bikin Finn jatuh cinta pada pandangan pertama. Finn lalu rutin dipanggil ke mansion untuk menghibur Dinsmoor dan menemani Estella bermain.

Singkat kata, Finn menghabiskan masa mudanya dengan di-PHP Estella. Sampai Estella pergi ke luar negeri tanpa pamit dan Finn memutuskan move on. Belum 100 persen sukses move on, Finn malah ketemu lagi dengan Estella. Sambil mewujudkan ambisi lamanya untuk menjadi pelukis terkenal, Finn kembali terombang-ambing oleh sikap misterius Estella.

Sensualitas dan Nuansa Serba Hijau

Sebelum membahas soal cerita dan akting para pemerannya, saya kepingin menyoroti sinematografi film ini. Penonton bakal disuguhi nuansa serba hijau dan tone ‘hangat’ khas musim panas di sepanjang film. Nuansa hijau ini paling kentara di adegan-adegan yang melibatkan Estella dan Miss Dinsmoor. Sesekali diselingi background hujan lebat nan gelap sebagai pendukung adegan-adegan muram.

Film ini juga menampilkan sensualitas yang menurut saya bukannya vulgar. Bukan semata-mata karena adegan nude yang dilakoni Gwyneth Paltrow. Adegan ciuman Finn dan Estella di air mancur (saat masih anak-anak dan sekali lagi saat dewasa) itu juga sensual, tapi artistik. Ngomong-ngomong, ide adegan first kiss-nya lumayan kreatif juga. Adegan itu mewakili keseluruhan karakter Estella sebagai mbak-mbak flirty, bahkan sejak usia dini ^^

Finn dan Estella - Great Expectations (1998). Photo credit: Great Adaptations
Finn dan Estella – Great Expectations (1998). ©1998 Art Linson Productions
Finn dan Estella - Great Expectations (1998). Photo credit: Great Adaptations
Finn dan Estella – Great Expectations (1998). ©1998 Art Linson Productions

Film Apik yang Sebenarnya Masih Bisa Jadi Sempurna

Sebagai orang yang belum pernah baca bukunya, saya berekspektasi lumayan besar terhadap film ini. Kayaknya saya bisa menikmati film ini tanpa berharap kelewat banyak. Tapi ternyata nggak juga. Menurut saya, film ini punya dasar cerita yang potensial, dengan karakter-karakter yang ‘seharusnya’ kuat dan aktor-aktris yang bagus pula (Hawke masih unyu di sini). Tapi saya merasa seperti sedang membaca novel panjang dan bagus yang disingkat jadi cerpen (atau malah flash fiction), lalu kehilangan seluruh esensinya.

Pergerakan alurnya terlalu cepat, kebanyakan flash forward. Saya ingin melihat jatuh bangunnya Finn dalam upayanya untuk move on dari Estella. Saya ingin tahu pergolakan batin Estella setiap kali dia harus membunuh perasaannya kepada Finn. Bagaimana sesungguhnya pandangan Estella yang dididik untuk membenci pria terhadap cinta? Seperti apa Miss Dinsmoor memanipulasi dua anak muda yang saling jatuh cinta ini? Menyesalkah dia sudah menghancurkan kehidupan Finn dan Estella?

Miss Dinsmore dan Finn. Photo credit: Cinema Sips
Miss Dinsmoor dan Finn. ©1998 Art Linson Productions

Saya sudah tahu jawaban semua pertanyaan itu, tapi saya tidak bisa melihatnya dalam film. Itulah yang bikin saya mangkel. Film ini tidak mengizinkan semua tokohnya menunjukkan ‘kedalaman’ masing-masing. Lebih mangkel lagi karena sebenarnya akting Ethan Hawke, Anne Bancroft, dan Gwyneth Paltrow di sini bagus. Apalagi karakter Robert DeNiro yang seharusnya menjadi kunci plot twist di akhir cerita, malah seperti tokoh figuran sekadar lewat yang nggak berkontribusi apa-apa. Pokoknya film ini serba nanggung.

Setelah nonton ini, saya jadi penasaran apa ada film adaptasi Great Expectation yang bagus. Dengar-dengar remake-nya yang rilis di tahun 2012 juga nggak terlalu bagus. Padahal, katanya lebih ‘patuh’ terhadap cerita orisinal. Sayang sekali, ya.

2 thoughts on “Review: Great Expectations (1998), Modern Retelling yang Setengah Hati Dari Karya Charles Dickens 

  1. ini kan cerita trio patah hati,..finn ,estella dan dinsmoor..,kalo aku lbh suka musik closing nya,”life in mono” by mono ,sangat syahdu bingittt…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.