[Review buku] SPEAK (2004), Sebuah Film Tentang Remaja, Alienasi Sosial, dan Pentingnya Bersuara

Poster film SPEAK (2004). Photo credit: IMDB
Poster film SPEAK (2004). Photo credit: IMDB

Akhirnya saya kembali menulis di blog ini dengan postingan tentang film lagi. Kali ini yang ingin saya bahas adalah film Speak (2004) yang dibintangi oleh mbak Bella Swan alias Kristen Stewart.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, film ini diadaptasi dari novel penyabet berbagai penghargaan dengan judul sama. Biasanya dikategorikan di berbagai situs ulasan sebagai fiksi bertema bullying. Tetapi daripada bullying menurut saya lebih tepat disebut social alienation atau pengucilan. Adegan bullying di dalamnya tidak sekeras 13 Reasons Why atau By The Time You Read This, I’ll Be Dead.

Film yang cukup sarat pesan moral ini menceritakan pengucilan oleh murid satu sekolah terhadap Melinda Sordino. Gara-garanya Melinda menghubungi 911 ketika menghadiri sebuah pesta yang diselenggarakan secara ilegal oleh murid-murid SMA. Akibatnya beberapa murid ditangkap oleh polisi. Melinda sendiri tidak pernah menceritakan alasannya menjadi pengadu. Tidak kepada polisi, orangtua, guru, maupun teman-temannya. Semua orang menyalahkan Melinda. Semua sahabatnya berpaling. Dan pada akhirnya Melinda memutuskan untuk semakin diam.

Potongan adegan film SPEAK (2004). Photo credit: Fanpop
Potongan adegan film SPEAK (2004). Photo credit: Fanpop

Pertanyaan terbesar pada setengah bagian pertama film adalah “Apa yang terjadi pada Melinda malam itu?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, film ini menunjukkan berbagai adegan dengan alur maju-mundur. Perlahan-lahan kita mengetahui jawaban pertanyaan pertama dan digiring pada pertanyaan besar kedua, “Bagaimana cara Melinda mengumpulkan keberanian untuk buka suara?”

Potongan adegan film SPEAK (2004). Photo credit: Fanpop
Potongan adegan film SPEAK (2004). Photo credit: Fanpop

Seperti judulnya, saya rasa pesan moral dalam film ini adalah pentingnya bersuara. Bukan hanya menyuarakan kebenaran atas hal-hal yang terjadi pada diri kita, tetapi juga menyuarakan pendapat dan pendirian. Hal inilah yang sedikit demi sedikit dipelajari Melinda dari guru kesenian dan pasangannya di lab sains.

Awalnya Melinda mencoba untuk mengekspresikan diri lewat lukisan. Dia menggambar banyak sekali pohon untuk kelas seni. Namun perlahan-lahan dia juga mulai mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Rachel/Rachelle. Ini merupakan langkah yang penting bagi Melinda, sebab apa yang terjadi kepada dirinya juga bisa terjadi kepada sang mantan sahabat.

Melinda juga belajar untuk mengutarakan pendapatnya tentang Heather yang sedikit banyak berteman dirinya hanya untuk memanfaatkan.

Sebagai penonton saya mendapatkan sebuah pelajaran tambahan. Jangan mudah menghakimi orang lain kalau kita tidak tahu dengan pasti alasan-alasan di balik tindakannya. Ini PR sekali buat saya. Bukankah menghakimi seseorang dari satu postingan di jejaring sosial atau berita sepihak di media massa itu sangat mudah?

Kembali ke film Speak, saya rasa film ini menyuguhkan pesan-pesan yang ingin disampaikan dengan baik. Saya bahkan menikmati akting Kristen Stewart yang biasanya tanpa emosi itu. Dia masih tetap si gadis canggung yang jarang tersenyum. Tidak beda jauh dengan Bella Swan. Tapi kebutuhan akting untuk memerankan Melinda memang seperti itu.

Speak. Photo credit: Goodreads
Speak. Photo credit: Goodreads

Untuk bukunya, saya baru membaca beberapa bab saja. Dan saya pikir film ini cukup patuh dengan cerita aslinya. Seperti biasa, filmnya memang tidak bisa menampilkan kedalaman cerita yang dituliskan Halse Anderson dengan sempurna. Tetapi film juga mampu menunjukkan sudut pandang yang berbeda mengenai beberapa adegan, terutama yang tidak bisa kita ketahui dari kacamata Melinda. Soalnya novel Speak sendiri memang diceritakan dari sudut pandang Melinda.

Saya sangat menikmati film Speak. Walaupun begitu, saya bisa bilang kalau film ini masih kurang kompleks kalau dibandingkan dengan The Assault yang saya tonton sesudahnya. Film yang satu itu terasa lebih realistis sekaligus pelik karena lebih ‘abu-abu’. Tetapi sebaiknya tidak perlu saya bahas di sini, karena ini adalah ulasan untuk Speak.

Bagi yang kepingin nonton drama remaja dengan tema bullying, silakan dicoba menonton Speak. Cukup oke, kok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.