[Just My Two Cents] Tentang Novita Estiti, Subject: Re, dan Kecenderungan Untuk Menulis Saat Sedang Sedih

Akhirnya saya menyambangi blog ini lagi setelah hiatus cukup lama. Tetapi saya di sini bukan untuk mengulas buku, meskipun ada beberapa mental note mengendap di otak yang bisa diolah menjadi dua atau tiga review.

Saat ini saya cuma kepingin bicara soal Novita Estiti. Bukan karena saya kenal orangnya, tetapi karena saya menyukai karyanya. Saya punya semacam love-hate relationship dengan Subject: Re, buku yang Novita tulis. Saya pertama kali membacanya semasa kuliah. Saat itu jiwa muda saya yang masih berbinar-binar (hahah) mencerca cerita yang ditulis Novita berikut caranya membuat kedua karakter utama selalu mengeluh, mengeluh, dan lalu mengkhianati segala hal yang ada di hadapan mereka. Tetapi entah kenapa saya tidak bisa meletakkan buku itu. Setelah tamat pun masih saya baca ulang sampai bertahun-tahun kemudian. Sampai saya tumbuh menjadi perempuan 31 tahun nan suram begini dan akhirnya mengerti apa yang dikeluhkan Nina dan Yudha. Dengar-dengar dua tokoh ini aslinya adalah Novita dan pacarnya saat itu. Email-email yang membentuk novel epistolari ini katanya juga asli. Pantas kalau rasanya begitu nyata.

Saya baru sadar kalau sedikit banyak saya ini seperti Novita Estiti, paling tidak dalam menangani emosi. Saya sempat membaca unggahan di blog-nya bertahun-tahun lalu. Saat itu Novita mengungkapkan kalau dia cenderung lebih banyak membuat sesuatu saat sedang bahagia dan lebih sering menulis saat sedang sedih. Sepertinya itulah yang sering saya lakukan dua tahun terakhir. Saat sedang merasa positif, saya cenderung optimis dan antusias. Jadinya terbangunlah keinginan untuk bikin macam-macam. Entah itu gambar iseng di Corel Draw, mengedit foto di Photoshop, bikin makanan antah-berantah (atau makanan baik dan benar yang saya masak sesuai resep), menanam kangkung di belakang rumah, jeprat-jepret foto untuk blog ini, atau kegiatan yang jadi hobi terkini saya, menjahit. Saya produktif juga rupanya kalau sedang baik-baik saja.

Kalau sedang susah, yah, saya produktif dalam hal lain sepertinya. Saya jadi suka menulis. Menulis apa saja. Kebanyakan adalah catatan pribadi atau surat yang tak pernah dikirim. Kadang, sangat kadang-kadang, saya juga menulis fiksi. Semuanya bernuansa suram tentu saja. Pernah satu kali saya menulis puisi tentang hubungan yang tak seimbang. Beberapa kali saya menulis flash fiction tentang gadis cantik nan psikopat, perselingkuhan, dua orang depresi yang jatuh cinta di saat paling tak tepat, dan yang baru-baru ini rampung soal stockholm syndrome. Semuanya tak lebih dari 400 kata. Tampaknya saya memang tidak punya kesabaran untuk menulis cerita yang lebih panjang.

Sepertinya saya mengerti kenapa Novita suka menulis saat sedang sedih. Menurut saya kesedihan itu punya dua wujud yang selalu berdampingan. Saat kita sedih, rasanya pikiran ini riuh sekali. Seperti sekelompok manusia yang teriak berbarengan di dalam kepala. Begitu ribut sampai kita tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan. Di saat yang sama, kesedihan terasa seperti batu berat yang menindih dada. Semakin lama semakin kuat menekan. Keduanya adalah wujud emosi dengan kekuatan besar untuk membuat kita lumpuh. Yah, mungkin kata lumpuh sedikit hiperbolik. Bolehlah kita sebut kesedihan sebagai emosi yang bisa membuat kita kelelahan bahkan untuk sekadar bangun dari kasur.

Kalau dibiarkan, kesedihan ini akan menggerogoti kita. Jadi kita pun berlarian putus asa untuk menghindarinya. Beberapa orang lantas memilih pengalihan, sementara sisanya mencari pelampiasan. Atau mungkin malah keduanya. Mungkin kamu yang ekstrovert akan langsung mencari salah satu sahabatmu dan mencurahkan semuanya sambil meneteskan air mata. Atau chat saja sebanyak mungkin teman untuk diajak gila-gilaan. Apa saja boleh, asalkan tidak harus berurusan dengan kesedihan seorang diri.

Sementara mereka yang memiliki kepribadian lebih tertutup mungkin cenderung memilih pengalihan yang tidak melibatkan orang lain. Misalnya berkendara sendirian atau menuangkan uneg-uneg lewat tulisan.

Saya akui tulisan adalah cara yang cukup bagus untuk setidaknya membuat suara-suara berisik di dalam kepala tadi lebih fokus. Bagi saya menulis efeknya lebih therapeutic daripada minta nasihat dari orang lain. Soalnya, yah, kita akui saja, meminta orang lain untuk 100 persen memahami inti masalah dari sekeranjang sampah emosional yang kita keluarkan ke hadapan mereka itu lumayan nggak masuk akal. Apalagi kalau mereka harus memberikan saran yang memuaskan hati. Lha wong kita sendiri masih nggak tahu apa yang harus dipertanyakan. Kita sendiri nggak tahu harus bagaimana, masak orang lain diminta tahu kita harus apa.

Mungkin menulis tidak cocok untuk setiap orang yang introvert juga. Tetapi saya rasa layak dicoba. Kalau kamu bersedia mencoba one night stand, rokok, atau alkohol, kenapa tidak mencoba menulis juga barang sekali-dua kali? Samar-samar saya ingat Novita pernah berkata kalau dia menerbitkan Subject: Re untuk berdamai dengan sesuatu di masa lalunya. Kelihatannya langkah itu cukup berhasil buat dia. Sekarang dia sudah jadi blogger yang cukup kondang dengan baju-baju DIY yang dia buat. Semoga saja itu menjadi bukti bahwa Novita sudah menutup lembaran suram dari masa lalunya. Dan seperti Novita yang mungkin sudah berhenti menjadi pemurung yang bertendensi untuk menulis, saya harap kita semua juga bisa menuju jalan itu. Saya harap setidaknya kita bisa berdamai dengan suara-suara ribut dan batu-batu itu. Setidaknya hari ini. Kalau tidak berhasil, masih ada one night affair tak bermakna yang bisa kalian rencanakan. Masih ada sederet botol minuman keras ilegal di toko pojokan. Silakan pilih cara yang kalian anggap paling manjur, asal tidak menyakiti orang lain. Yah, kalau mau pilih self destruction, setidaknya tak perlu ada hati lain yang harus ikut tergerus. Begitu saja.

Sepertinya saya sudah kebanyakan ngelantur. Jadi kita sudahi saja bahasan tanpa arah soal Novita Estiti dan kecenderungan untuk menulis saat sedang sedih ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.