Minuman apa yang biasa menemani ritual membacamu?

Baca buku itu paling enak pas lagi santai. Sambil leyehan di pojok ruangan yang paling PW ditemani cemilan atau minuman hangat. Kalau bisa dua-duanya ada. Kebetulan saya termasuk orang yang nggak cocok cemil-cemil lucu, soalnya kuenya langsung dihabisin dalam satu waktu. Jadi kalau mau baca-baca cantik temennya cuma minuman. Saya juga nggak punya pojokan cozy yang Instagram-able atau Pinterest-worthy. Lilin wangi sama book case cakep aja nggak ada. Persiapannya seadanya saja, yang penting nyaman dan aktivitas membacanya bisa bikin rileks.

Ngomong-ngomong soal minuman, kayaknya baca buku itu identik dengan secangkir kopi atau teh. Di situs-situs stock photos aja kebanyakan fotonya seperti itu. Padahal pakai minuman lain juga nggak masalah, sih. Cuma kalau baca sama minum es campur memang agak ribet, sih.

Kalau saya sendiri paling sering baca ditemani teh-teh ‘palsu’. Saya nggak cocok sama kopi, pure matcha, atau black tea, karena selalu sukses bikin berdebar dan gelisah. Akhirnya mood jadi jelek dan malah batal kepingin baca. Kadang malah minum teh yang bisa bikin tidur. Soalnya saya ini kalau kepingin cepet tidur kadang malah baca. Anehnya kalau dibawa baca malah lebih cepet tidur daripada maksa merem.

Sekadar iseng, sih, kali ini saya pengen cerita minuman apa saja yang biasa saya siapin kalau mau baca-baca cantik di kamar.

Matcha latte

Matcha latte. Photo credit: Pixabay
Matcha latte. Photo credit: Pixabay

Saya nggak bisa minum pure matcha, tapi suka banget sama matcha latte. Biasanya beli matcha powder 200 gram dari ex-temen kantor, Nova alias Nopek. Rasanya enak dan murah pula. Dulu dia juga jual selai matcha yang enak banget. Saya bikin matcha latte ini kalau lagi pengen memanjakan diri. Siapin latte dekat kasur, pakai masker, terus baca buku paling favorit sambil gegoleran. Preferable manga yang lucu-lucu macam Harlem Beat, Shonen Star, atau buku-bukunya Taamo.

Taro latte

Taro latte.
Taro latte. Photo credit: Dokumen pribadi

Taro latte ini awalnya saya beli yang kemasan 200 gram di Nopek juga. Lama-lama jadi obsessed dan setiap makan di mana pun pasti pesennya taro latte. Selain beli di Nopek, saya juga taro latte-nya Kopi Saku. Baru-baru ini coba punyanya Cha Time dan jatuh cinta setengah mati. Paling kental, milky, dan bahkan masih ada serat-serat ubi ungunya. Apalagi kalau dikasih tambahan egg pudding. Bikin kenyang banget. Saya yang nggragas pun perlu seharian kalau mau ngabisin taro latte ini.

Green tea tawar

Green tea
Green tea. Photo credit: Dokumen pribadi

Cuma pakai green tea biasa dari SOSRO atau Tjap Djenggot. Menurut saya lebih nggak pahit daripada merek lainnya. Bikinnya di gelas bir super gede (kalau di rumah) atau Mason jar ukuran 800 ml kalau lagi di kantor. Temen-temen saya bilangnya ini bukan gelas minum, tapi akuarium ikan koi.

Saya suka minum teh tawar banyak-banyak soalnya bikin badan berasa enteng. Apalagi kalau saya lagi bloated karena kebanyakan makan asin. Coba pakai teh melati ternyata rasanya terlalu tajam. Kayaknya teh melati memang cocoknya pakai gula.

Teh pandan

Teh pandan
Teh pandan. Photo credit: Shutterstock

Teh kok dari pandan? Ini saya iseng-iseng coba bikin. Biasanya di rumah bikin teh wangi ditambah pandan, tapi saya sengaja pakai pandan doang. Tinggal ambil pandan dari belakang rumah, dicuci, diikat simpul, terus direbus bareng airnya. Biasanya si daun pandan ikut saya tuang ke gelas biar wangi terus-terusan.

Teh pandan ini baunya enak banget. Selain itu katanya bisa mencuci ginjal, mendinginkan tubuh, mengatasi sakit kepala, dan bikin pikiran tenang.

Chrysanthemum tea

Teh chrysanthemum
Teh chrysanthemum. Photo credit: iStock

Chrysanthemum tea yang biasa saya minum nggak kayak gambar di atas. Biasanya saya pakai teh krisan instan yang bentuknya kayak serbuk dikristalisasi itu. Sudah dicampur gula juga, jadi tinggal ditambah air panas. Rasanya ringan dan baunya wangi.

Chamomile tea

Teh chamomile
Teh chamomile. Photo credit: Pixabay

Satu lagi tisane (teh bunga) yang menurut saya cocok buat teman baca buku. Biasanya yang saya pakai adalah teh chamomile celupya Lipton. Bau dan aromanya kata saya mirip chrysanthemum. Saya bayanginnya kalau baca buku sambil menyesap teh chamomile itu di luar ruangan. Duduknya berhadapan sama pohon maple yang daunnya memerah di musim gugur. Sekalian bayanginnya saya lebih kurus 20 kilogram, cantik, dan rambutnya kibar-kibar keren gitu.

Teh pala

Teh pala
Teh pala. Photo credit: Shutterstock

Teh ini beberapa kali dibuat ibu saat saya susah tidur. Bikinnya cuma masukin pala yang sudah digeprek ke air panas. Jadi warnanya lebih pucat daripada gambar di atas.

Katanya pala ampuh buat mengatasi insomnia. Makanya waktu anak-anaknya masih kecil ibu kebiasaan bikin sup atau tumisan pakai pala. Kan anak kecil suka rewel kalau sudah ngantuk tapi nggak bisa tidur.

Golden milk

Golden spice milk
Golden milk with turmeric, cinnamon, and nutmeg. Photo credit: Pixabay

Waktu Katniss dan Peeta disuguhi ‘satu jug berisi susu yang dibumbui sejumput rempah dan madu’ oleh pelayan di kereta menuju Capitol (Iya, saya apal isinya seluruh trilogi The Hunger Games sampe ke situ), mungkin yang dimaksud sebenarnya cuma susu dengan kayu manis. Pas sakit gejala typus bulan lalu saya susah tidur karena demam tinggi. Lalu saya pikir minum susu rempah seperti Katniss pasti bisa bikin badan enakan.

Jadilah saya ngotot ke minimarket dengan keringat mengucur deras tapi badan demam menggigil. Beli susu Ultra yang biru itu. Sampai di rumah langsung direbus bareng kunyit, merica, madu, pala, dan jahe. Penambahan kunyit dan merica ini saya tiru dari dua warung STMJ yang pernah saya kunjungi. Kayu manisnya malah lupa ditambahin. Setelah itu saya minum sedikit-sedikit sambil baring-baring baca biografi Jenderal Soedirman. Akhirnya bisa tidur, deh. Kapan-kapan bolehlah bikin golden milk lagi.

Teh Tarik

Teh tarik
Teh tarik. Photo credit: Dokumen Pribadi

Kalau yang ini sering bikin karena gampang, tinggal tuang dari sachet. Selain itu saya juga suka banget sama rasa dan aromanya. Teh yang tajam dipadu dengan susu memang pas banget. Saya cuma suka merek ini atau teh tarik homemade sekalian. Tapi yang homemade pun sebenarnya beli di kedai mie aceh. Kalau bikin sendiri suka nggak keluar busanya.

Jadi itu minuman-minuman yang biasa saya siapin buat temen baca buku. Kalau kamu, ritual baca bukunya ditemani minuman atau makanan apa? Cafe latte seperti di cover postingan ini, teh, cookies, atau apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.