[Review] Coraline, Berpetualang ke Dalam Mimpi Buruk Bersama Neil Gaiman

Coraline

Judul: Coraline
Penulis: Neil Gaiman
Bahasa: Indonesia
Format: paperback (232 hal.)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2004)
Genre: fiksi sejarah, drama

Sinopsis

Di flat yang ditempati keluarga Coraline ada 21 jendela dan 14 pintu. Tiga belas pintu bisa membuka-menutup, pintu ke-14 dikunci, dan dibaliknya hanya ada tembok batu bata. Suatu hari Coraline membuka pintu itu, dan menemukan lorong ke flat lain, di rumah lain yang persis dirumahnya.

Mulanya semuanya tampak menyenangkan di flat itu. Makanannya lebih enak. Mainan-mainannya mengasyikkan. Tapi di sana ada ibu lain, ayah lain, dan mereka ingin menahan Coraline di situ selama-lamanya. Mereka ingin mengubahnya dan tidak melepaskannya lagi.

Di rumah itu juga ada anak-anak lain yang terperangkap, jiwa-jiwa yang dipenjara di balik cermin. Dan Coraline satu-satunya harapan mereka untuk selamat.

4 Points for:

check signStory

check signSetting

Characterization

check signWriting style

check signMoral/interesting trivia

Level of Interest

Review

Butuh waktu bertahun-tahun buat saya untuk bisa menulis review yang pantas buat Coraline. Saya baca buku ini sewaktu kuliah tahun pertama. Tadinya cuma ngasih satu bintang karena ini adalah buku anak-anak terabsurd yang pernah saya baca.

Menurut saya Harry Potter itu sudah cukup gelap untuk ukuran literatur anak-anak. Sementara si Coraline ini sebenarnya tidak terlalu gelap, tapi jauh lebih absurd. Absurd in a creepy way. Memang tidak ada kematian yang ditunjukkan secara gamblang, tapi ibu palsu dengan mata dari kancing yang suka makan kecoak itu lumayan serem buat saya. Membaca Coraline itu membuat saya terbayang suasana mendung.

Bayangkan kalau kamu yang jadi Coraline. Tiba-tiba orangtuamu hilang dan kamu masuk ke dunia di mana segalanya sama seperti kehidupanmu, hanya saja lebih seperti mimpi buruk. Kucing liar di dekat rumah mendadak bicara. Orangtuamu yang di sana lebih cantik, lebih seru, dan membuatkan makanan-makanan enak. Tetapi mereka selalu membujuk untuk menjahit kancing ke matamu.

Pokoknya Coraline ini benar-benar aneh, tetapi justru di situlah daya tariknya. Buktinya saya baca buku ini berkali-kali sampai sekarang.

Coraline The Movie

Coraline (Movie). Photo credit: Laika/Pandemonium Films
Coraline (Movie). Photo credit: Laika/Pandemonium Films

Baru kemarin saya nonton film animasinya Coraline. Cukup banyak penyesuaian yang dilakukan agar cerita orisinalnya bisa diangkat ke layar lebar. Buku Coraline itu tergolong tipis dan ceritanya agak lempeng. Untuk layar lebar tentunya harus ditambah unsur-unsur ‘penyemarak’. Adegan dan dialognya diperbanyak. Selain itu ada penambahan karakter pula. Dalam hal ini adalah Wybie, bocah cerewet cucu pemilik flat yang ditempati Coraline.

Dunia dalam Coraline versi film ini lebih imajinatif. Karakter-karakternya juga lebih ‘berwarna’. Tidak seperti Mr. & Mrs. Jones, Tetapi garis besar ceritanya masih tetap sama. Bahkan nuansa muram saat mendung yang saya rasakan saat membaca Coraline juga terasa dari filmnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.