[Review film] The Kissing Booth, Bukti Bahwa Popularitas tak Selalu Dibarengi Kualitas

The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix
The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix

Judul: The Kissing Booth
Diangkat dari: The Kissing Booth (The Kissing Booth #1)
Sutradara:Vince Marcello
Bahasa: Inggris
Tahun rilis: 2018
Produksi: Komixx Entertainment, Netflix
Genre: Komedi romantis, remaja

Sinopsis

Taken from Wikipedia:

Born on the same day and time in the same hospital, Elle Evans (Joey King) and Lee Flynn (Joel Courtney) have been best friends all their lives. To protect their special relationship, the pair created a set of friendship rules they are sworn to follow including #9: relatives totally off limits, especially Lee’s bad boy older brother Noah (Jacob Elordi).

Noah always treats Elle like a little sister. But Elle starts to wondering what’s inside his mind when she found out that all this time he threatened all the guys who plan to ask her out.

Elle and Lee have to create a kissing booth for the school carnival. The two have difficulty finding people to participate but get a group of popular girls called the OMG’s (Olivia, Mia, and Gwyneth) to participate by lying to them saying that Noah likes one of them and will go if they go.

That night, the kissing booth is a success. However, girls including the OMG’s become angry when they discover that Noah is not actually working the kissing booth. For payback, the girls send Elle up to the booth to kiss a nerdy kid while blindfolded. The boy switches with Noah having him next in line to kiss Elle.

0 Point for:

Cerita

Akting

Sinematografi

Kostum & makeup

Moral

Level of interest

Review

Belakangan saya memang cukup sering nonton film. Dan kebanyakan diadaptasi dari buku, meskipun saya tidak memilihnya dengan sengaja. Sepertinya mengangkat buku ke layar lebar memang sedang tren. Ini memang langkah yang cukup aman bagi produser. Terutama kalau yang diangkat adalah buku-buku populer. Setidaknya mereka sudah punya cadangan penonton dari fanbase bukunya.

Nah, kali ini film adapatasi buku populer yang saya tonton adalah The Kissing Booth. Saya sendiri belum pernah mendengar buku karangan Beth Reekles ini sebelumnya. Setelah tanya-tanya Eyang Google demi keperluan review, barulah saya ngeh kalau buku ini berasal dari cerita di Wattpad. Rilis berseri di Wattpad, jadi fenomenal, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Dari sini sebenarnya saya agak skeptis. Pasalnya saya belum pernah menemukan cerita di Wattpad yang sesuai dengan selera. Film-film yang diangkat dari cerita viral seperti ini juga biasanya saya kurang cocok. Misalnya saja Sky of Love dan Fifty Shades. Saya merasa kedua cerita tersebut kelewat ‘mentah’, sehingga sulit bagi saya untuk menganggapnya menghibur.

The Kissing Booth - Beth Reekles. Photo: Bookish Lifestyle
The Kissing Booth – Beth Reekles. Photo: Bookish Lifestyle

Beth Reekles menulis cerita ini di usia 15 tahun. Di sinilah saya mulai bisa memahami kenapa film ini terkesan begitu girlish. Yang saya maksud girlish di sini adalah film penuh dengan sukacita masa remaja yang saya pikir sesuai dengan imajinasi gadis-gadis belasan tahun. Fakta bahwa tokoh utamanya, Elle jago olahraga, punya sahabat cowok yang tajir dan asik, dan sempat mencicipi adegan romantis di lokasi epik (tepatnya di balik Hollywood sign) rasanya memang pas dengan bayangan remaja tentang masa muda yang ideal. Saya sendiri sempat kepingin jadi Tita-nya Eiffel I’m In Love waktu masih piyik. Untungnya sudah sadar kalau fanatisme terhadap film tersebut adalah kekhilafan semata 😀

Terlepas dari itu semua, saya masih punya rasa salut terhadap Beth karena bisa merampungkan dan menerbitkan sebuah buku di usia yang begitu muda. Laris manis pula. Sampai diangkat ke layar lebar pula. Setidaknya itu adalah pencapaian tersendiri.

The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix
The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix

Jalan cerita

Saya pikir The Kissing Booth menawarkan cerita yang standar, tipikal komedi romantis untuk remaja. Dan sayangnya pengemasan cerita yang standar tadi juga ikutan standar. Terlalu banyak adegan klise. Bahkan karakter, dialog, dan lelucon-leluconnya pun sangat klise. Bagi saya rasanya seperti menonton adegan romantis yang dicomot dari film A, B, C, D, dst yang sudah populer jauh sebelum The Kissing Booth rampung ditulis Beth Reekles.

The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix
Noah menggantikan partner ciuman Elle. The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix

Beberapa hal paling mengganggu adalah perilaku yang terasa non-realistik dari para tokohnya. Contoh sederhana adalah alasan Elle memilih berangkat ke sekolah dengan rok SMP yang sudah kekecilan. Setelah itu si tokoh utama ini masih melakukan berbagai tindakan lain yang lagi-lagi tak masuk akal. Begitu juga dengan perubahan sikap Noah dan Lee yang seolah terjadi dalam waktu 1 menit. Rasanya terlalu ganjil untuk disebut masuk akal.

Eksplorasi tokoh sangat kurang, vague kalau menurut istilah keminggris dari saya. Bahkan karakter Elle yang inner voice-nya kita dengar hampir sepanjang film pun terasa kabur. Terlepas dari fakta gamblang bahwa dia adalah cewek yang tomboy dan konyol, apa yang kita tahu soal kepribadiannya? Apa saja hal yang dia khawatirkan sebagai seorang manusia? Apa kekuarangan utamanya? Apa yang membuat dia melakukan sesuatu dengan cara tertentu?

The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix
The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix

Begitu juga dengan karakter lainnya. Kenapa Noah bisa mengembangkan perilaku layaknya berandalan? Cerita masa kecil atau pengalaman traumatis apa yang membuatnya memiliki kecenderungan terhadap kekerasan? Kenapa saya tidak bisa menemukan alasan masuk akal bagi Lee untuk membenci kakaknya, selain kata-katanya sendiri soal Noah yang ‘mendapatkan segalanya’?

Saya paling terganggu saat Lee bertengkar dengan Elle dan Noah. Dengan egoisnya cowok ini berkata,

“My whole life, Noah has gotten everything that he ever wanted. The only thing I had that he didn’t was you. And now he has that, too.”

Kalau kamu mengatakan hal seperti itu karena ngambek sahabatmu pacaran dengan abang sekaligus rivalmu, sementara kamu sendiri punya kehidupan percintaan yang oke dengan pacarmu, ini sih namanya super egois dan kekanakan.

The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix
Lee dan Elle bermain DDR. The Kissing Booth (2018). Photo: Netflix

Dan cara mengucapkannya itu, lho. Sebenarnya Elle ini dianggap sebagai sahabat atau cuma objek tawanan di dalam dunia kecilnya yang penuh dengan kecemburuan?

Akting

Dengan jalan cerita seperti ini, saya pikir aktor mana pun sulit menunjukkan kualitas akting yang prima. Akting Joey King tampak lebih baik daripada rekan-rekannya, Joel Courtney dan Jacob Elordi karena dia memang mendapatkan porsi kemunculan yang jauh lebih banyak. Tapi siapa yang bisa menduga apakah ketiga aktor ini memang beneran bisa akting dengan dialog-dialog dangkal dan adegan komedi yang sama sekali tak lucu?

Satu lagi yang ingin saya soroti adalah fisik Jacob Elordi yang lebih cocok jadi adik Thor daripada anak SMA. Sepertinya miscast kebangetan ini. Bisa jadi dia sengaja dipilih karena beneran pacaran dengan Joey King. Tapi kok bisa nggak ada chemistry-nya gitu, ya?

Sinematografi

Dari sisi sinematografi, saya rasa The Kissing Booth masih oke-oke saja. Tetapi tidak ada yang spesial juga di dalamnya. Saya pikir genre film seperti ini memang tidak menekankan sinematografi. Apalagi film produksi Netflix begini kualiastnya mungkin setara dengan FTV kalau di Indonesia.

Moral

Saya harap film ini tidak akan menjadi kompas moral bagi para remaja dalam memandang hubungan dan persahabatan. Menurut saya Lee maupun Noah sama-sama bukan sosok yang baik untuk Elle. Kakak beradik ini secara tidak langsung sudah mengontrol kehidupan Elle selama bertahun-tahun. Saya paham kalau adik-adik memandangnya sebagai sesuatu yang unyu atau romantis. Tapi sebenarnya ini perilaku yang tidak sehat. Untunglah tidak ada adegan intim yang dipaksakan atau stalking yang biasanya sepaket dengan perilaku controlling seperti ini.

Akhir kata, saya cukup yakin ketika mengatakan bahwa The Kissing Booth bukan termasuk film yang berkualitas. Memang masih cukup layak tonton, tetapi jangan berharap banyak dari segi cerita atau chemistry antar pemain. Mungkin film ini tergolong sweet untuk anak-anak muda. Tapi saya rasa masih jauh kalau mau membandingkan film ini dengan To All The Boys I’ve Loved Before yang juga produksi Netflix, diangkat dari buku, dan mengusung genre setipe. Sama-sama tayang di tahun 2018 juga. Kalau yang satu itu recommended.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.