[Review buku & film] Murder on The Orient Express, Kenneth Branagh Bukan Hercule Poirot

Murder on the Orient Express. Photo: Gramedia Pustaka Utama
Murder on the Orient Express. Photo: Gramedia Pustaka Utama

Judul: Murder on the Orient Express – Pembunuhan di Orient Express
Penulis: Agatha Christie
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 360 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017)
Genre: Fiksi, detektif, misteri, thriller

Sinopsis

Tepat setelah tengah malam, gumpalan salju menghentikan kereta Orient Express. Padahal saat itu kereta mewah tersebut sangat dipadati penumpang. Tetapi, begitu pagi tiba, mereka kekurangan satu penumpang. Dia tewas di dalam kompartemen, dengan belasan luka tusuk, dan pintunya terkunci dari dalam.

Sebagai salah satu penumpang, Poirot berlomba dengan waktu untuk menemukan pelaku pembunuhan itu. Sebelum Orient Express kembali bergerak dan jejak si pembunuh raib untuk selamanya.

4 Poin untuk:

check signStory

check signSetting

check signCharacterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review (buku)

Murder on the Orient Express merupakan salah satu buku terfavorit saya. Juga termasuk karya Agatha Christie yang paling sering saya baca ulang di samping The Adventure of the Christmas Pudding.

Kabarnya Agatha Christie terinspirasi untuk membuat cerita ini karena tiga hal. Pertama adalah terjebaknya kereta Orient Express (Iya, kereta itu memang benar-benar ada dan beroperasi sampai tahun 2009) di Turki karena badai salju tahun 1929. Dua tahun kemudian Agatha Christie juga mengalami hal yang sama saat menumpang Orient Express, tetapi kali ini kereta berhenti karena terjebak hujan deras dan banjir. Ketiga adalah penculikan anak dari keluarga Lindbergh yang dikenal sebagai pesohor berpengaruh pada tahun 1932.

Lindbergh Kidnapping. Photo: Yankee Magazine
Lindbergh Kidnapping. Photo: Yankee Magazine

Jika dibandingkan dengan novel-novel Agatha Christie yang lain, Murder on the Orient Express termasuk salah satu yang terbaik. Plot twist-nya tidak sedahsyat The Murder of Roger Ackroyd, meskipun masih tetap membuat saya ternganga. Christie memang terlalu dewa untuk urusan plot twist di luar nalar.

Unsur thriller-nya tidak sekental And Then There Were None (atau dikenal juga dengan judul Ten Little Niggers). Tapi setting-nya memang benar-benar megah. Sebuah kereta api mewah yang terjebak di tengah salju. Satu pembunuhan dengan belasan penumpang sebagai tersangka. Beneran latar yang sempurna untuk film thriller.

Pengerjaan karakternya yang sangat banyak tergolong detail. Saya rasa pembaca tidak bakal bosan mengikuti wawancara Poirot dengan masing-masing tokoh.

Poirot sendiri melakukan hal-hal tak terduga. Di awal cerita, sang detektif Belgia sukses membuat saya terpana saat menolak ‘tawaran kerja’ dari Ratchett dengan kalimat ini,

Kalau Anda mau memaafkan saya karena alasan pribadi–terus terang saja, saya menolak tawaran Anda karena saya tak suka pada wajah Anda.”

Di akhir cerita pun dia masih melakukan satu hal mengejutkan lagi. Bahkan dengan plot twist yang nggak terlalu tajam sekali pun, ada sentuhan efek mic drop yang bikin konklusi cerita jadi greget. Menurut saya gregetnya bahkan melebihi novel-novel Christie yang lain. Benar-benar cerita yang cocok untuk teater atau film.

Murder on the Orient Express. Photo: IMDB
Murder on the Orient Express. Photo: IMDB

Judul: Murder on the Orient Express
Sutradara: Kenneth Branagh
Bahasa: Inggris
Tahun rilis: 2017
Produksi: Kinberg Genre, The Mark Gordon Company, Scott Free Productions
Genre: misteri, detektif, thriller

Sinopsis

In 1934, famous Belgian detective Hercule Poirot wants to rest in Istanbul, but must return to London for another case. His friend Bouc, nephew of the director of the Simplon-route Orient Express service, arranges a bunk for him aboard the train.

Unscrupulous businessman Edward Ratchett offers to hire Poirot as his bodyguard during the three-day journey, having received threatening letters from an unknown party, but Poirot refuses. That night, Poirot hears strange noises coming from Ratchett’s compartment, and later sees someone in a red kimono running down the hallway. An avalanche derails the train’s engine, stranding the passengers.

The next morning, Poirot discovers Ratchett was murdered during the night after having been stabbed a dozen times. Poirot and Bouc investigate the other passengers as repairs begin.

 

Level of Interest

Review (film)

Setelah baca buku ini untuk pertama kalinya di SMA, akhirnya tahun lalu saya berkesempatan menikmati adaptasi layar lebar Murder on the Orient Express yang dibesut oleh aktor dan sutradara Kenneth Branagh. Karena ini adalah film Hercule Poirot pertama yang saya tonton, tentunya saya jadi bersemangat. Dari awal saya berniat untuk tidak memasang ekspektasi tinggi. Tetapi karena begitu ngefansnya dengan sang detektif berkumis jlaprang dan Murder on the Orient Express, mau tak mau saya tetap berharap terlalu banyak. Dan akhirnya jelas kecewa.

Setting megah, bahkan lebih dramatis daripada bukunya

Bisa saya katakan kalau setting Murder On The Orient Express versi Branagh ini sangat megah. Bahkan lebih megah dan terkesan dramatis daripada yang saya bayangkan dari deskripsi di dalam buku. Meskipun saya rasa sebagian besar menggunakan CGI, tapi tak bisa dipungkiri kalau nuansanya pas dengan alur cerita. Alur cerita yang menurut saya seperti ‘kebisuan dingin nan menggigit’. Setidaknya itulah kesan yang saya dapat saat membaca bukunya. Dan bayangan itu kemudian didukung dengan setting film yang serba putih berkat hamparan salju.

Murder on the Orient Express (2017). Photo: 20th Century Fox
Murder on the Orient Express (2017). Photo: 20th Century Fox

Saya juga suka angle pengambilan gambar yang dipilih Branagh untuk adegan-adegan di luar ruangan maupun di dalam gerbong kereta. Terutama ketika Branagh ingin menekankan fakta bahwa sang tokoh berbohong. Dia akan menyorot wajah si aktor/aktris dari sudut yang membuat wajah mereka terlihat asimetris. Tetapi teknik seperti ini mungkin levelnya standar saja bagi para kritikus yang sudah menonton ratusan film.

Murder on the Orient Express (2017). Photo: 20th Century Fox
Murder on the Orient Express (2017). Photo: 20th Century Fox

Salah satu adegan yang paling saya sukai adalah ketika Poirot mengadili para tersangka di terowongan. Poirot memunggungi Orient Express yang berlatar salju, sementara para penumpang kereta duduk berjajar menghadap meja layaknya 12 rasul dalam lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci.

Tertolong oleh karisma Judi Dench dan pendalaman Michelle Pfeiffer

Tak mengejutkan jika Branagh memilih sederet aktor watak untuk memerankan para tokoh yang semuanya memiliki peran signifikan seperti Murder On The Orient Express. Saya menghargai upaya Branagh untuk membuat casting-nya lebih beragam dengan mengganti karakter Greta Ohlsson yang berkebangsaan Swedia menjadi Pilar Estravados. Tokoh berdarah latin yang diperankan oleh Penelope Cruz ini sebenarnya dipinjam dari Hercule Poirot’s Christmas. Saya juga mengamini keputusannya untuk menjadikan Arbuthnot yang seharusnya berdarah Italia (kalau nggak salah) menjadi seorang pria kulit hitam.

Saya berharap banyak dari Johnny Depp yang memerankan Ratchet/Cassetti. Peran antagonis dan eksentrik bisa dibilang merupakan ranahnya Depp. Tetapi Ratchet yang aura piciknya membuat Poirot muak pada pandangan pertama ini justru kurang menggigit saat diinterpretasikan oleh Depp. Willem Dafoe juga kurang menonjol dalam karakter Hardman yang dia perankan.

McQueen (Jish Gaad) dan Ratchet (Johnny Depp) di Murder on the Orient Express. Photo: 20th Century Fox
McQueen (Jish Gaad) dan Ratchet (Johnny Depp) di Murder on the Orient Express. Photo: 20th Century Fox

Aktor yang karismanya justru tak terbantahkan adalah Judi Dench. Saya rasa aktris senior ini memang selalu bisa mendominasi layar dengan wibawa dan pembawaan aristokrat dalam peran apa pun. Film-film James Bond, Pride and Prejudice (2005) sampai Victoria and Abdul merupakan bukti nyata karisma seorang Judi Dench.

Judi Dench sebagai Princess Dragomiroff di Murder on the Orient Express. Photo: 20th Century Fox
Judi Dench sebagai Princess Dragomiroff di Murder on the Orient Express. Photo: 20th Century Fox

Michelle Pfeiffer juga menunjukkan akting yang cukup prima sebagai Mrs. Hubbard. Tetapi yang menjadi masalah terbesar dari segi casting justru Kenneth Branagh alias Hercule Poirot.

Kenneth Branagh BUKAN Hercule Poirot

Branagh adalah aktor kelimabelas yang mencoba menghidupan karakter Poirot di layar. Tetapi menurut saya dia sama sekali bukan Hercule Poirot-nya Agatha Christie. Dan itu bukan karena kumisnya tidak sesuai dengan deskripsi di dalam buku. Bukan juga karena Branagh tidak punya tubuh kecil dan kepala berbentuk telur. Saya rasa perbedaan fisik antara tokoh di dalam buku dan aktor yang memerankannya tidak perlu menjadi masalah selama mereka bisa menginterpretasikan karakternya dengan tepat. Saya tidak pernah protes Jennifer Lawrence jauh lebih tinggi, berotot, dan dewasa daripada Katniss yang digambarkan buku The Hunger Games.

Kenneth Branagh sebagai Hercule Poirot di Murder on the Orient Express. Photo: 20th Century Fox
Kenneth Branagh sebagai Hercule Poirot di Murder on the Orient Express. Photo: 20th Century Fox

Hercule Poirot seharusnya membuat orang-orang memandang sebelah mata pada pandangan pertama. Poirot tidak pernah menggunakan intimidasi fisik untuk membuat tersangkanya mengaku seperti yang Branagh lakukan dengan nada tinggi dan mengancamnya. Poirot adalah pria yang sangat percaya diri atas pemahamannya terhadap sifat-sifat manusia, sehingga dia lebih suka menggunakan sel-sel kelabu itu untuk memutarbalikkan pernyataan tersangka, memancing fakta tersirat dari celetukan-celetukan sambil lalu, dan mengintimidasi dengan ketajaman auranya.

Dialog-dialog lemah dengan ending yang bahkan lebih lemah lagi

Kesalahan lain yang dibuat film ini datang dari improvisasi untuk adegan-adegan penting. Branagh dan timnya mencoba menambah kesan dramatis dengan sedikit sentuhan laga. Sampai situ masih tidak masalah, meskipun kenyataanya Poirot sama sekali bukan detektif yang tangkas dalam aksi semacam itu.

Poin yang terasa mengganggu adalah kecenderungan Murder On The Orient Express versi Branagh untuk menjelaskan setiap langkah yang diambil para tokoh dengan adegan-adegan tambahan tersebut. Mungkin hal ini memang berguna untuk memberikan pemahaman lebih mendalam bagi para penonton yang belum pernah membaca bukunya. Tetapi menurut saya pribadi justru menghilangkan efek mic drop di bagian konklusinya. Padahal justru poin inilah yang menjadikan Murder On The Orient Express tak terlupakan.

Kesimpulannya, saya anggap film ini tidak seluar biasa bukunya. Interpretasi karakter Hercule Poirot serasa salah kaprah. Tetapi paling tidak film ini bisa membuat orang-orang yang masih awam dengan genre ini tertarik untuk mengenal detektif-detektif klasik seperti Poirot, Holmes, Dupin, Rouletabille, hingga Akechi dan Mitarai. Saya sendiri cukup puas karena film ini bisa membuat salah satu sahabat saya tergerak untuk meminjam buku-buku Poirot dan Holmes yang saya punya.

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.