[Just My Two Cents] 9 Alasan Abusive Relationship di Fiksi Beda dengan Kehidupan Nyata

Unggahan ini saya tulis setelah rewrite artikel tentang tanda-tanda abusive relationship untuk pekerjaan kantor. Saya rasa itu adalah topik yang penting untuk dibaca semua perempuan maupun pria di luar sana. Jadi, silakan baca link tulisan aslinya di sini. Atau kalau kalian malas baca yang bahasa Inggris, boleh juga mampir ke page tulisan saya ini.

Singkat kata, saya merasa terhubung dengan artikel yang saya rewrite tadi dan merasa masih banyak aspek yang bisa dibahas dari topik tersebut. Saya juga kepingin menyampaikan opini pribadi, karena merasa abusive relationship kerap dibahas dari satu sisi saja. Kerap disalahpahami dan orang-orang yang terlibat di dalamya terlalu sering dihakimi begitu saja.

Jadi inilah tulisan panjang tentang hal-hal yang ingin saya sampaikan mengenai abusive relationship dari kacamata seseorang yang pernah berada di dalamnya. Tentu saja setiap orang berhak menyanggah dan punya pendapat sendiri, karena pada dasarnya toh ini juga cuma sekeping opini dari saya. Apalagi saya tak punya latar pendidikan psikologi untuk mengulas topik ini dari sudut pandang profesional maupun ilmiah.

***
Suatu hari saya menonton sebuah film pendek berjudul Maya, Raya, Daya yang dibintangi Luna Maya. Ada satu adegan di mana Luna dikasari oleh pasangannya yang diperankan oleh Winky Wiryawan. Sampai telapak kaki naik ke muka mulus si Mbak Lun segala. Waktu itu terpikir oleh saya, “Kok bisa ada perempuan yang diam saja diperlakukan seperti ini.”
Kali lain saya membaca Bully-nya Penelope Douglas. Lalu 50 Shades of Grey. Pikiran saya masih sama seperti saat saya menonton Maya, Raya, Daya. Saya jumawa, berpikir cuma perempuan bodoh yang mau diperlakukan seperti Tate dan Anastasia Steele. Saya pikir kami; saya dan para perempuan di sekitar saya cukup pintar untuk tidak terjebak dalam situasi seperti itu.

Lalu salah satu teman saya menjalani hubungan toxic di mana pada beberapa kesempatan (menurut saya) dia mengalami physical & mental abuse. Teman saya itu sama sekali bukan perempuan bodoh. Dia bahkan jauh lebih pemberani daripada saya. Menemani dia melewati periode jahilliyah saat itu membuat saya sadar bahwa abusive relationship bukan sesuatu yang hitam putihnya bisa kita tentukan, takar, dan nilai dengan mudah.

Tidak seperti posisi pembaca fiksi yang punya keistimewaan untuk memandang situasi dari setiap sudut dan tahu apa yang harus dilakukan tokoh utama cerita, saya sering berada di posisi di mana saya tidak tahu harus memberi saran seperti apa kepada teman saya itu. Saya bahkan sering bingung harus berbuat apa dan lalu memutuskan untuk tetap berada di sisinya saja, apa pun pilihan yang akan dia ambil.

Kemudian, gantian saya yang berada di dalam situasi serupa. Tidak ada tangan yang pernah meninggalkan bekas di kulit saya. Tetapi di dalam sini mungkin saya sama babak belurnya dengan teman saya itu.

Dua tahun lebih saya berkutat dengan hubungan tak sehat yang jauh dari kata setara. Jadi sekarang saya punya perspektif baru lagi tentang toxic relationship. Ini adalah hubungan yang jauh lebih rumit daripada abusive relationship di novel atau film. Mungkin dramanya memang tidak semenggigit cerita rekaan, tetapi tetap menguras energi bagi siapa pun yang berada di dalamnya.

So, let me tell you how abusive relationship in real life is…in my point of view.

1. Tidak Selalu Melibatkan Physical Abuse

Tanpa seorang Christian Grey yang menghajar pantat saat amarah menggelegak pun, Anastasia tetap bisa kesakitan. Kesakitan secara emosional setidaknya. Bahkan tanpa disertai intimidasi fisik pun, mental abuse sudah cukup melukai pasangan.

Merasa terisolasi, dikecilkan, dan dibuat takut sedemikian rupa itu sama destruktifnya. Pada satu titik kamu akan lupa kalau kamu punya hak atas privasimu, mulai meragukan kewarasanmu sendiri, dan lalu bertanya-tanya apakah kamu ini manusia yang pantas menghuni permukaan bumi. Hahah..

2. Berangkat dari Gagasan Muluk Menyelamatkan Seseorang

Ada sebuah artikel tentang Borderline Personality Disorder yang menurut saya cukup akurat dalam menggambarkan abusive relationship. Si penulis, seorang psikolog, menyebutnya seperti bertemu dengan orang asing yang tenggelam dan melambaikan tangan untuk meminta pertolongan. Kamu terjun ke air untuk menyelamatkannya.

Kalian pun berhasil naik ke daratan. Kamu tawarkan secangkir teh panas dan sekeping biskuit. Kamu balut tubuh menggigilnya dengan selimut terhangatmu. Lalu plot twist-nya dia terjun ke dalam air di belakang kalian dan melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan lagi.

Kamu terkejut dan panik, lalu terjun ke dalam air untuk menyelamatkannya lagi. Tetapi situasi yang sama terus berulang, hingga akhirnya kamu sendiri ikut tenggelam.

Kamu masih berusaha mencapai permukaan air sambil menarik tangannya, tetapi kakinya menjejak dasar kolam berlumpur begitu kuat. Rupanya dia lebih terbiasa dengan kegelapan di bawah sana. Dia tahu bisa mati kalau berada di sana terlalu lama, tetapi cahaya matahari di permukaan terlalu menyilaukan baginya. Akhirnya, kamu gagal menyelamatkan siapa-siapa, termasuk diri sendiri.

Terdengar seperti situasi yang konyol? Memang seperti itulah rasanya bagi sebagian orang yang pernah berada di dalam hubungan toxic atau abusive.

Gagasan menyelamatkan seseorang yang kita sayangi dari gelapnya masa lalu atau pikiran-pikiran negatif yang menggerogotinya memang indah. Tetapi pada akhirnya kamu akan mendapatkan satu pelajaran berharga. Kita tidak bisa menyelamatkan seseorang yang tidak mau bergerak untuk menyelamatkan diri sendiri.

Kalau memang mau keluar dari sumur gelap yang mereka tinggali, mereka tidak akan melambaikan tangan kepada orang asing. Mereka bakal memanjat dinding sekuat tenaga, tak peduli seberapa licin dan tingginya. Tak peduli seberapa sering mereka jatuh terpeleset hingga harus memulai lagi. Sama seperti kamu yang nekat memanjat dinding sumur itu dengan tangan dan kaki telanjang seorang diri.

3. Bahkan Lelaki dan Perempuan Tercerdas pun Bisa Terjebak

Saya percaya saya cukup pintar dan kuat. Saya menyebut diri ini feminis. Saya pun tidak mudah klepek-klepek di hadapan lelaki, tetapi di sinilah saya bicara soal pengalaman menjalani toxic relationship kepada para pembaca di dunia maya.

Setiap orang punya titik lemah, bahkan mereka yang paling cerdas sekalipun. Jadi menurut saya siapa pun sebenarnya bisa saja terjebak di dalam toxic/abusive relationship. Tetapi toh kita semua juga punya kapabilitas untuk survive dari situasi semacam itu.

4. Si Abuser pun Punya Sisi Baik

Beneran kok, orang yang berperan sebagai ‘abuser’ dalam sebuah toxic relationship juga punya sisi baik. Mereka bukan tokoh antagonis seratus persen seperti di novel-novel roman. Mereka punya sederet kualitas positif dan sisi rapuh. Mereka tak bahagia dengan kondisi mereka saat ini. Kadang mereka juga sadar kalau mereka perlu memperlakukan pasangan lebih baik lagi.

Mungkin dia adalah seorang teman yang baik bagi orang-orang di sekitar kalian. Mungkin awalnya dia adalah sahabat yang paling mengerti dan kamu ingin percaya dia bisa menjadi pasangan yang baik pula. Mereka kerap merasa kecil, lalu jadi memanipulasi pasangan untuk merasa kecil pula. Mereka sangat takut ditinggalkan, sehingga menjadi posesif dan mengisolasi pasangan sedemikian rupa. Mereka ingin diselamatkan dan lalu menuntut pasangan untuk memperbaiki hidup mereka.

Mereka memang orang yang perlu diselamatkan. Namun mereka sendirilah yang perlu memulai langkah awal untuk menyelamatkan diri.

5. Si Korban Juga Bukan Orang Suci

Mereka yang pernah terjebak di dalam abusive relationship kerap dipandang sebagai korban. Memang seperti itulah keadaannya. Walaupun begitu mereka juga bukan seorang santo, yang tidak pernah berbuat salah tetapi tetap dizalimi juga.

Saya tetap percaya sebuah hubungan jadi tak seimbang dan lalu kandas karena kedua belah pihak di dalamnya sama-sama punya andil. Si korban pun pernah menyakiti, baik tanpa disadari maupun dengan sengaja. Tetapi itu pun tetap bukan alasan yang sah untuk melakukan mental & physical abuse. Apapun alasannya, tak ada satu orang pun yang berhak mendorong pasangannya hingga ke sudut tergelap pikiran mereka. Membuat seseorang merasa begitu kecil dan tak berharga.

6. Beberapa Pihak Mungkin Tidak akan Berada di Sisi Korban

Sebuah hubungan yang toxic/abusive bisa jadi terlihat nyaris sempurna dari luar. Bagi orang-orang yang tidak mengenal kalian cukup dekat, bisa jadi kamu terlihat seperti sosok yang lebih dominan, kuat, atau susah diatur. Sementara dia mungkin dipandang sebagai seseorang yang rapuh, sholeh/sholeha, sabar, pendiam, dll. Bisa jadi mereka memang begitu. Tetapi orang yang rajin sholat, pendiam, dan rapuh pun bisa menyakiti pasangan mereka dengan kata-kata, silent treatment, dan isolasi psikis.

Orang-orang di sekitarnya akan sulit percaya kalau sosok seperti ini bisa jadi abuser. Bahkan seandainya mereka melihat sendiri, kadang mereka memilih untuk tidak percaya.
Pada dasarnya orang nggak suka menghadapi kenyataan kalau mereka salah menilai orang yang sudah terlanjur mereka sukai. Sahabat, orangtua, atau orang-orang yang mengaguminya kemungkinan besar akan memilih untuk terus percaya kepadanya dan menempatkan kamu di kursi peran antagonis. Ikhlaskan saja. Find your people, then build your own support system.

7. Hal Paling Sulit untuk Dilakukan adalah Membunuh Simpati Kepada Abuser

Keluar dari toxic/abusive relationship memang bukan perkara gampang. Tetapi masih ada hal yang lebih sulit lagi untuk dilakukan, yaitu membunuh simpati terhadap abuser. Itu adalah perjalanan yang sangat panjang dan terjal.

Apapun yang pernah dilakukan oleh si abuser, selalu ada cara bagi mereka untuk membuat korban kembali bersimpati. Kadang si korban sendiri sudah begitu terbiasa dengan perlakuan buruk, sudah biasa berpikir mereka tidak akan bisa hidup tanpa si abuser. Jadi mereka pun merangkak masuk ke dalam sumur untuk bersama orang yang sudah menyakiti sedemikian rupa. Ini adalah lingkaran setan yang tak ada habisnya, kecuali si korban sendiri benar-benar memutus mata rantainya.

Satu hal lagi yang juga sulit untuk dilakukan adalah membunuh rasa bersalah. Rasa bersalah karena meninggalkan seseorang yang begitu kamu pedulikan demi menyelamatkan diri sendiri. Rasa bersalah karena berpikir kamu pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik di luar sana. Rasa bersalah karena berpikir kamu tidak cukup kuat untuk bertahan. Walaupun kamu sendiri sadar kamu tidak perlu merasa bersalah untuk semua itu.

8. Tes Kesabaran Paling Ultimate buat Orang-Orang Terdekat

Menjadi sumber dukungan emosional untuk orang yang sedang berada di dalam abusive relationship itu benar-benar ujian kesabaran dan kesetiaan. Saya sering cuma bisa mengelus dada setiap kali teman saya balikan dengan sang mantan. Teman saya dengan kepribadiannya yang eksplosif sering meledak, bahkan sampai meneteskan air mata gara-gara saya keras kepala mempertahankan hubungan yang jelas-jelas menyakiti saya.

Saya pernah menonton wawancara orangtua dari korban abusive relationship bertahun-tahun lalu. Mereka bilang emosi yang paling memberatkan mereka adalah merasa dikhianati oleh sang anak. Sekarang saya baru tahu maksudnya.

Sebagai teman dari orang yang berkutat dengan hubungan semacam itu, perasaan yang paling sering muncul di dalam diri saya adalah lelah dan terkhianati. Saya menemaninya menaiki roller coaster emosional berminggu-minggu, berharap pada akhirnya dia siap untuk move on. Tetapi ternyata dia memilih untuk kembali ke jalan terjal itu dan mau tak mau saya merasa bodoh karena sudah menghabiskan waktu dan energi untuknya. Situasi seperti ini terulang berkali-kali sampai orang yang kita sayangi itu benar-benar siap untuk meninggalkan hubungan toxic.

Dia pun merasakan hal yang persis sama saat menemani saya melalui masa-masa jahilliyah. Begitu juga dengan keluarga kami yang jadi ikut tersakiti. Tetapi pada akhirnya kami semua bisa bernapas lega.

9. Bisa Jadi Pengalaman yang Mengubah Hidup (dan Diri)

You can heal from wounds, but sometimes the scars stay for the rest of your life. Saya rasa itulah bagian yang harus diikhlaskan dari pengalaman menjalani abusive relationship. Butuh tekad bulat untuk keluar dari situasi semacam itu tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.

Ketika berhasil melakukannya pun, kamu tidak akan pernah menjadi orang yang sama seperti sebelum memasuki hubungan itu lagi. Ada beberapa hal yang terlanjur berubah dan tak bisa dikembalikan seperti semula. Beberapa di antaranya berubah ke arah positif. Beberapa lagi justru bergerak ke arah negatif dan mau tak mau kita harus merangkak susah payah lagi untuk kembali ke jalur yang benar.

Pada akhirnya saya cuma bisa bilang kalau abusive/toxic relationship adalah sebuah emotional roller coaster ride bagi si korban, orang-orang di sekitarnya, dan si abuser itu sendiri. Tidak perlulah kita menghakimi ketiganya, karena kita tidak sedang berada di dalam situasi yang pelik itu. Kita sendiri pun bisa saja mengalaminya, tak peduli seberapa cerdas dan kuatnya kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.