[Review Buku] 1984: Sebuah Dystopia Klasik, Ramalan Masa Depan Dunia dari George Orwell

Judul: 1984
Penulis: George Orwell
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 390 hal.
Penerbit: Bentang Pustaka (2014)
Genre: fiksi, dystopia, klasik

Cerita

Dikutip dari Goodreads:

Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan Partai meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka.

Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.

1984 merupakan satir tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. Hingga kini, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkannya ke puncak kemasyhuran.

4 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review

Sejak membaca bab pertama 1984, saya tahu ini akan menjadi salah satu buku yang paling sulit diulas. Karena saya ragu perbendaharaan kata yang terbatas dan keahlian saya dalam menjelaskan sesuatu (yang kurang) cukup untuk mengupas setiap lapisan dari dystopia yang tiada duanya ini.

Terlalu banyak hal yang bisa dibahas dari 1984. Tetapi karena kesan saya terhadap buku ini sangat kuat, setidaknya saya harus mencoba untuk menuliskan review-nya.

Singkat kata, 1984 adalah dystopia klasik yang ditulis George Orwell sebagai bentuk penolakan terhadap totalitarianisme. Buku tersebut rampung ditulisnya pada tahun 1948 dan menggunakan setting tahun 1984, namun di kemudian hari dianggap sebagai ramalan atas kondisi politik dunia di masa depan.

1984 Adalah novel yang ‘menakutkan’, bahkan tanpa adegan berdarah dan kepala yang meledak. Ini termasuk salah satu buku paling bikin depresi yang pernah saya baca, meskipun setiap detail kecilnya membuat saya ‘terpesona’ untuk terus membaca. Jelas 1984 bukan jenis buku yang bisa diselesaikan dalam semalam. Tetapi percayalah, dunia penuh kekacauan yang digambarkan Orwell di sini benar-benar menarik dengan caranya sendiri.

Masalah saya dengan buku ini cuma satu. Terjemahannya kurang mulus dibaca. Walaupun begitu nggak sampai mengganggu kenikmatan membaca juga. 1984 Masih tetap salah satu buku paling tak terlupakan yang pernah saya baca.

Sekilas tentang Oceania

Dalam jagat 1984, dunia dikuasai perang besar di antara tiga kekuatan adidaya, yaitu Eastasia, Oceania, dan Eurasia. Ceritanya sendiri disampaikan dari sudut pandang Winston Smith, seorang anggota Outer-Party yang patuh, namun diam-diam kerap mempertanyakan kebijakan negaranya, yaitu Oceania.

Oceania adalah negara totaliter yang dikuasai partai tunggal bernama Ingsoc. Wilayahnya mencakup Inggris, Amerika Serikat, dan Amerika Latin. Negara ini kerap berganti poros antara Eastasia dan Eurasia. Tujuannya adalah menaklukkan wilayah-wilayah kaya yang masih belum bertuan.

Ingsoc menggunakan sosok Big Brother sebagai simbol negara layaknya Korea Utara memuja Kim Jong-un. Masalahnya, tidak ada yang tahu apakah Big Brother who’s watching your every move itu benar-benar ada atau tidak. Apakah sang supreme leader benar-benar mengontrol Oceania ataukah dia cuma boneka yang dikendalikan para petinggi partai?

Sosok Big Brother di film 1984 (1984). Photo: Virgin Films

Sistem hierarki di negara tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu anggota Inner Party, Outer Party, dan kaum Proletariat yang dianggap sebagai kasta terendah. Lebih dari separuh warga Oceania adalah kaum Proletariat yang termasuk kelas pekerja dengan pendidikan rendah.

Partai mengatur setiap hal di Oceania lewat otoritas tiga kementrian, yaitu Ministry of Peace yang berurusan dengan perang dan pertahanan negara, Ministry of Plenty yang mengurusi perkenomian, dan Ministry of Truth berkutat dengan propaganda.

Tidak hanya mengatur kehidupan warga negara, pikiran setiap individu pun dimonitor oleh partai. Setiap gerakan dan ekspresi wajah dipantau oleh Thought Police (polisi pikiran) melalui telescreen yang bisa dikatakan mirip CCTV. Setelah itu ditelaah dan dinilai oleh Ministry of Love.

Pikiran yang bertentangan dengan filosofi partai, bahkan meskipun tak disampaikan secara terbuka, dianggap sebagai thoughtcrime (kejahatan pikiran) dan bisa membuat seseorang masuk Room 101.

Ingsoc menciptakan bahasa Newspeak yang kosakatanya sangat terbatas untuk memenjarakan kebebesan berpikir warga Oceania. Novel ini juga memperkenalkan konsep doublethink yang berarti menerima dua hal yang saling bertentangan sebagai kebenaran ganda.

Pendeknya, jika partai menyebut 2+2+5, maka itulah jawaban mutlak yang harus diyakini warga Oceania. Jika Ingsoc meminta salah satu kementriannya untuk mengubah keterangan sejarah sesuai posisi politiknya saat ini, maka itulah yang harus diingat dan didukung oleh warga Oceania tanpa syarat.

“Who controls the past controls the future. Who controls the present controls the past.”

Orwell dan Antitotalitarianisme

Saya rasa dari 1984 kita bisa melihat jelas kebencian George Orwell terhadap totalitarianisme. Menurut saya novel ini adalah bentuk sindiran paling tajam sekaligus propaganda dari Orwell. Ini adalah seruan terhadap dunia mengenai bahaya oligarki.

Meskipun tahun 1984 sudah lama berlalu, saya rasa novel ini akan tetap relevan untuk dibaca kapan pun. Karena akan selalu ada kekuasaan yang mencoba menggagahi masyarakat dan dunia, menyuntikkan ideologi totaliter dan menempatkan kediktatoran di puncak sebagai momok untuk mengontrol setiap aksi warganya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.