[Review Buku] The Borgias: Madonna of The Seven Hills (Lucrezia Borgia #1)

The Borgias: Madonna of The Seven Hills. Photo: Tantri Setyorini

Judul: The Borgias: Madonna of The Seven Hills
Penulis: Jean Plaidy
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 488 hal.
Penerbit: Elex Media Komputindo (2013)
Genre: fiksi sejarah (historical fiction), drama, dewasa

Cerita

Diterjemahkan dari Goodreads:

Wanita tercantik di Roma, Lucrezia Borgia lahir di dalam keluarga dan takdir yang tak mungkin diingkarinya.

Roma pada abad 15, klan Borgia tengah menanjak menuju tampuk kekuasaan. Ayah Lucrezia, Paus Aleksander VI melimpahi anak-anak haramnya, Lucrezia, Cesare, Giovanni, dan Goffredo dengan kemewahan dan skandal.

Dari hubungan gelap sang Paus dengan gadis-gadis di bawah umur, kecemburuan Cesare yang membangkitkan rumor inses, hingga rahasia kelahiran anak Lucrezia yang ditutup rapat-rapat, tak ada satu anggota keluarga Borgia pun yang sanggung menghindari skandal.

Lucrezia muda berangsur-angsur menerima takdirnya ketika dia mulai bisa berdamai dengan sikap posesif ayah dan saudara-saudara lelakinya. Namun lambat laun Lucrezia pun menyadari, cinta keluarganya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ketamakan mereka terhadap kekuasaan. Dia sendiri harus pasrah menerima takdir sebagai alat politik terbesar Borgia.

Dari tangan Jean Plaidy yang tak ada bandingannya, inilah legenda epik keluarga yang dipenuhi hasrat, intrik, dan pembunuhan — dan ini hanyalah permulaan.

The Borgias: Madonna of The Seven Hills. Photo: Goodreads
The Borgias: Madonna of The Seven Hills. Photo: Goodreads

1 Point:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review

Altri tempi, altri costumi. Lain masa, lain kebiasaan.

Itulah hal pertama yang disampaikan oleh Jean Plaidy di dalam kata pengantar The Borgias: Madonna of The Seven Hills.

Ini adalah cerita tentang intrik politik di Italia abad 15 di mana Paus bersumpah selibat hanya di mulut. Masa di mana seorang pemuka agama sama ambisiusnya dengan penguasa negara, hingga membangun jaring kekuasaan untuk memantapkan kejayaan klannya.

Ini adalah sebuah periode di mana Lucrezia Borgia (baca: Borja) hidup. Seorang wanita yang diingat sejarah sebagai femme fatale, perempuan mematikan, mengingat banyaknya lelaki di sekelilingnya yang kehilangan nyawa. Namun para sejarawan tengah meninjau ulang, apakah Lucrezia bukan cuma pion bagi percaturan politik yang dijalankan ayah dan kakaknya?

Lucrezia Borgia: Madonna of The Seven Hills adalah buku pertama dari sebuah seri. Sekuelnya berjudul Lights on Lucrezia. Buku ini menceritakan paruh pertama kehidupan Lucrezia, dari masa anak-anak sampai ke pernikahan politik pertamanya.

Nantinya buku kedua bakal membahas pernikahan politik kedua, ketiga, dst. Juga perkembangan Lucrezia dari sekadar bidak catur bagi sang ayah menjadi wanita cerdik yang tahu cara menggunakan pesonanya untuk mempertahankan kekuasaan secara mandiri.

Selain Lucrezia Borgia, buku ini juga membahas Aleksander VI yang dikenal sebagai paus terkorup dalam sejarah.

Semangat saya untuk membacanya timbul karena ‘bekal’ diskusi singkat soal Cesare Borgia dan Paus Aleksander VI dengan teman kantor. Kalau ditarik benang merahnya bisa sampai ke Machiavelli segala. Saya juga sengaja gugling-gugling soal klan Borgia, Colonna, dan Orsini dulu.

Sayangnya, semangat baca tinggi itu menguap di tengah jalan. Rupanya buku ini terlalu menonjolkan drama. Sisi politiknya kurang didalami.

Lucrezia si Putri Manja

Karakter Lucrezia versi Jean Plaidy juga terkesan membosankan. Seoran gadis cantik dengan kenaifan buta yang tidak peduli dengan pergolakan di sekelilingnya selama dirinya masih menjadi tuan putri kesayangan semua orang.

Di sini Lucrezia cilik adalah gadis manja yag mudah dimanipulasi, meskipun dia sendiri sudah mengembangkab bakat untuk mengadu kedua kakaknya. Cukup berbeda dari sosok Lucrezia yang kerap digambarkan sebagai perempuan mematikan.

Mungkin tujuan Plaidy memang menggambarkan Lucrezia dengan cara yang berbeda. Menjauhkan citra femme fatale yang selalu dikaitkan dengan namanya. Tetapi saya yakin Lucrezia akan menjadi tokoh cerita yang lebih berkesan jika Plaidy menjadikan dirinya wanita cerdas penuh kalkulasi. Barangkali hal ini baru akan Plaidy lakukan di buku kedua di mana lucrezia sudah banyak makan asam garam.

Pokoknya Lucrezia Borgia:Madonna of The Seven Hills ini bukan buku yang akan saya baca untuk kedua kalinya, meskipun keseluruhan ceritanya sendiri mudah dicerna.

Oh, iya. Agar tidak bingung, sebelum baca buku ini saya sarankan untuk setidaknya mengecek biografi Lucrezia Borgia di Wikipedia. Pasalnya kamu bakal bertemu banyak tokoh pria bernama Giovanni di buku. Mereka semua memang karakter nyata yang mampir di kehidupan Lucrezia.

Sekilas tentang Keluarga Borgia

Klan Borgia yang memakai lambang banteng merumput merupakan salah satu keluarga terkuat di Italia pada abad 15. Leluhur mereka berasal dari Spanyol, tetapi keluarga ini berhasil meraih kekuasaan besar di Italia berkat pengaruh mereka di Vatikan.

Lambang keluarga Borgia. Photo: Wikimedia Commons/Echando una mano
Lambang keluarga Borgia. Photo: Wikimedia Commons/Echando una mano

Selama berkuasa, kisah kelurga yang menurunkan Paus Kallistus III dan Aleksander VI ini diwarnai rumor tentang korupsi, nepotisme, pembunuhan, asusila, dan inses. Insesnya mungkin sebatas rumor, tetapi tuduhan lainnya memang ada benarnya. Begitu buruk reputasi keluarga itu, hingga kata Borgia sendiri menjadi pemeo untuk kebejatan dan nepotisme di Italia.

Sekilas tentang Lucrezia Borgia

Lucrezia Borgia (1480–1519) adalah wanita bangsawan berdarah Spanyol-Italia. Dia adalah satu-satunya anak perempuan yang diakui sebagai anak kandung oleh Paus Aleksander VI, meskipun kenyataanya sang Paus memiliki beberapa anak haram dari beberapa wanita simpanannya.

Sepanjang hidupnya yang singkat, 39 tahun, Lucrezia sudah pernah menikah tiga kali. Ketiganya merupakan bagian dari manuver politik yang dirancang oleh sang ayah.

Lukisan Lucrezia Borgia oleh Battista Dossi. Photo: Googe Art Project
Lukisan Lucrezia Borgia oleh Battista Dossi. Photo: Googe Art Project

Perkawinan pertama dengan Giovanni Sforza (Lord Pesaro dan Gradara) dan dibatalkan dengan alasan tidak pernah ‘diresmikan’ di atas ranjang. Walaupun begitu, selagi menjalani proses pembatalan ini Lucrezia dirumorkan hamil oleh pria lain. Beberapa waktu kemudian tercatat adanya kelahiran seorang anak di dalam keluarga Borgia, meskipun nama kedua orangtuanya tidak dituliskan secara jelas.

Pernikahan kedua Lucrezia dilakukan dengan Alfonso d’Aragon (Duke of Bisceglie dan Pangeran Salerno). Pada periode inilah Lucrezia dipilih sebagai gubernur Spoleto, walaupun jabatan itu hanya dipegangnya selama setahun.

Pernikahan terakhirnya dilangsungkan dengan Alfonso I d’Este (Duke of Ferrara). Lucrezia melahirkan seorang anak untuk suami kedua dan delapan orang anak untuk suami ketiganya. Namun dia juga menjalin hubungan asmara dengan kakak iparnya, Francesco II Gonzaga (Marquess of Mantua) secara terbuka.

Sekilas tentang Paus Aleksander VI

Paus Aleksander VI, salah satu Paus paling kontroversial dalam sejarah memiliki nama asli Roderigo Borgia (nama keluarga asli Lanzol). Dia diadopsi oleh pamannya, Paus Kallistus III (Alfonso Borgia) untuk menjadi penerus.

Lukisan Paus Aleksander VI oleh Cristofano dell'Altissimo. Photo: Wikimedia Commons
Lukisan Paus Aleksander VI oleh Cristofano dell’Altissimo. Photo: Wikimedia Commons

Walaupun darah Spanyolnya membuat Roderigo kurang diterima di Italia, sang paman berhasil menggunakan pengaruhnya untuk menjadikan Roderigo sebagai kardinal di usia 26 tahun. Di kemudian hari, Roderigo menggantikan Innosensius VIII sebagai orang nomor satu di Vatikan.

Aleksander VI diingat sejarah sebagai salah satu Paus paling kontroversial, korup, dan amoral. Sepanjang hidupnya dia menjalin hubungan dengan beberapa wanita. Dua yang diketahui publik dan diakuinya secara terbuka adalah Vannozza Catanei (ibu dari Lucrezia, Cesare, dan Giovanni) serta Giulia Farnese.

Sekilas tentang Cesare Borgia

Cesare Borgia adalah kakak Lucrezia Borgia yang bergelar Duke Valentinois. Dia adalah kardinal pertama yang mengundurkan diri dalam sejarah. Pengunduran diri itu dilakukannya pada tahun 1498, kemungkinan besar untuk memenuhi ambisinya di dunia militer. Pasalnya, Aleksander VI yang sebenarnya berambisi untuk menjadikan Cesare sebagai penerusnya di Vatikan.

Lukisan Cesare Borgia oleh Altobello Melone. Photo: Wikimedia Commons
Lukisan Cesare Borgia oleh Altobello Melone. Photo: Wikimedia Commons

Cesare dirumorkan membunuh saudara kandungnya sendiri, Giovanni untuk menggantikan posisinya di militer. Kabarnya pembunuhan ini juga dilatarbelakangi kecemburuan. Pasalnya Giovanni dan Cesare menjalin hubungan gelap dengan wanita yang sama, yaitu Sancia Aragon.

Cesare sempat menaklukkan Naples dan Milan, kemudian menyerahkannya ke tangan raja Prancis, Louis XII. Namun karir cemerlangnya di dunia militer tak berlangsung lama, karena dia meninggal di usia 31 tahun. Il Principe (Sang Penguasa), sebuah risalah politik yang ditulis Niccolo Machiavelli banyak terinspirasi dari sepak terjang Cesare Borgia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.