[Review Buku] Istri-Istri Sukarno

Sukarno, pria yang paling diingat sebagai seorang proklamator, orator ulung, cendekia, dan presiden pertama bagi Republik Indonesia yang baru mencicipi nikmat sekaligus ruwetnya ‘berdikari’ di tahun 1945. Namun, ia juga diingat publik sebagai seorang pencinta ulung. Kisah cintanya selalu menarik dibahas. Bahkan kisah cintanya yang tidak kesampaian pun bikin publik penasaran. Ngomong-ngomong, saya pernah menulis soal itu. Silakan dibaca di sini kalau senggang.

Istri-Istri Sukarno ©2007 Ombak

Judul: Istri-Istri Sukarno
Penulis: Reni Nuryanti, dkk.
Bahasa: Indonesia
Format:paperback, 271 hal.
Penerbit: Ombak (2007)
Genre: nonfiksi, sejarah, biografi

Cerita

‌Kumpulan fragmen menarik kisah cinta Sukarno dengan sembilan istrinya.

Siti Utari Tjokroaminoto, remaja yang dinikahi Sukarno semata karena baktinya kepada sang guru.

Inggit Garnasih, induk semang yang memikat hati Sukarno muda.

Fatmawati, gadis cerdas yang membuat Sukarno memilih menanggalkan perannya sebagai ‘ayah angkat’.

Hartini, perempuan beranak empat yang menawan Sukarno dengan sepanci sayur lodeh.

Kartini Manoppo, pramugari rupawan Garuda Indonesia yang lukisan dirinya membuat Sukarno terkesima.

Ratna Sari Dewi, gadis penghibur jelita dari Jepang yang diakui Sukarno sebagai istri tercintanya.

Haryati, gadis penari istana yang menawan hati Sukarno dengan keluwesannya.

Yurike Sanger, remaja ceria yang ditemui Sukarno saat bertugas di Barisan Bhinneka Tunggal Ika.

Heldy Djafar, gadis Barisan Bhinneka Tunggal Ika asal Tenggarong yang dipilih Sukarno untuk menari lenso dengannya.

Level of Interest

❤️❤️❤️❤️

Review

Mengulas buku ini mengingatkan saya terhadap ribut-ribut film Soekarno antara Rachmawati Soekarnoputri dan Hanung Bramantyo beberapa tahun lalu. Pikir saya waktu itu, mosok seorang tokoh sejarah tidak boleh digambarkan sebagai sosok yang kurang dari sempurna di film? Rasanya, kok, berlebihan kalau seorang Bapak Negara sekalipun digambarkan sebagai sosok tanpa cela. Memangnya ini Korea Utara?

Nah, buku ini mengingatkan saya terhadap ketubiran soal film Soekarno karena isinya memang menunjukkan ketidaksempurnaan Sukarno, setidaknya sebagai seorang suami. Tentu saja, Sukarno adalah sosok yang sudah berjasa banyak. Ia membuka gerbang untuk banyak hal bagi Indonesia. Namun terlepas dari semua pencapaian dan kebolehannya, Bung Karno tetap seorang pria biasa dengan banyak kekurangan. Dan salah satu kekurangannya yang paling diingat publik adalah sifat tidak setia.

Sudah menjadi rahasia umum kalau rakyat Indonesia pada masa Sukarno punya banyak ibu negara. Sang First Lady memang tetap Fatmawati. Tapi, sederet wanita lain juga kerap mendampingi Sukarno saat bertugas di luar ibukota. Lalu, ternyata Fatmawati pun bukan wanita pertama yang dinikahi Sukarno. Ia adalah istri ketiga yang dinikahi setelah drama cinta segitiga rasa telenovela dengan istri kedua Sukarno, Inggit Garnasih. Drama yang sama seperti saat Sukarno muda menjalin cinta dengan Inggit yang sudah bersuami dan menjadi ibu kosnya. Pendeknya, kehidupan asmara presiden pertama kita memang jauh dari kata biasa-biasa.

Sukarno: “I’m a Very Physical Man”

Sukarno dan Ratna Sari Dewi (instagram.com/kartikasoekarnofoundation)

Sesuai judulnya, Istri-Istri Sukarno fokus membahas percintaan Sang Proklamator dengan para perempuan yang dia nikahi. Buku ini meringkas dan mengutip sejumlah buku lain, salah satunya adalah Soekarno: My Friend yang ditulis Cindy Adams berdasarkan percakapannya dengan Bung Karno. Adams adalah biografer yang menjadi ghost writer-nya Sukarno untuk Sukarno: An Autobiography yang diterbitkan di Indonesia dengan judul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Buku-buku lain yang juga dijadikan rujukan adalah biografi istri-stri Sukarno seperti Hartini dan Ratna Sari Dewi.

Salah satu quote yang paling saya ingat dari buku ini adalah pengakuan Sukarno soal urusan ranjangnya kepada Cindy Adams. “I’m a very physical man. I must have sex everyday.” Ya, tidak mengherankan memang. Tapi, saya agak takjub juga Bung Karno bisa seblak-blakan itu. Itu pun kalau keseluruhan isi buku Adams bisa dianggap seratus persen benar, ya.

Setiap bab membahas hubungan Sukarno dengan tiap istrinya, mulai dari perkenalan, PDKT, pernikahan, hingga perpisahan. Sebagian besar istri Sukarno diceraikan dengan berbagai alasan, sementara segelintir di antaranya berpisah dengan Sang Proklamator karena maut menjemput,

Cerita mereka sudah sering diberitakan dan ditulis. Rasanya hampir tak ada orang Indonesia yang belum pernah mendengar nama kesembilan istri Sukarno. Utari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Haryati, Ratna Sari Dewi, Kartini Manoppo, Yurike Sanger, dan Heldy Djafar, Tapi, ada beberapa detail menarik yang dicantumkan di buku ini. Salah satunya adalah kutipan isi surat-surat cinta Sukarno yang seromantis aspartam. Saking manisnya sampai bikin serik.

Sakiko, Istri Kesepuluh yang Tak Pernah Disebut

Menurut versi ‘resmi’ yang dituliskan ulang di berbagai buku, Sukarno punya sembilan istri. Istri pertamanya adalah Utari. Sementara perempuan terakhir yang dinikahinya adalah Heldy Djafar. Namun, ada satu nama lagi yang kadang tersebut, meskipun keberadaannya tidak pernah benar-benar diakui. Dialah Sakiko Kanase, perempuan Jepang yang konon bersaing dengan Naoko Nemoto—nama asli Ratna Sari Dewi—dalam mendapatkan hati Sukarno. Sosoknya dibahas secara sambil lalu di buku ini.

Sakiko disebut sebagai hostesu, istilah yang seingat saya dirancukan oleh para penulis buku ini menjadi geisha. Padahal, geisha adalah profesi penghibur yang melibatkan seni tradisional khusus dan kode etik tersendiri. Tentunya, geisha sungguhan tidak bisa ditemui di klub malam seperti tempat Sakiko dan Naoko bekerja. Bukannya saya menganggap pramuria sebagai profesi hina, ya. Toh, hostesu juga tidak bisa disamakan dengan yūjo atau oiran kelas bawah di era Yoshiwara yang saat ini bisa dikategorikan sebagai PSK. Masalahnya, geisha dan hostesu adalah dua profesi yang cukup berbeda.

Konon, Sakiko didatangkan ke Indonesia dan dinikahi Sukarno. Ia diperkenalkan sebagai Ny. Basuki, seorang guru anak-anak ekspatriat Jepang. Ia ditempatkan di sebuah rumah mewah di Menteng bersama ibunya.

Konon lagi, Sakiko sakit hati karena cinta Sukarno kepadanya beralih ke Dewi. Karena itulah, ia memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan memotong nadi. Kematiannya sengaja ditutupi untuk menghindarkan aib. Pemakamannya pun dilaksanakan secara diam-diam pada malam hari. Tentu saja, Sukarno dikabarkan sangat sedih. Bagi saya, sepertinya Sukarno memang memiliki perasaan istimewa kepada Sakiko. Hanya saja, perasaan istimewanya terbagi menjadi sepuluh. Ya Allah, ngenes amat, ya. T_T

Nah, kalau mau tahu cerita Sakiko dan Naoko yang lebih lengkap, coba baca artikel bagus dari Tirto ini. Beneran bagus. Saya suka detail informasi dan risetnya.

***

Jadi, Istri-Istri Sukarno ini termasuk buku yang bagus atau tidak? Menurut saya, sih, sangat menarik. Tapi, apakah keseluruhan isinya bisa kita anggap sebagai kebenaran utuh? Kalau kata saya, tulisan seperti ini paling bijak diperlakukan sebagai sisi lain dari sebuah cerita. Kemungkinan besar, mayoritas isinya memang benar. Tapi, pasti ada sedikit ‘bumbu’ di sana-sini.

2 thoughts on “[Review Buku] Istri-Istri Sukarno

Leave a Reply to Cerita Fotografi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.