[Review buku] Rara Mendut: Sebuah Trilogi (Trilogi Roro Mendut #1-3)

Rara Mendut (YB Mangunwijaya)
Rara Mendut. © Gramedia Pustaka Utama

Judul: Rara Mendut: Sebuah Trilogi (Trilogi Roro Mendut #1—3)
Penulis: Y.B. Mangunwijaya
Bahasa: Indonesia
Format: hardcover, 806 hal.
Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama (2007)
First published: Rara Mendut (1983), Genduk Duku (1987), Lusi Lindri (1994)
Genre: fiksi sejarah, roman

Cerita

Ini sinopsis dari Goodreads yang sedikit saya ringkas.

Rara Mendut
Perempuan rayahan yang menolak diperistri Tumenggung Wiraguna demi cintanya kepada Pranacitra. Sosoknya yang blak-blakan dan pemberani dianggap
nyebal tatanan di lingkungan istana yang penuh tata krama. Dan ia lebih memilih mati daripada dipaksa melayani nafsu sang panglima tua.

Genduk Duku
Sahabat Mendut yang membantunya melarikan diri dari kejaran Tumenggung Wiraguna. Setelah kematian Mendut, Duku menjadi saksi perseteruan diam-diam antara Wiraguna dan Pangeran Aria Mataram (Amangkurat I).

Lusi Lindri
Anak Genduk Duku dipilih menjadi anggota pasukan pengawal Amangkurat I oleh Ibu Suri. Hidup di istana, Lusi Lindri menyaksikan sendiri konspirasi politik yang terjadi di sana. Hingga akhirnya ia memilih menjadi pemberontak yang menentang kezaliman Amangkurat.

4 Points:

Story

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review

Satu lagi karya Romo Mangun yang bikin saya salut setengah mati selain Burung-Burung Manyar. Meskipun termasuk penulis angkatan lawas, Y.B. Mangunwijaya ini termasuk sedikit yang bisa menuturkan cerita dengan luwes.

Pada trilogi legenda Romeo-Juliet dari tanah Jawa ini saya menemukan sejarah, politik, roman, humor, dan unsur budaya Jawa yang diramu dengan baik. Sesekali Romo Mangun menyelipkan fakta sejarah, pepatah, pantun, atau sajak Jawa yang akhirnya membuat saya jadi belajar bahasa daerah lagi. Walaupun begitu, saya akui kalau kesuramannya juga cukup terasa. Pasalnya, banyak banget tokoh yang tewas karena terbunuh dengan sadis.

Dari ketiga buku, menurut saya yang paling seru adalah Rara Mendut dan Lusi Lindri. Barangkali karena kisah Genduk Duku yang berada di bagian tengah menjadi titik jenuh saya saat membaca. Padahal dari segi karakter dia juga sama kuat dan menarik seperti Mendut dan Lindri.

Rara Mendut dan Emansipasi Wanita di Tengah Gejolak Kerajaan Mataram

Rara Mendut oleh Y.B. Mangunwijaya © Gramedia Pustaka Utama

Menurut saya, penulis cukup ahli menciptakan tokoh-tokoh yang berkarakter kuat, meskipun setahu saya semua tokoh di Rara Mendut ini memang benar-benar ada. Selain tiga wanita yang menjadi pusat cerita, saya juga mendapati karakter menarik seperti Nyai Singabarong, Raden Peparing, dan Putri Arumardi.

Tapi, daya tarik utama terletak pada karakter Rara Mendut sendiri. Saya menyukai legenda versi Romo Mangun ini, terutama karena karakter Rara Mendut lain dari yang lain. Rara Mendut dalam legenda memang diceritakan sebagai perempuan cerdas dan pemberani. Di sini, ia bahkan digambarkan sedikit maskulin, sangat blak-blakan, dengan kulit gelap dan kecantikan khas gadis pantai.

Bagi saya, trilogi Rara Mendut ini lebih menekankan topik emansipasi wanita daripada unsur romannya. Berbeda jauh dari versi asli yang diambil dari Babad Tanah Jawi. Peran Pranacitra di sini sangat sedikit. Intinya memang tiga perempuan dari tiga masa berbeda melawan dunia yang saat itu didominasi laki-laki, tepatnya Wiraguna dan Amangkurat I. Perlakuan terhadap wanita pada zaman kerajaan yang digambarkan di sini memang sangat memprihatinkan.

Saya juga menghargai langkah Romo Mangun mengganti ending cerita dari bunuh diri bersama menjadi tewas bersama di tangan Wiraguna. Kesannya lebih empowering-lah, ya, daripada cabut nyawa sendiri.

Rara Mendut, Putri Perkasa dari Desa Nelayan

Sejak kecil, setiap mendengar nama Roro Mendut, yang terbayang di kepala adalah kue hijau dari tepung ketan yang berisi kinca itu (enak banget!). Menurut saya, Mendut adalah nama yang sangat tidak puitis untuk seorang tokoh dongeng. Coba bandingkan dengan nama Dewi Sekartaji, Rara Jonggrang, atau Nawang Wulan yang artinya jauh lebih indah.

Tetapi dari dari penjelasan di novel ini, kelihatannya ‘mendut’ yang dimaksud di sini adalah ‘mendul-mendul di air’. Rara Mendut sendiri menggambarkan nasibnya yang terombang-ambing, seperti arti namanya yang mengambang tak pasti di permukaan air.

Rara Mendut bukan tokoh wanita bangsawan dalam legenda nusantara lain yang lemah dan tak berdaya. Dia tak minta dibuatkan candi atau danau dalam semalam cuma lantaran tak berani menolak lamaran seorang petinggi. Gadis jelata ini justru berani terang-terangan menolak cinta Tumenggung Wiraguna.

Perempuan satu ini cerdik dan menyadari pesonanya. Ia bahkan tidak malu-malu untuk memanfaatkannya. Bayangkan, mana ada legenda lain yang menceritakan seorang wanita berwirausaha dengan menjual rokok bekas isapannya kepada para pria dengan harga selangit.

Lusi Lindri, Gadis Pengawal Raja nan Gagah Berani

Lusi Lindri oleh Y.B. Mangunwijaya © Gramedia Pustaka Utama

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, buku favorit saya di trilogi ini adalah Rara Mendut dan Lusi Lindri alias buku pertama dan ketiga. Lusi Lindri menawarkan keseruan tersendiri, karena:

  • Profesinya sebagai anggota Trinisad Kenyah, ‘paspampres’ wanita yang diperbolehkan membunuh siapapun yang berani menatap langsung sang raja.
  • Kisah cintanya dengan Raden Peparing dan kisah cinta ibunya, Genduk Duku dengan salah satu saudara Amangkurat yang memberontak. Saya lupa itu Pangeran Purbaya atau Pangeran Selarong. Soalnya saya baca buku ini lebih dari sepuluh tahun lalu.
  • Pemberontakan terhadap Amangkurat di mana Peparing dan Lusi Lindri ikut andil. Masa-masa kejatuhan Amangkurat ini memberikan hiburan tersendiri bagi saya.

Amangkurat I, sang Raja Lalim

Trilogi Rara Mendut diceritakan dalam dua masa, yaitu pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo alias Sultan Agung dan putranya. Kisah Mendut sendiri terjadi pada masa Sultan Agung. Di sini sang raja digambarkan sebagai raja yang bijaksana. Sekadar catatan, Sultan Agung dalam sejarah memang diceritakan memiliki banyak pencapaian, tapi ada kejam-kejamnya juga.

Sementara cerita Genduk Duku dan Lusi Lindri berlangsung pada masa Amangkurat I—di sini disebut Hamangkurat I. Kebalikan dari ayahnya, ia digambarkan sebagai penguasa yang lalim, tidak cakap, dan senang main perempuan. Ia diceritakan pernah memperkosa perempuan rayahan milik anak buahnya, Tejarukmi dan merebut istri dalang yang kelak menjadi selir kesayangannya, yaitu Ratu Malang.

Pada masa Hamangkurat ini sering terjadi pembantaian terhadap warga. Salah satu yang paling saya ingat adalah ketika Hamangkurat menetapkan peraturan untuk mengenakan busana entah apa, saya lupa, pada hari tertentu. Warga yang ketahuan melanggar dibunuh. Saat ia mangkel dengan kaum ulama, setiap orang yang bersorban di jalan lantas diperintahkan untuk dihabisi. Menurut catatan sejarah, saat itu ada 5000—6000 ulama beserta keluarganya yang dibantai atas suruhan Amangkurat I.

Roro Mendut, Film Adaptasi Rara Mendut-nya Y.B. Mangunwijaya

Meriam Bellina sebagai Mendut di film Roro Mendut ©1983 PT Gramedia Film | PT Sanggar Film | PT Elang Perkasa Film

Novel pertama Rara Mendut ini sudah pernah diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1983. Waktu itu, ceritanya masih diterbitkan secara bersambung di KOMPAS. Filmnya dibintangi Meriam Bellina (Roro Mendut), Mathias Muchus (Pranacitra), dan WD Mochtar (Wiraguna). Film ini didistribusikan di luar negeri juga dengan judul The Rebellious Woman.

Fokus cerita filmnya cuma kepada Roro Mendut dan Pranacitra. Saya sendiri belum pernah menyaksikan filmnya. Tahun segitu masih belum lahir, sih, ya. Lagipula, film ini sepertinya juga tidak pernah diputar di televisi. Tetapi kelihatannya layak ditonton, mengingat film ini banyak mendapat nominasi di FFI. Lagian, saya selalu cinta film ber-setting kerajaan. Nggak peduli kerajaan Eropa atau nusantara.

Makam Roro Mendut dan Pranacitra

Sekadar informasi, di Dusun Gandu, Sendangtirto, Sleman katanya benar-benar ada makam Roro Mendut dan Pranacitra. Makam ini sering didatangi peziarah untuk meminta berkah. Konon ada ritual bersetubuh di depan makam yang harus dilakukan agar permohonan terkabul. Silakan baca sendiri artikelnya, ya. Sudah saya sertakan tautannya di bawah.

Sumber bacaan:

Makam Rara Mendut dan Pesan Perempuan Cantik Berambut Panjang. Mojok.co
Sultan Agung dari Mataram. Wikipedia
Inilah Daftar Kekejaman Raja-raja di Nusantara. Historia.id
Saat 6.000 Ulama dan Keluarga Dibantai Sultan Mataram Islam. Tirto.id
Skandal Seks Raja Amangkurat I hingga Berebut Perempuan dengan Anak. Jatim.iNews.id
Dicintai Habis-Habisan oleh Raja Mataram, Ini Kisah Hidup Ratu Malang. Merdeka.com

One thought on “[Review buku] Rara Mendut: Sebuah Trilogi (Trilogi Roro Mendut #1-3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.