Masak nggak boleh jadi feminis sama sekali gara-gara kadang masih khilaf dengan sentimen patriarkal. Masa memutuskan lajang dihujat, lalu memilih menikah pun masih dihujat juga.
Tag: sastra indonesia
[Review Film] Aruna & Lidahnya: Cinta & Persahabatan Berbalut Petualangan Kuliner yang Serba Nanggung
Aruna dan Lidahnya. Photo: Palari Films
" data-medium-file="https://stupidbookworm.files.wordpress.com/2018/10/aruna-dan-lidahnya.jpg?w=300" data-large-file="https://stupidbookworm.files.wordpress.com/2018/10/aruna-dan-lidahnya.jpg?w=720"/>Seperti sederet manekin cakep di etalase. Bikin orang pingin masuk toko, tapi sebenarnya kalau nggak ada pun itu toko tetep bisa jualan.
Review: Matinya Seorang Penari Telanjang, Bukan buku porno, cuma kumpulan cerpen satir
Judul: Matinya Seorang Penari Telanjang Penulis: Seno Gumira Ajidarma Bahasa: Indonesia Format: paperback, 250 hal. Penerbit: Galang Press (2000) Genre: kumpulan cerpen Cerita Tentang Sila, seorang penari telanjang yang jadi primadona di klub tempatnya bekerja. Sila bukan perempuan malam biasa. Dia bisa saja menjadi balerina di Bolshoi Theatre atau salah satu penari di keraton. Tetapi [...]
Review: Canting, potret kemunafikan dari budaya yang mulai luntur
Judul: Canting Penulis: Arswendo Atmowiloto Bahasa: Indonesia Format: Paperback, 408 hal. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007) Genre: drama keluarga, kultural Sinopsis Cerita tentang batik canting mewakili budaya yang terkalahkan. Canting, simbol budaya yang kalah, tersisih, dan melelahkan. Adalah Ni---sarjana farmasi, calon pengantin, putri Ngabean---yang mencoba menekuni, walau harus berhadapan dengan Pak Bei, bangsawan berhidung mancung [...]
