[Review buku] Pengakuan Eks Parasit Lajang, Sebuah Pembelaan Diri Ayu Utami?

Eks Parasit Lajang
Eks Parasit Lajang. Photo credit: Dokumen Pribadi

Judul: Pengakuan Eks Parasit Lajang (Parasit Lajang #2)
Penulis: Ayu Utami
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 328 hal.
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2013)
Genre: autobiografi, non-fiksi

Cerita

Taken from Goodreads:

Pengakuan: Eks Parasit Lajang adalah autobiografi seksualitas dan spiritualitas Ayu Utami. Seperti Cerita Cinta Enrico, kisah nyata ini ditulis dalam bentuk novel, dengan tokoh A, seorang perempuan yang memutuskan untuk melepas keperawanannya di usia dua puluh tahun, untuk sekaligus menghapus konsep keperawanan yang baginya tidak adil.

Selama tahun-tahun berikutnya, yang ia coba lakukan dalam hidup pribadinya adalah melawan nilai-nilai adat, agama, dan hukum negara yang patriarkal. Tapi, ia berhadapan dengan kenyataan bahwa patriarki adalah fakta sejarah.

Level of Interest

Review

Pengakuan Eks Parasit Lajang yang saya baca ini adalah pinjaman dari Rizky Wahyu Permana yang koleksi bukunya ngalahin persewaan buku. Suwun, Lek.

Saya belum pernah baca Si Parasit Lajang dan Cerita Enrico, tapi tetap bisa menikmati buku ini. Dan mungkin memang ada baiknya juga saya belum pernah baca buku pertama, karena dengan begitu saya tidak terjebak dalam kekecewaan seperti teman-teman pembaca lain yang sudah kadung menjadikan Ayu Utami sosok panutan perihal feminisme dan hidup melajang (tanpa selibat).

Bagi saya tulisan ini orang memang nampol banget. Tanpa kosakata mendakik-dakik dan yang paling penting membuat saya merasa sehati. Tak sedikit pemikirannya yang saya setujui habis-habisan, misalnya ini:

Lelaki dibebani tuntutan tidak proporsional untuk menjadi lebih dari perempuan. Akibatnya, lelaki jadi gampang minder. Dan perempuan dibebani tuntutan tak adil untuk merendahkan diri demi menjaga ego lelaki. Itu sungguh tidak benar dan tidak adil.

Budaya patriarkal itu tidak adil, saya juga berpikir seperti itu. Tidak adil bagi wanita terutama, tetapi juga tak adil bagi kaum Adam. Walaupun begitu, konsep kedigdayaan lelaki yang sudah mengakar, menggeragih, sampai bertunas ini pun mau tak mau tetap meracuni pikiran pria dan wanita modern yang mencoba bersikap lebih terbuka. Seperti Ayu, saya pun merasa tak nyaman dan memilih ngambek saat seorang mantan minta dibelikan barang. “Cowok kok matre, nggak modal.” Di sisi lain, beberapa teman pria pun mungkin merasa miris saat saya mengatakan tidak ingin dilarang bekerja kalau sudah menikah kelak.

Melalui autobiografi ini, Ayu dengan kecerdasannya yang lugas dan tak jarang lucu (sampai sekarang saya masih senyum-senyum tiap membaca bagian Susumu Saru) seolah ingin menyampaikan kalau dia cuma manusia biasa dengan banyak kekhawatiran, penyesalan, dan kecewa. Masak nggak boleh jadi feminis sama sekali gara-gara kadang masih khilaf dengan sentimen patriarkal. Masa memutuskan lajang dihujat, lalu memilih menikah pun masih dihujat juga. Wong dia juga nggak minta dijadikan ikon pemberontakan kaum hawa. Saya rasa pesan yang coba dia siratkan seperti itu.

Saya pikir Ayu cuma ingin mengatakan bahwa dia toh tetap manusia yang bertumbuh, berhak untuk membuat kesalahan, dan lebih berhak lagi untuk mengambil keputusan yang dari luar mungkin terlihat tak sesuai dengan prinsip hidupnya.

Baca buku ini mau nggak mau membuat saya jadi berkaca dengan pilihan-pilihan yang saya ambil sebagai perempuan. Karena, ya, sedikit banyak Ayu ini menceritakan kehidupannya yang mewakili segelintir wanita modern dengan pikiran ruwet. Kok bisa ruwet? Soalnya nggak mau bercita-cita jadi perempuan yang hanya ‘bisa membahagiakan suami’ atau ‘surga bagi anak-anaknya’. Lulus kuliah, nikah, punya anak, terus anteng di rumah ngurus kebon, dapur, ngepel sembari nunggu suami pulang buat dicepakin makannya. Perempuan yang cita-citanya sederhana gini dianggap mulia dan bojoable banget, kan? Dan ya memang mulia serta bojoable, sih.

Tapi lantas perempuan yang punya pemikiran sedikit berbeda, sedikit saja, dibilang lupa kodratnya, memandang diri sendiri terlalu tinggi, keasyikan berkarir, bla bla bla. Padahal yang menghakimi juga nggak paham betul alasannya si A cari duit dulu baru merit, si B cari suami yang nggak berlagak kaya raja di rumah, si C merasa lebih baik nggak nikah dulu sebelum siap, atau si D nggak mau jadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Saya ketemu banyak perempuan lajang seperti ini. Rasanya kok dangkal sekali kalau pendapat dan pilihan hidup mereka dihakimi oleh orang yang tidak ikut menjalani hidup mereka.

Yah, intinya buku ini memang membuat banyak pembaca wanita bercermin. Dan semoga saja membuat kita juga lebih berani dalam mengambil keputusan hidup, apa pun itu. Mau jadi lajang, lajang tanpa selibat, menikah muda, menikah tua, bukan orang lain yang bertugas menentukan. Kan risiko dan konsekuensinya kita yang tanggung.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.