A Kiss at Midnight (Fairy Tales #1): Just Another Cinderella Story

Eloisa James - A Kiss At Midnight
A Kiss at Midnight. Photo credit: Goodreads/Dastan Books

Judul: Kecupan Tengah Malam (Fairy Tales #1)
Judul Asli: A Kiss At Midnight
Pengarang: Eloisa James
Tahun Penerbitan: 2012
Bahasa: Indonesia
Genre: historical romance (roman sejarah), fairy tales, fiksi, dewasa
Lanjutan: Storming The Castle (Fairy Tales 1.5)
Latar Tempat: Lancashire, Inggris

Cerita

Katherine Daltry adalah cucu seorang earl, tapi sejak kematian ayahnya, ia dipaksa tinggal di loteng dan diperlakukan seperti pelayan. Bahkan di usianya yang sudah dua puluh tiga tahun, Kate belum pernah sekali pun mengikuti Season. Tapi nasib Kate mendadak berubah ketika ia diperintahkan ibu tirinya untuk menyamar menjadi Victoria, adiknya tirinya, dan menghadiri pesta yang diadakan keluarga calon suami adiknya itu.

A Kiss at Midnight (Eloisa James's Fairy Tales #1). Photo credit: Goodreads
A Kiss at Midnight (Eloisa James’s Fairy Tales #1). Photo credit: Goodreads

Prince Gabriel terpaksa tinggal di Kastil Pomeroy karena sang kakak, Grand Duke of Malburg, memutuskan mengusir semua orang yang tidak disukainya. Karena itulah, Gabriel harus menikah dengan seorang putri yang telah dipilihkan kakaknya agar bisa menghidupi mereka semua, padahal ia lebih suka terlibat penggalian arkeologi di Kartago. Jadi, ia pun mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan calon istrinya—seorang putri Rusia kaya raya—yang akan menjadi juru selamat dengan warisan yang berlimpah. Namun, saat ia bertemu Kate semua rencananya yang sudah tersusun dengan baik terancam gagal.

A Kiss at Midnight (Eloisa James's Fairy Tales #1). Photo credit: Goodreads
A Kiss at Midnight (Eloisa James’s Fairy Tales #1). Photo credit: Goodreads

Setelah berhasil mengetahui identitas Kate yang sebenarnya, Gabriel malah semakin berani menggoda Kate. Bersama dengan Kate membuat Gabriel merasa bisa melupakan statusnya dan menjadi dirinya sendiri. Kate pun tak bisa memendam ketertarikannya terhadap pesona sang pangeran yang begitu memikat. Akan tetapi, Kate tahu bahwa ia hanya menipu dirinya sendiri karena bermain cinta dengan pria yang akan menikahi wanita lain. Akankah Gabriel mengejar cintanya dan mengabaikan tanggung jawabnya? Haruskah Kate melupakan cintanya dan berharap hatinya tidak ikut hancur saat ia harus meninggalkan sang pangeran?

Para Tokoh

Miss Katherine ‘Kate’ Daltry

Kate yang blak-blakan dan berjiwa bebas sebenarnya tak dapat menerima perlakuan buruk ibu tirinya. Tapi karena kasih sayang Kate kepada para pelayan yang sudah mengurusnya sejak kecil, ia memutuskan untuk menahan diri agar bisa bertahan di rumah dan melindungi mereka semua.

Prince Gabriel Albrecht-Frederick William von Aschenberg

Gabriel adalah pangeran asing yang gemar berpetualang. Ia ingin mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang arkeolog. Tapi karena tanggungjawabnya terhadap kelangsungan hidup anggota keluarga dan kastilnya, Gabriel terpaksa membuang mimpinya itu. Ia harus menikahi pturi Rusia kaya raya yang ditunangkan dengannya. Tapi sejak bertemu dengan Kate, kebulatan tekadnya untuk menikah mulai goyah.

Mrs. Mariana Daltry

Mariana merupakan tokoh ibu tiri jahat dalam cerita ini. Dulunya ia adalah wanita penghibur yang dijadikan simpanan oleh ayah Kate. Mariana diceritakan sebagai wanita cantik yang egois, kurang berpendidikan, dan terobsesi untuk terus terlihat muda.

Miss Victoria Daltry.

Victoria dan Kate merupakan saudara seayah. Ia sangat cantik, kekanakan, dan baik hati tapi bodoh. Kate sering merasa iba dengan kekonyolan adiknya ini. Tapi pada dasarnya Victoria adalah gadis yang mudah untuk disayangi.

2 Points for:

cross signGood story/idea

check signGood writing style

check signGood Characterization

cross signGood message/additional information

Level of Interest

heart rate42

 

Review

Saya cukup suka cerita ini karena karakterisasinya yang beda jauh dari Cinderlla asli. Kate digambarkan sebagai gadis yang tidak luar biasa cantik dan tidak melulu baik. Kate malah bisa dibilang sinis. Gabriel, si pangeran asing digambarkan suka berpenampilan seenaknya dan berbicara blak-blakan.

Hanya Mariana yang tetap digambarkan sebagai ibu tiri jahat. Tapi ada beberapa hal dalam dirinya terasa mengibakan dalam cerita ini. Misalnya saja obsesinya untuk tampil mencolok di kalangan bangsawan karena sebenarnya ia merasa rendah diri dengan ketidakmampuannya untuk membaur dalam kalangan tersebut. Lalu ada pula Victoria, saudara tiri kejam yang di sini diubah menjadi saudara seayah yang baik hati tapi bodoh sekali sampai terasa menggelikan.

Di sini masalahnya bukan pada persaingan Kate dan Victoria untuk memperebutkan cinta Gabriel, karena Victoria sudah memiliki tunangan yang sangat disayanginya. Masalahnya justru terletak pada Gabriel yang cintanya terhadap Kate terhalang oleh tanggung jawab terhadap keluarga. Tapi tanpa perlu spoiler pun bisa ditebak kalau segalanya berakhir dengan manis dan merekapun hidup bahagia untuk selama-lamanya.

Selain kepribadian tokoh-tokohnya yang dibelokkan, Berbagai detil penting dalam Cinderella original di buku ini juga diubah agar ceritanya menjadi lebih realistis. Sepatu kaca diubah manjadi sepatu berbahan taffeta (kalau ibuku bilangnya kain kaca), tikus-tikus diganti dengan anjing-anjing peliharaan Victoria yang sekoyol pemiliknya, dan ibu perilaku berubah menjadi ibu baptis yang baik hati. Ada berbagai dialog lucu antara Kate dan Gabriel yang membuat kita terus terdorong untuk membaca halaman demi halaman. Interaksi Kata dan Gabriel dengan tokoh-tokoh lain juga menarik sekali.

Storming The Castle (Eloisa James’ Fairy Tales #1.5) Photo credit: Goodreads

Di buku ini ada satu tokoh adorable yang mencuri perhatian saya, Jonas Berwick si butler sekaligus half brother-nya Gabriel. Menurutku dia malah lebih charming daripada Gabriel. Makanya itu waktu tahu kalau Storming the Castle (Fairy Tales 1.5) menjadikan Wick sebagai tokoh utama, saya langsung excited buat baca. Dan ternyata ceritanya memang bagus. Saya malah lebih suka cerita tentang Philippa dan Wick itu daripada yang ini. Bahkan dari halaman pertama udah suka.

Secara keseluruhan, A Kiss At Midnight cuma sekedar bagus bagi saya. Cinderella merupakan dongeng yang sudah terlalu sering diadaptasi dalam berbagai cerita. Sebagus apapun penulisannya, sesegar apapun twist yang diselipkan di dalamnya, plot seperti ini sudah mulai usang. Nggak ada unsur kejutannya sama sekali. Jujur saja rasanya seperti membaca kembali An Offer From Gentleman (Julia Quinn) dengan tokoh Sophie yang berganti nama menjadi Kate dan Benedict yang diganti dengan Gabriel.

Photo by Goodreads
An Offer From a Gentleman. Photo credit: Goodreads

Tapi harus diakui Eloisa James meramu retelling dongeng Cinderella ini dengan baik. Bisa dibayangkan bakal sebagus apa retelling dongeng-dongeng lain yang ditulisnya. Jadi nggak berlebihan rasanya kalau mengharapkan buku kedua, ketiga, keempat, dan kelima yang mengusung dongeng Beauty & The Beast, Princess & The Pea, The Ugly Duckling, dan Rapunzel bakal lebih bagus lagi.

Oiya, saya masukin cover Inggris-nya karena menurut saya jauh lebih bagus daripada cover Indonesia-nya. Ayo dong Dastan bikin cover yang keren. Kan bisa menarik orang buat beli bukunya, tuh.

Trivia

Tadinya mau menuliskan sejarah singkat dongeng Cinderella. Tapi begitu selesai browsing, ternyata ada banyak banget trivia tentang Cinderella yang menarik untuk diketahui. Jadi saya masukkan hampir semuanya. I told you, it’s a very looong review.

Aneka versi Cinderella di berbagai belahan bumi

Terdapat lebih dari seribu versi cerita Cinderella yang tersebar di seluruh dunia. Ada Aschenputtel (Jerman), Cendrillon (Perancis), Yeh-Shen (China), Mariang Almango (Filipina), Tam Cam (Vietnam), dll. Versi yang populer tentu saja Cendrillon yang dituliskan oleh Charles Perrault, karena versi inilah yang dijadikan acuan untuk membuat Cinderella-nya Disney yang sudah mendunia itu.

Aschenputtel (2011). Photo credit: Top250.tv
Aschenputtel (2011). Photo credit: Top250.tv
Yeh-Shen. Photo by traditions.cultural-china.com
Yeh-Shen. Photo credit: Traditions.cultural-china.com
Pear Blossom, Korean Cinderella. Photo by Behance.net
Pear Blossom, Korean Cinderella. Photo credit: Behance.net/Jen Betton
Persian Cinderella. Photo by galleryhip.com
Persian Cinderella. Photo credit: Harpercollins.com

Versi tertua Cinderella

Versi Cinderella tertua yang pernah ditemukan adalah Rhodopis dari zaman Mesir kuno. Konon, Rhodopis adalah budak cantik yang berasal dari Yunani. Rhodopis sering dijahati pelayan-pelayan lain di rumah tempatnya bekerja karena ia orang asing dan mereka iri pada kecantikannya. Majikannya sebetulnya baik hati, tapi terlalu malas untuk memperhatikan keadaan rumah tangganya sehingga ia tidak mengetahui perlakuan buruk para pelayan terhadap Rhodopis.

Suatu hari sang majikan tak sengaja melihat Rhodopis sedang menari. Terkesan dengan tariannya, si majikan lantas menghadiahi Rhodopis sepasang sandal indah bersulam mawar (sesuai nama Rhodopis yang berarti rosy-cheeked). Ini membuat para pelayan makin iri dan menyiksa Rhodopis lebih keras.

Beberapa waktu kemudian Firaun Ahmose II berniat mengadakan pesta untuk tamu-tamunya yang datang dari Yunani. Seluruh warga Yunani di mesir diperbolehkan hadir. Para pelayan yang dengki tadi lantas memberikan setumpuk tugas kepada Rhodopis supaya ia tidak bisa menghadiri pesta. Lalu saat Rhodopis mencuci baju di sungai, sandal bersulam mawarnya entah bagaimana basah, lalu Rhodopis menggantungnya di pohon agar cepat kering. Salah satu sandalnya dicuri burung elang yang lewat dan burung itu membawanya terbang sampai ke istana. Sandal itupun jatuh tepat di pangkuan Firaun. Yakin kalau ini adalah pertanda dari langit (orang Mesir kuno percaya kalau elang adalah jelmaan dari Dewa Horus), Firaun memutuskan untuk mencari pemilik sandal tersebut dan menikahinya.

Singkat kata, setelah memerintahkan pasukannya mencari si pemilik sandal sampai ke seluruh negeri, akhirnya pencarian berhenti di rumah tempat Rhodopis bekerja. Setelah diketahui kalau Rhodopis memang pemilik sandal tersebut, ia pun diboyong ke istana untuk dinikahi oleh Firaun Ahmose II.

Latar belakang si sepatu kaca

Cinderella glass slippers. Photo credit: Flickr/Glamhag
Cinderella glass slippers. Photo credit: Flickr/Glamhag

Sepatu kaca adalah elemen penting dalam dongeng Cinderella. Alasan Perrault memilih alas kaki paling ganjil dan tak praktis ini untuk Cendrillon sudah lama menjadi bahan perdebatan bagi para sejarawan yang meneliti dongeng-dongeng klasik. Dulu waktu saya kecil, salah satu mbak saya pernah berkata kalau Cinderella sebenarnya tidak pernah memakai sepatu kaca. Ini murni karena salah kaprah Perrault menafsirkan istilah Prancis untuk ‘bulu’ dengan ‘kaca’.

Setelah mencari-cari ke berbagai sumber kemarin. Baru saya tahu kalau si mbak setengah benar. Dalam Cinderella versi manapun yang muncul sebelum Cendrillon-nya Perrault, tak ada satupun yang memakai sepatu kaca. Para Cinderella tersebut memakai sepatu emas (Aschenputtel & Yeh-Shen), cincin ajaib, gelang permata, bulu hewan langka, dll.

Charles Perrault seperti halnya Grimm (sedikit bahasan tentang Aschenputtel-nya Grimm sudah pernah saya tulis di sini) cuma menuliskan kembali dongeng-dongeng yang ia dengar dari masyarakat Perancis. Cendrillon sendiri awalnya memakai sepatu bulu tupai putih, karena pada zaman itu sepatu masih dibuat dari bulu, kulit hewan, atau kain. Jadi memakai sepatu bulu tupai putih yang entah benar-benar ada atau tidak itu saja sudah istimewa.  Sepatu bulu sendiri dulu merupakan perlambang vagina. Silakan simak penjelasan lengkapnya di artikel ini.

Lagipula rasanya lebih makes sense, ya. Kalau mau dansa sampai jam dua belas malam kan harus pakai sepatu yang nyaman. Nyaman mana coba, pakai sepatu bulu atau sepatu dari beling. Kalau pecah terus kena kaki kan berdarah.

Ada dua teori tentang alasan digantinya sepatu bulu tupai (pantoufle de vair) menjadi sepatu kaca (pantoufle de ferre). Teori pertama, vair adalah istilah yang sangat kuno dan ketika Perrault menuliskan Cendrillon, kata itu sudah tidak akrab di telinga masyarakat lagi. Jadi digantilah vair dengan ferre yang bunyinya mirip.

Teori kedua, Perrault sengaja memilih ferre karena makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Menurut pendapat beberapa ahli, kaca dan cermin sempat menjadi perlambang kelas sosial yang tinggi pada zaman itu. Karena itu wajar wajar kalau kaca yang dipilih Perrault untuk membedakan Cendrillon dengan gadis-gadis bangsawan di pesta yang pastinya juga cantik-cantik dan bergaun mewah.

Lalu kenapa kacanya harus di sepatu? Karena kalau di rambut, nanti bisa dipakai siapa saja. Kalau di cincin atau gelang, kalah mewah sama perhiasan permata yang dipakai gadis-gadis lain. Terus kalau di baju, gimana caranya bisa ketinggalan coba? Masa bajunya Cendrillon kecantol pager terus dia pulang pakai rok dalam aja? Lagian baju dari kaca kayaknya makin nggak praktis. Kalau sepatu kaca kan lebih kerasa efek fantastisnya. Soalnya si Cendrillon itu pasti badannya seringan bulu sampai bisa bikin sepatu kacanya nggak pecah meskipun dipakai buat dansa semalaman sama lari-larian. Jadi sudah pasti perempuan pilihan. Itu menurut pendapat goblok saya aja, sih. Hehehe…

Tapi ini ada jawaban lebih cerdas yang saya comot dari artikel bikinan seorang mahasiswa yang khusus belajar tentang simbologi dongeng. Pada zaman dahulu, sepatu merupakan salah satu simbol bagi wanita, sedangkan kaki adalah perlambang laki-laki. Ini sama seperti cawan dan pedang (di Da Vinci Code ada, tuh) atau lingga dan yoni yang jadi perlambang pria dan wanita di Jawa. Ngomong-ngomong di Cina juga ada peribahasa yang melambangkan wanita dengan alas kaki (Kedengarannya nyebelin banget, alas kaki pria.). Pria yang makan nasi sandal. Artinya suami yang hidup dengan hasil jerih-payah istri. Tapi saya belum pernah bener-bener mencari sumbernya, jadi ya maaf-maaf kalau ternyata salah.

Lebih dalam lagi, kaca juga bisa dimaknai sebagai simbol selaput dara perempuan, karena rapuh dan begitu retak tak bisa diperbaiki lagi. Jadi ternyata dalam sekali ya, alasan Perrault memilih sepatu kaca sebagai fashion statement-nya Cinderella.

Indonesian Version of Cinderella

Upik Abu? Itu cuma nama yang digunakan dalam versi terjemahan dari Cinderella. Sedangkan dongeng Indonesia yang ceritanya sangat mirip dengan Cinderella adalah salah satu versi Keong Mas.

Keong Mas. Photo by en.wikipedia.org
Lukisan Dewi Sekartaji (Keong Mas) di dinding Keong Emas IMAX Theater, Taman Mini Indonesia Indah.  Photo credit: Wikimedia Commons

Di sini Galuh Chandra Kirana juga memiliki saudara tiri yang jahat, Galuh Ajeng. Tapi dalam Keong Mas tidak ada sepatu atau barang lain milik Galuh Chandra Kirana yang tertinggal. Lagipula sejak awal Galuh Chandra Kirana memang istri Panji Asmara Bangun. Mereka terpisah karena Galuh Chandra Kirana terkena kutuk menjadi keong mas tadi.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.