[Review Buku] Dorr – Penembak Misterius (Petrus)

Judul: Dorr – Penembak Misterius (Petrus) Seri I
Penulis: Pusat Data dan Analisa TEMPO
Bahasa: Indonesia
Format: ebook, 99 hal.
Penerbit: Tempo Publishing (2019)
Bisa dibaca/didapatkan di: app. iPusnas, Google Books, atau PlayStore
Genre: nonfiksi, sejarah, kumpulan artikel

Cerita

Pejabat Jawa Tengah dan Yogya mengumumkan hasil penumpasan gali (gerombolan anak liar) dan jumlah korbannya yang mencapai 86 orang.

Di Jakarta, bandit-bandit mulai mati. Mereka ditengarai sebagai korban penembakan misterius.

Inilah sekelumit kisah tentang petrus (penembak misterius) yang menjadikan tahun 1983 mencekam.

Bukan cuma publik yang dibikin heboh. Para pelaku tindak kriminal atau mereka yang sekadar bertato pun dibuat ketakutan.‌

Level of Interest

❤️❤️❤️

Review

Nah, buku ini adalah sumber bacaan tentang petrus yang sudah saya cari-cari sejak lama. Ini adalah kompilasi berita dan artikel yang pernah diterbitkan oleh media TEMPO. Isinya mulai dari merebaknya isu operasi pemberantasan gali, desas-desus, gcerita dari keluarga para korban, keresahan warga, kesaksikan petugas kamar jenazah, hingga penyataan-pernyataan mengejutkan dari pihak yang berwajib pada masa itu. Kalau statement semacam itu dilempar sekarang, bisa jadi demo berjilid-jilid dari para pembela HAM. Beberapa narasumber adalah nama-nama besar yang mungkin masih dikenali oleh anak-anak generasi sekarang. Misalnya LB Moerdani, Adnan Buyung Nasution, Sudomo, hingga pakar forensik, Mun’im Idris yang legendaris itu.

Karena disusun menjadi beberapa seri, tak heran kalau buku ini jadi kelewat tipis. Isinya tak sampai seratus halaman. Itu pun sudah termasuk kata pengantar ekstra panjang dan daftar isi.

Buku ini saya baca lewat aplikasi iPusnas. Konsepnya, ya seperti pinjam buku di perpustakaan offline. Cuma buku yang dipinjam formatnya ebook dan ada antrean super panjang untuk buku-buku yang populer.

Buku ini juga bisa didapatkan di PlayStore (Rp75.000-an) dan Google Books (Rp62.000-an). Kalau kata saya, harga segitu nggak worthed untuk kumpulan artikel tanpa bentuk fisik. Selagi bisa dibaca gratis secara legal, ya mending nggak usah beli. Toh, nggak ada antrean untuk buku ini di iPusnas.

Penyampaiannya runut dan enak dibaca. Namanya juga artikel TEMPO. Kasus petrus dibahas dari berbagai sisi. Tapi baca buku ini, ya sensasinya sama kayak baca Indonesian X-Files. Jangan mengharap konklusi yang memuaskan rasa penasaran. Soalnya, fenomena ini memang tak terpecahkan sampai sekarang.

Sekilas tentang Fenomena Petrus

Meskipun tak lagi ingat tahunnya, gemparnya fenomena petrus masih membekas jelas di memori orang-orang dari generasi ibu saya. Bahkan di kota kecil seperti Malang saja, ada beberapa cerita soal ini yang berhasil saya himpun. Misalnya, penembakan seorang preman yang beroperasi di daerah Kayutangan oleh sniper. Cerita ini dibenarkan oleh ibu teman saya yang sudah jadi warga Kayutangan di tahun 80-an. Ada pula cerita tentang mayat bertato yang ditemukan di kali cemplong dekat rumah atau kisah pemuda korban salah tangkap yang untungnya sudah dilepas di Jalan Ijen sebelum sempat didor.

Jadi, fenomena petrus ini ternyata cuma setahun, yaitu di tahun 1983. Kasus berawal di Yogyakarta dan Jawa Tengah, lalu melebar ke Jakarta dan daerah-daerah lainnya. Sasaran eksekusi adalah preman, copet, atau siapa saja yang dianggap suka bikin onar. Soalnya, kejahatan preman—yang saat itu sampai banyak organisasi resminya memang sudah sampai taraf meresahkan masyarakat.

Di Jakarta saja, ada 26 korban dalam sebulan. Sepanjang Januari sampai Mei, ada 43 korban diduga gali yang tewas secara misterius. Setahun sebelumnya, masyarakat sudah mulai resah, karena maraknya pembajakan bus antarkota oleh preman. Terdorong kegeramannya, pangkopkamtib saat itu, Sudomo mengeluarkan pernyataan kontroversial soal perlunya keberadaan killer squad buat memberantas para penjahat.

Modus operandi petrus pada masa itu adalah menjemput korban secara paksa di rumah atau tempat umum, lalu dieksekusi di tempat lain. Konon, pelakunya adalah orang-orang bertubuh tegap yang wajahnya ditutup masker dari sapu tangan. Keesokan harinya, jenazah korban ditemukan dengan tangan terikat dan tembakan di bagian tubuh vital. Mayat yang dibungkus karung digeletakkan begitu saja di piggir jalan atau tepi sungai.

Siapa Dalang Kasus-Kasus Petrus?

Siapakah otak di balik operasi petrus? Tentu pertanyaan ini ditanyakan oleh semua orang. Desas-desus yang beredar adalah keterlibatan oknum militer sebagai eksekutor.

Pihak kepolisian dan TNI DKI Jakarta tidak mengakui ikut andil dalam operasi tersebut. Pangab/Pangkopkamtib, LB Moerdani tidak membenarkan atau menyangkal keterlibatan militer dalam kasus petrus. Ia hanya menyatakan kalau tindakan aparat dilakukan untuk menanggulangi kejahatan dan selalu berlandaskan hukum. “Penembakan hanya dilakukan dalam keadaan terpaksa.” Sedangkan Kapolri menyatakan, “Pokoknya, bagi saya yang penting aman.”

Sementara itu, Garnisun Yogyakarta malah terang-terangan mengumumkan Operasi Pemberantasan Kejahatan untuk melumpuhkan gali. Namun, Kasi Pendak Jateng dan DIY menyatakan kalau para gali tewas karena ditembak saat melawan petugas pada upaya penangkapan atau dikeroyok massa. Intinya, mereka menyatakan kalau para korban tewas karena sudah meresahkan masyarakat.

Keresahan Akibat Petrus

Kalau petrus memang benar didalangi militer, maka operasi tiu dijalankan sebagai upaya untuk mengatasi keresahan masyarakat terhadap kejahatan gali. Namun, operasi misterius ini juga menimbulkan keresahan baru di tengah masyarakat. Banyak warga yang takut jadi korban salah tangkap. Masalahnya, kasus salah tangkap ini memang sering terdengar. Syukur-syukur kalau ketahuan salah sebelum pelipis ditembus timah panas. Kalau sudah terlanjut meregang nyawa, terus bagaimana?

Preman-preman pun gelisah dengan nasib mereka. Konon, saat itu banyak organisasi gali yang memutuskan bubar. Tak sedikit preman yang kabur, bunuh diri, atau menyerahkan diri secara sukarela ke petugas—tapi ujungnya tetap tewas juga.

Mereka yang bukan preman tapi bertato juga ikut gelisah. Akibatnya, unit bedah plastik di berbagai rumah sakit sampai kebanjiran pasien yang ingin menghapus tato. Mereka yang tidak punya duit lebih nekat ambil jalan pintas, menghapus tato dengan soda api.

Petugas kamar jenazah ikutan pusing. Dengan munculnya fenomena petrus, pekerjaan petugas forensi dan kamar jenazah jadi ikutan bertambah. Mereka sampai kewalahan dengan jumlah mayat yang terus berdatangan. Jadwal otopsi seolah tak ada habisnya. Kadang ada juga jenazah yang tak bisa diotopsi, karena tak mempan senjata tajam. Pisau bedah serasa menyayat batu.

***

Yak, sekian ulasan super singkat dan cerita saya soal petrus yang didapat dari buku Dorr – Penembak Misterius (Petrus). Buku kedua dan selanjutnya, yah, saya belum berminat untuk meneruskan, sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.