[Listopia] 14 Film Adaptasi Buku Klasik yang Bisa Ditonton di Netflix

Sebenarnya, saya berniat bikin postingan soal adaptasi buku yang bisa ditonton di Netflix. Tapi, kok jumlahnya banyak banget. Ternyata Netflix lumayan niat menyediakan film-film dan series yang diangkat dari buku. Tontonan seperti ini memang sudah punya pasar sejak sebelum premier, sih. Jadi, memang cukup menjanjikan dari sisi komersil.

Nah, biar nggak mabok ngetiknya, saya persempit saja jadi film adaptasi buku klasik yang bisa ditonton di Netflix. Patokan saya untuk buku klasik di sini adalah karya yang dipublikasikan sebelum tahun 1950.

Berikut ini beberapa yang saya temukan. Judul yang belum saya tonton cuma A Fortunate Man (2018) sama Tenggelamnya Kapal van der Wijck (2013). Oh, iya, kebanyakan bukan Netflix Original, ya. Jadi, bisa saja suatu saat nggak tayang di Netflix lagi kayak Pride & Prejudice dan The Great Gatsby.

1. Mowgli: Legend of the Jungle (2018)

Kalau Disney bikin live action The Jungle Book, Warner Bros juga nggak mau kalah bikin Mowgli: Legend of the Jungle. Film ini juga diangkat dari kisah-kisah Mowgli, anak manusia yang dibesarkan kawanan serigala rekaan Rudyard Kipling. Buku-bukunya sendiri rilis pada 1893—1895. Katanya, film ini jauh lebih akurat dalam mengangkat kisah-kisah Mowgli karya Kipling.

Mowgli yang ini ceritanya lebih emosional dan temanya sedikit lebih kompleks daripada versi Disney. Saya, sih lebih suka yang ini, meskipun nggak lucu dan secara finansial kalah sukses. Soalnya, kisah Mowgli ini memang lebih cocok untuk penonton yang lebih dewasa. Mowgli diperankan dengan ciamik oleh Rohan Chand. Ada juga Benedict Cumberbatch yang menyuarakan karakter antagonisnya, Shere Khan si harimau. Sementara karakter ular betina, Kaa yang disuarakan Scarlett Johansson di Disney disuarakan oleh Cate Blanchett.

2. The Curious Case of Benjamin Button (2008)

Film yang dibintangi Brad Pitt dan Cate Blanchett ini diangkat dari cerpen karangan penulisnya The Great Gatsby, F. Scott Fitzgerald. Kalau Gatsby adalah curcolan pribadi Fitzgerald yang banyak membahas kelas sosial, maka Benjamin Button adalah drama dengan sedikit sentuhan fantasi.

Gagasan utamanya adalah reverse growth yang membuat fase kehidupan Button ikutan terbalik. Saya suka banget ceritanya. Suka banget juga nonton Cate Blanchett di sini. Orang ini memang auranya elegan banget, ya?

3. Dangerous Liasons (2022)

Film ini adalah modern retelling dari Les Liaisons dangereuses (1782) karya Pierre Choderlos de Laclos. Kalau kalian pernah nonton Cruel Intentions, ya ceritanya sama persis. Cuma beda nama tokoh, tapi setting modern, sekolah, dan lingkungan sosialitanya sama.

Novelnya sendiri punya struktur unik, karena berformat epistolari. Ceritanya bergulir dalam bentuk surat-surat yang ditulis Vicomte de Valmont dan Marquise de Merteuil. Intinya mereka berdua taruhan untuk merusak reputasi dua wanita baik-baik demi motif masing-masing. Kalau saya yang cerita memang nggak seru. Tapi, Les Liaisons dangereuses ini menurut saya termasuk cerita klasik terbaik. Banyak intriknya, jadi diadaptasi dengan setting apa pun tetap menarik.

4. Untold Scandal (2003)

Les Liaisons dangereuses itu banyak banget adaptasinya. Ada yang ber-setting lawas beneran, Amerika Serikat di zaman modern, China tahun 1930-an, sampai Korea di era Joseon. Nah, versi Koreanya, ya Untold Scandal ini.

Untold Scandal dibintangi Bae Yong Joon dan Jeon Do Yeon di masa jaya mereka. Ini tipikal film roman sejarah Korea yang ngenes dan agak-agak erotis seperti Frozen Flower, Painter of the Wind, dan The Concubine. Tapi, akting para aktor dan penggarapannya bagus, sih. Wajar kalau sukses banget secara komersial.

5. Bram Stoker’s Dracula (1992)

Film ini adalah adaptasi dari novel Dracula karya Bram Stoker yang diterbitkan pertama kali pada 1897. Saya yakin kisah Count Dracula ini sudah cukup familiar. Jadi, nggak banyak yang bisa saya katakan.

Menurut saya, ini film yang cukup bagus. Aktor-aktrisnya jempolan. Mulai dari Gary Oldman sampai Anthony Hopkins. Kalau ada yang nggak jempolan paling Om Keanu Reeves—meskipun saya suka banget orangnya—yang aktingnya di sini agak gimana gitu.

6. The Mask of Zorro (1998)

Selama ini, saya kira Zorro itu semacam legenda atau cerita rakyat macam Si Pitung di Indonesia. Ternyata, dia benar-benar karakter rekaan dan ada book series-nya. The Mask of Zorro mengangkat kisah tokoh Zorro yang direka oleh penulis pulp, Johnston McCulley pada 1919. Jadi, ceritanya sendiri original, cuma pinjam karakter.

Ceritanya ringan, lebih banyak aksi, minim special effect, dan cukup kocak. Sampai sekarang saya masih sering nonton ulang, karena ya memang seru dan simpel. Banderas jelas pas banget memerankan Zorro. Tapi, saya rasa nggak bakal ada orang yang percaya Sir Anthony Hopkins jadi orang Meksiko. Padahal saya suka banget sama aktor senior ini.

7. Rebecca (2020)

Ini adalah film Netflix Original yang diangkat dari novel karya Daphne du Maurier. Ceritanya tentang pengantin baru yang menjalani pernikahannya dengan bayang-bayang seorang Rebecca. Beneran bayang-bayang, karena karakter Rebecca ini sebenarnya sudah meninggal. Dia adalah istri pertama Maxim de Winter (Armie Hammer) yang dipuja semua orang dan selalu dibandingkan dengan Mrs. de Winter baru.

Kata para kritikus, kualitas film ini masih kalah jauh dari adaptasi tahun 1939 yang disutradarai Hitchcock. Tapi, saya sendiri sangat terkesan dengan film ini. Soalnya, ceritanya memang kuat dan berstruktur unik. Bisa mengaduk-aduk emosi penonton dan bikin penasaran terhadap karakter Rebecca yang diceritakan sepotong-sepotong dari sudut pandang setiap karakter.

8. Persuasion (2022)

Pride & Prejudice hilang dari Netflix, gantinya ada Persuasion yang juga diangkat dari novel karya Jane Austen. Ceritanya tentang Anne Elliot yang tidak sevokal Elizabeth Bennet dalam menyatakan pendirian, jadi mau saja di-persuade untuk mengakhiri hubungan dengan Captain Wentworth. Intinya, Anne menyesali pilihannya itu. Lalu, dia mulai belajar untuk lebih tegas sejak bertemu kembali dengan Captain Wentworth.

Persuasion versi Netflix ini ‘dibungkus’ dengan gaya modern, meskipun latarnya tetap historical. Ceritanya digiring ke arah komedi dengan adegan-adegan fourth-wall breaking dan karakter-karakter antagonis yang digambarkan lebih komikal. Sebenarnya, Dakota Johnson cukup oke memerankan karakter timid kayak Anne. Tapi, saya jauh lebih menyukai adaptasi Persuasion tahun 2007 yang dibintangi Sally Hawkins. Lebih kerasa Austen.

9. Lady J (2018)

Nah, Lady J yang berbahasa Prancis ini sebenarnya bukan adaptasi buku total. Cerita ini cuma diambil dari salah satu fragmen di novel Jacques the Fatalist karya Dennis Diderot. Novelnya sendiri memuat banyak fragmen yang diceritakan oleh banyak tokoh kepada pria bernama Jacques sebagai narator utama.

Ceritanya Lady J ini ada miripnya dengan Les Liaisons dangereuses, tentang Madame de La Pommeraye yang patah hati setelah kehilangan perhatian bangsawan playboy, Marquis des Arcis. Lalu, ia mengatur rencana balas dendam dengan berbagai muslihat agar des Arcis menikahi seorang PSK.

10. A Fortunate Man (2018)

Ini adalah film Denmark yang diangkat dari novel series Lykke-Per (Lucky Per) karya Henrik Pontoppidan. Tepatnya ada delapan novel yang diterbitkan sejak 1898 sampai 1904.

Nggak banyak yang bisa saya ceritakan, karena saya sendiri belum nonton film ini. Kalau baca sinopsisnya, ini adalah cerita Peter Sidenius yang berambisi untuk mengejar kesuksesan sebagai insinyur di Kopenhagen. Intinya adalah kisah jatuh bangun Peter dalam urusan karier dan asmara. Salah satu kritikus film menyebut tokoh Peter ‘a gifted but self-destructive young man’. Jadi, kita bayangkan saja dulu seperti apa ceritanya dari deskripsi ini.

11. Little Women (1994)

Ini adalah adaptasi bukunya Louisa May Alcott. Ceritanya, ya tentang kakak-beradik March yang berusaha menggapai impian masing-masing. Buat ukuran novel coming of age dengan latar abad 19 , ceritanya cukup menyentuh sekaligus bikin gregetan.

Film ini dibintangi Winona Ryder di masa-masa jayanya. Jadi, fokusnya memang lebih ditujukan ke karakter Jo yang dia perankan. Ada Kirsten Dunst yang masih unyu juga sebagai si bungsu, Amy saat masih kecil. Bikin gregetan banget, ya Allah. Saya pribadi lebih suka adaptasi 2019 yang dibintangi Saoirse Ronan, Florence Pugh, dan Emma Watson. Soalnya ceritanya sudah dipermak sedikit, jadi nggak bikin sebegitu gregetan sama Amy dan Jo (yang kadang bego).

12. Emma (2020)

Adaptasi Jane Austen juga ini. Kalau boleh saya ganti judul, seharusnya jadi The Misunderstandings of the Matchmaker. Ini adalah kisah Emma yang kepedean dengan kemampuannya sebagai makcomblang gara-gara sukses menyatukan satu pasangan, lalu sotoy menjodohkan banyak orang dan ternyata salah sasaran semua.

Kalau sepanjang film Persuasion saya merasa Anne perlu ‘speak her mind’, maka saya merasa Emma perlu banget ‘mind her own business’ selama nonton ini. Ini anak bikin hubungan asmara banyak orang jadi runyam. Persis bener sama tantenya Anne Elliot.

13. Wuthering Heights (1992)

Wuthering Heights ini juga diangkat dari novel gotik seperti Rebecca. Tapi, saya mangkel melulu saat nonton film ini. Nggak kayak Rebecca yang bikin emosi teraduk, saya cuma lelah dengan sebegitu banyak angst dan kerumitan yang terjalin di antara para penghuni Wuthering Heights dan Thrusscross Grange. Ceritanya kayak apa? Silakan baca ringkasan saya di sini.

Film ini dibintangi Lord Voldemort, Ralph Fiennes yang memerankan Heathcliff. Sementara Juliette Binoche memerankan Cathy Earnshaw yang sungguh gaje dan saya nggak suka karakternya. Padahal saya suka banget sama dua aktor ini saat membintangi The English Patient. Masalahnya memang bukan di akting merkea, tapi di cerita Wuthering Heights sendiri yang tidak saya nikmati, tapi berkali-kali saya coba karena penasaran kenapa begitu banyak orang yang menyukai karya ini.

14. Tenggelamnya Kapal van der Wijck (2013)

Terakhir, ada Tenggelamnya Kapal van der Wijck yang diangkat dari novel berjudul sama karya Hamka. Ceritanya tentang cinta tak kesampaian Zainuddin dan Hayati gara-gara belitan adat yang sudah usang. Model-model roman di sastra angkatan Pujangga Baru yang ngenes sampai mati gitulah. Novelnya terinspirasi dari tenggelamnya kapan van der Wijck beneran di Lamongan. Belakangan, novel ini dituding Pramoedya Ananta Toer sebagai plagiasi dari  Sous les Tilleuls  karya Jean-Baptiste Alphonse Karr (di Indonesia terbit dengan judul Magdalena), terus dibela sama HB Jassin. Wah, pokoknya ribut.

Film ini dibintangi Herjunot Ali sebagai Zainuddin, Pevita Pearce sebagai Hayati, dan tentu saja ada Reza Rahadian. Beneran, film Indonesia ini kayak nggak ada aktor selain Reza. Saya suka banget sama aktingnya orang ini, tapi masa nggak ada aktor lain yang talentanya bisa digali gitu, lho.

Sebenarnya masih banyak adaptasi buku klasik di Netflix yang dulu sempat saya tonton. Misalnya The Great Gatsby, Pride & Prejudice, Sherlock Holmes, atau Breakfast at Tiffany’s. Tapi sekarang sudah nggak ada lagi. Padahal bagus-bagus banget, lho.

2 thoughts on “[Listopia] 14 Film Adaptasi Buku Klasik yang Bisa Ditonton di Netflix

  1. Beberapa saya pernah menontonnya tapi yang ampe sekarang masih teringat hanya The mask Of Zorro, film ini gak mbosenin walau ditonton ulang. Makasih sudah diingetin film-film klasik lamanya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.