[Review Buku & Film] Pride and Prejudice, Roman Klasik dari Jane Austen

Judul: Pride & Prejudice
Penulis: Jane Austen
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 588 hal.
Penerbit: Qanita (2015)
Genre: fiksi, roman, klasik, drama

Cerita

Dikutip dari Goodreads:

“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”

Di mata Elizabeth, Mr. Darcy tidak pernah menjadi sosok yang memesona. Baginya, laki-laki itu angkuh, sombong, dan menyebalkan. Elizabeth membenci tatapannya yang merendahkan, cara bicaranya yang meremehkan, dan segala hal tentang bangsawan kaya raya itu. Kebencian itu semakin bertambah ketika Elizabeth tahu bahwa Mr. Darcy telah melakukan hal yang menurutnya tak bisa dimaafkan.

Butuh lama bagi Elizabeth untuk memahami sisi lain dari Mr. Darcy dan menerima kenyataan akan kebaikannya yang tersembunyi. Dan, ketika akhirnya gadis itu menyadari perasaannya kepada Mr. Darcy telah berkembang menjadi cinta, dia pun jadi ragu, akankah dia bisa menebus prasangkanya yang sangat buruk pada laki-laki itu? Lalu, akankah cintanya yang baru tumbuh itu menjadi sia-sia?

Dalam Pride and Prejudice, Jane Austen menuangkan detail yang memikat mengenai kaum menengah ke atas pada abad ke-19. Karakter-karakternya yang memukau, juga narasinya yang cerdas, menjadikan novel ini sebagai salah satu roman terpopuler sepanjang masa.

Pride and Prejudice. Photo: Goodreads
Pride and Prejudice. Photo: Goodreads

5 Points:

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review

Salah satu buku paling banyak dibaca sejak pertama kali diterbitkan di tahun 1813. Karya yang sangat populer di kategori literatur klasik dan dianggap sebagai salah satu roman terbaik yang pernah ditulis. Inilah Pride and Prejudice karya Jane Austen.

Intro yang benar-benar wah, ya. Sedahsyat itulah popularitas Pride & Prejudice di dunia literatur. Meskipun kalau boleh berkomentar, saya rasa masih banyak buku yang jauh lebih dahsyat, tapi kalah pamor dari karya Ms. Austen ini.

Hal pertama yang bakal saya komentari dari Pride & Prejudice adalah ketebalannya. Seperti kebanyakan novel-novel klasik dari tanah barat, buku ini juga tergolong tebal pakai banget. Tapi jangan dibandingkan sama Anna Karenina atau Taiko. Pasalnya cerita di dalam buku ini jauh lebih mudah dicerna. Bisa selesai baca dalam satu atau dua malam kalau memang niat.

Inti ceritanya adalah cinta yang terhalang oleh pride si pria dan prejudice dari tokoh utama wanita. Konklusinya, mereka bersatu setelah masing-masing berhasil membuang dua perilaku tersebut. Sementara pesan moral yang bisa dipetik adalah pentingnya mengesampingkan sikap materialistis dalam urusan cinta.

Ya, saya sudah meringkas jawaban buat tugas resensi kalian, adik-adik yang masih duduk di bangku SMA atau kuliah. Lain kali bukunya dibaca dan dianalisis sendiri, ya! Jangan ujug-ujug request resensi di kolom komentar blog orang yang nggak kalian kenal 😀

Lalu, apa yang mau dibahas lagi kalau sudah sampai kesimpulan dalam empat paragraf? Oh, banyak yang bisa kita diskusikan dari buku ini. Saya ulas filmnya sekalian biar semakin komplet.

The Pride of Mr. Darcy and The Prejudice of Miss Bennet

PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: Focus Features
Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy. PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: Focus Features

Seperti yang sudah saya singgung di atas, konflik utama di novel ini berakar dari arogansi dan prasangka kedua tokoh utamanya.  Darcy bersikap angkuh, entah disadarinya atau tidak, karena status sosial dan berbagai atribut kelebihan yang dimilikinya. Masih diperparah dengan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi yang buruk pula.

Sementara Lizzy terlalu mudah menilai seseorang dari kesan sekilas. Anak kedua dari keluarga Bennet ini bisa dikatakan sebagai seorang wanita feminis, bahkan untuk ukuran zaman sekarang. Sebenarnya dia juga cukup angkuh, karena menganggap dirinya cukup bijak dalam menilai karakter seseorang.

Darcy lebih cepat menyadari kekeliruannya. Sementara Lizzy yang akal sehatnya sudah terlanjur diburamkan prasangka terlambat menyadari kesalahannya dalam menilai Darcy dan Mr. Wickham.

Perjodohan Sebagai Sebuah Prospek Finansial

PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: Focus Features
PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: Focus Features

Hal lain yang patut disoroti di Pride & Prejudice adalah pandangan tentang pernikahan yang dipegang oleh sebagian besar tokoh di dalam novel tersebut.

Pernikahan yang ideal adalah yang menguntungkan secara finansial. Sehingga wanita-wanita dengan prospek kurang menguntungkan seperti Lizzy, Jane, dan Charlotte harus memilih ‘menikahi uang’ atau mendapat cap sebagai perawan tua. Pada akhirnya Lizzy dan Jane memang berhasil menikah demi cinta berbonus harta melimpah. Tetapi tentu saja tokoh wanita yang lain tidak seberuntung mereka.

Harta atau cinta? Rasanya masalah tersebut masih relevan di zaman modern ini. Masih banyak wanita modern yang dihadapkan dengan pilihan serupa. Saya yakin, saat ini pun banyak wanita yang harus memilih jalan seperti Charlotte. Menerima pinangan Mr. Collins yang jauh dari definisi ideal lelaki manapun, tapi mampu memberikan kemapanan secara finansial maupun sosial. Bagi Charlotte, itu adalah definisi bahagia yang lebih dari cukup.

Kenyataannya, kisah cinta Jane Austen sendiri harus kandas karena alasan yang sama. Dia dan kekasihnya, Tom Lefroy sama-sama diharapkan untuk ‘menangkap’ jodoh yang bisa menopang keuangan keluarga. Pasangan tersebut sengaja dipisahkan oleh kedua keluarga dan ikatan mereka tak pernah tersambung lagi.

Formula Roman Paling Ampuh

Kenapa Pride & Prejudice bisa begitu disukai selama berabad-abad? Sudah cetak ulang entah berapa kali, diadaptasi ke layar lebar, layar kaca, dan teater berkali-kali pula. Retelling-nya pun banyak banget. Baik dalam bentuk buku atau film. Sebut saja Bridget Jones’ Diary, Bride & Prejudice, sampai Pride & Prejudice + Zombies yang menurut saya agak maksa.

Bridget Jones Diary. Photo: Little Bird/StudioCanal/Working Title Films
Bridget Jones Diary. Photo: Little Bird/StudioCanal/Working Title Films

Saya pikir jawabannya sederhana saja. Pride & Prejudice menyuguhkan formula cerita roman yang manjur, cespleng kayak Jamu J*go. Cinta-cintaan model ‘sebel tapi demen’ yang rasanya bakal laris sepanjang masa kalau dilempar ke pembaca bucin macam saya. Ditambah perbedaan status sosial, karakter utama pria yang kaya raya dan angkuh, serta perempuan biasa-biasa saja yang cerdas dan feminis. Semakin sedaplah bumbu ceritanya.

 

Judul: Pride & Prejudice
Diangkat dari: Pride & Prejudice oleh Jane Austen
Sutradara: Joe Wright
Bahasa: Inggris
Tahun rilis: 2005
Produksi: StudioCanal, Working Title Films
Genre: drama, roman, klasik

Sinopsis (film)

PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: Focus Features
PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: StudioCanal/Working Title Films

In this adaptation of Jane Austen’s beloved novel, Elizabeth Bennet (Keira Knightley) lives with her mother, father and sisters in the English countryside. As the eldest, she faces mounting pressure from her parents to marry.

When the outspoken Elizabeth is introduced to the handsome and upper-class Mr. Darcy (Matthew MacFadyen), sparks fly.

Although there is obvious chemistry between the two, Darcy’s overly reserved nature threatens the fledgling relationship. Darcy reluctantly finds himself falling in love with a woman beneath his class.

Can each overcome their own pride and prejudice?

Level of Interest

Review (film)

Singkatnya, saya berpendapat film Pride & Prejudice (2005) ini sebagai adaptasi yang bagus dari novel Jane Austen. Apa lagi karena ini adalah film feature pertama yang diarahkan oleh Joe Wright.

Akting para pemerannya terbilang oke, termasuk tokoh-tokoh sampingan seperti Mr. Collins, Charlotte, dan Lady Catherine. Chemistry-nya apa lagi, bagus banget. Sementara dialognya dibuat lebih padat dan bercitarasa modern. Hal yang wajar, karena memasukkan seluruh dialog yang sama persis dengan buku bakal bertele-tele dan terlalu membosankan untuk selera penonton zaman sekarang. Apa lagi buat mereka yang belum pernah membaca bukunya.

Saya juga terkesan dengan kostum yang digunakan di dalam film ini. Kesannya sederhana dan ada kotor-kotornya gitu. Jadi terasa lebih realistis jika dibandingkan period drama lain yang terkesan glamor.

Sentuhan Modern yang Cukup Halus

PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: Focus Features
PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: Focus Features

Beberapa adengan di Pride & Prejudice dimodifikasi agar lebih sesuai selera modern. Misalnya adegan almost kissing, atau hebohnya persiapan para wanita Bennet untuk menyambut Darcy dan Bingley. Adegan yang saya sebut terakhir jni pasti lebih realistis di mata penonton modern. Luapan emosi Lizzy setelah ibunya memaksa untuk menerima pinangan Mr. collins atau setelah kedatangan Lady Catherine juga. Saya rasa semua itu perubahan yang sengaja dibuat untuk menyesuaikan pola pikir penonton di zaman ini.

Sinematografi Menawan

PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: Focus Features
PRIDE AND PREJUDICE (2005) Photo: Focus Features

Sinematogradi bagus, menonjolkan warm tone dari pedesaan Inggris. Beberapa adegan indoor sengaja diubah menjadi outdoor. Saya rasa hal itu dilakukan untuk mencegah nuansa monoton dan menambah efek dramatis. Bagaimanapun, penolakan Lizzy terhadap Mr. Darcy tidak akan jadi potongan sinematografi seindah itu jika patuh terhadap adegan asli di dalam novel.

Saya juga suka adegan pesta dansa yang menampilkan banyak fragmen adegan tanpa terputus seperti di film Birdman.

Keira Terlalu Cantik untuk Lizzy?

PRIDE AND PREJUDICE, Keira Knightley, 2005, (c) Focus Features/courtesy Everett Collection

Elizabeth Bennet adalah karakter perempuan yang secara fisik biasa-biasa saja, tapi bermata indah dan memesona karena kecerdasan serta sifat ceria yang dimilikinya. Dan Keira banyak dicela karena dianggap terlalu cantik untuk memerankannya. Tapi menurut saya secara fisik dia sudah pas. Austen sendiri menyebut Lissy memiliki wajah yang tirus seperti Keira. Dan fakta bahwa kecantikannya kalah menonjol daripada Jane juga sesuai dengan buku.

Menurut saya semua pemeran di film ini sudah sesuai, keculai Mr. Collins yang seharusnya jangkung. Tapi penggambaran karakternya yang sok, konyol, dan memalukan memang oke banget.

Aktor dan aktris yang seharusnya mendapatkan lebih banyak pujian adalah Jena Malone (Lydia) dan Brenda Blethyn (Mrs. Bennet). Entah kenapa saya suka intonasi suara dan artikulasi pemeran Charlotte.

Judi Dench berperan sebagai Lady Catherine de Bourgh. Seperti biasa, aktris veteran ini selalu mendominasi layar dengan wibawanya. Bahkan meskipun karakter yang dia perankan bersifat antagonis.

Sementara itu, Talulah Riley (Mary) perlu mendapatkan screen time yang lebih banyak. Dia ini karakter yang paling nyeleneh, introvert, dan suka melontarkan quote-quote ‘ajaib’. Masa munculnya cuma sekilasan.

Lalu bagaimana dengan Matthew McFadyen yang memerankan Mr. Darcy? Aktingnya memang tidak sememikat Keira. Bisa dipahami, karena karakter Mr. Darcy sendiri memang tidak banyak bicara. Nyaris lempeng bahkan. Tapi saya anggap McFadyen cukup berhasil menyelipkan emosi di dalam postur dan gerak tubuhnya yang terbatas. Lagipula, dia terbukti bisa membangun chemistry yang bagus dengan Keira.

***

Intinya, saya menganggap Pride & Prejudice sebagai film yang indah dan menghibur. Kalau tidak, saya tidak akan menontonnya sampai berkali-kali. Saya juga menghargai keberanian seluruh kru yang berani mengangkat cerita ini ke layar lebar meskipun sebelumnya sudah ada adaptasi Pride & Prejudice yang terlanjur melekat di benak pemirsa. Iya, versi BBC yang melambungkan nama Colin Firth itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.