[Review buku] Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir

Soedirman, Seorang Panglima, Seorang Martir
Soedirman, Seorang Panglima, Seorang Martir. Photo credit: Goodreads.com

Judul: Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir
Penulis: TEMPO
Bahasa: Indonesia
Format: paperback (176 hal.)
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2012)
Genre: biografi, non-fiksi

Sinopsis

Dari Goodreads:

“Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit.” Pagi itu, 19 Desember 1948, Panglima Besar bangkit dan memutuskan memimpin pasukan keluar dari Yogyakarta, mengkonsolidasikan tentara, dan mempertahankan Republik dengan bergerilya.

Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah Soedirman menolak bujukan Sukarno untuk berdiam di Yogyakarta. Dengan separuh paru-paru, ia memimpin gerilya. Selama delapan bulan, dengan ditandu, ia keluar-masuk hutan.

Di medan gerilya, Panglima Besar dipercaya bisa bersembunyi dari kejaran Belanda. Mampu menyembuhkan orang sakit dan—konon—menjatuhkan pesawat terbang dengan meniupkan bubuk merica. Aktivis Hizbul Wathan, mantan guru, dan peletak dasar kultur TNI yang ironisnya dulu sempat berkata, ”Saya cacat, tak layak masuk tentara.” Dialah Soedirman: panglima, martir.

Level of Interest

Review

Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir merupakan salah satu seri buku TEMPO dengan kategori tokoh militer. Barangkali awalnya dari kumpulan artikel tematis majalah itu? Yah, pokoknya saya senang buku ini diterbitkan, karena saya memang hobi baca sejarah dan Soedirman adalah salah satu pahlawan nasional yang kisah hidupnya belum banyak saya baca.

Selama ini, saya cuma tahu kisah sang panglima dari buku pelajaran sekolah. Tidak banyak yang bisa digali dari situ, kecuali fakta bahwa dia seorang jenderal muda dengan kemauan yang kuat, bahwa dia nekat berangkat gerilya meskipun paru-parunya cuma tinggal satu. Dengan kata lain, dia hanya digambarkan sebagai sosok ‘superhero’ tanpa celah atau kesalahan yang berarti. Sebuah persona yang mungkin memang sengaja diciptakan oleh pemerintah Orde Baru. Mohammad Hatta pun menyayangkan kecenderungan dalam menyikapi sejarah Soedirman yang cenderung berlebihan.

“Sejak Jenderal Soeharto menjadi presiden, menjadi kebiasaan memusatkan segala-galanya pada Jenderal Soedirman, seolah-olah Indonesia merdeka bermula dari dia,” katanya.

Sudah jadi rahasia umum, Soedirman memilih gerilya karena tidak sepaham dengan keputusan Sukarno-Hatta untuk bertahan di Yogyakarta selagi Belanda melancarkan serangan. Fakta ini digunakan oleh Orde Baru untuk menciptakan citra bahwa pemerintahan sipil tidak dapat diandalkan, oleh karena itu yang terbaik adalah memberikan kekuasaan kepada militer.

Walaupun begitu, terlepas dari pendewaan dirinya sebagai seorang tokoh militer, sebenarnya Soedirman memang seorang jenderal mumpuni yang benar-benar layak mendapat gelar panglima besar dan status sebagai pahlawan nasional. Cuma, ya mbok jangan berlebihan kalau memuja.

Buku ini sendiri berbicara tentang nyaris setiap bab dalam kehidupan Soedirman. Dari latar belakang keluarganya yang menjadi polemik, kisah cintanya dengan sang istri Siti Alfiah, penunjukannya sebagai panglima besar alih-alih Oerip Soemohardjo yang jauh lebih senior dan berpengalaman, manuver militer dan politiknya, pasang-surut hubungannya dengan beberapa tokoh nasional, hingga tuduhan keikutsertaannya dalam upaya kudeta pertama di Indonesia yang kemerdekaannya bahkan belum diakui dunia. Sepak terjangnya saat bergerilya tentu saja paling banyak dibahas. Setiap bab tidak diceritakan secara runut, tetapi ending-nya sama. Takluknya sang jenderal terhadap penyakit yang menggerogoti tubuhnya di usia 34 tahun. Usia yang sangat muda. Kehidupan yang singkat dengan begitu banyak kisah untuk diceritakan.

Soedirman, istri (Siti Alfiah), dan anak bungsunya
Soedirman, istri (Siti Alfiah), dan anak bungsunya

Tidak seperti buku pelajaran sejarah atau PSPB (saya yakin nggak banyak yang tahu kalau pelajaran ini pernah ada), di buku ini Soedirman diceritakan secara utuh berikut semua kebesaran dan kesalahan yang dia perbuat dalam manuver militer. Salah satunya adalah kekalahan telak yang dialami tentaranya saat melawan prajurit Simon Spoor. Spoor yang berpangkat letnan jenderal, 47 tahun, jauh lebih berpengalaman di medan perang. Jadi tak mengherankan jika Operatie Kraai (Operasi Gagak) dengan 15.000 personel yang dipimpinnya mampu bikin tentara Soedirman kocar-kacir.

Penuturan apik, sesuai ekspektasi dari media sekelas TEMPO

Seperti yang diharapkan dari majalah selevel TEMPO, penuturan dalam buku ini mengalir dengan mulus. Sangat informatif dan enak dibaca. Meskipun bukunya tipis, kita masih bisa melihat apa saja yang ada di balik riwayat gemilang sang panglima besar. Perselisihannya dengan beberapa tokoh nasional, termasuk hubungan love-hate yang dia bangun dengan Hatta, Sukarno, dan Sutan Sjahrir hanya dikisahkan sepotong-sepotong. Tetapi kita masih bisa menyimpulkan bagaimana sebenarnya hubungan keempat orang ini.

Satu hal lagi yang saya sukai dari buku ini adalah TEMPO memasukkan beberapa foto Soedirman yang jarang dipublikasikan. Menurut saya gambar-gambar ini sangat membantu pembaca untuk merasakan bagian sejarah Soedirman yang sedang dibahas.

Soedirman, seorang guru ‘cacat’ yang menjadi panglima besar

Soedirman adalah jenderal pertama dan terakhir yang menyandang gelar panglima besar. Dan gelar ini ia peroleh hanya dalam waktu beberapa tahun. Sebelum bergabung dengan militer pun sebenarnya dia sudah dikenal sebagai bintang dalam semua bidang yang dia jajal. Tapi mungkin tidak ada yang menduga pencapaiannya bakal sebesar itu.

Di masa mudanya, Soedirman adalah aktivis di organisasi-organisasi Islam. Anak semata wayang mantan asisten wedana ini kemudian menjadi seorang guru. Karirnya cukup moncer sehingga ia bisa dipromosikan menjadi kepala sekolah dalam waktu singkat. Tapi sekolah tempatnya mengajar terpaksa ditutup. Kemudian Soedirman diminta oleh Jepang untuk membantu mereka mengambil hati penduduk setempat. Tetapi pria dengan panggilan Kaji itu justru melakukan pemberontakan kecil-kecilan dengan membujuk warga untuk tidak membayar upeti bahan pangan jika keluarga mereka masih berkekurangan.

Soedirman sedang bercanda dengan rekan-rekannya. Photo credit: Istimewa
Soedirman sedang bercanda dengan rekan-rekannya. Photo credit: Istimewa

Singkat cerita, Soedirman yang ternyata kurang menguntungkan sebagai ‘influencer’ ini lantas dibuang ke PETA. Setelah berlatih militer selama beberapa bulan bersama PETA, dia memutuskan untuk jadi prajurit. Sebelum bergabung dengan tentara Indonesia, dia sendiri sempat ragu karena merasa fisiknya cacat. Istrinya pun khawatir. Pasalnya salah satu tempurung lututnya bergeser. Mata kirinya pun sedikit buram. Tetapi Soedirman meminta istrinya untuk tabah dan pamit menjadi tentara.

Soedirman (kiri) dan Oerip Soemohardjo (tengah). Photo credit: Istimewa

Sebelum berangkat berjuang Soedirman dan kawan karibnya, Isdiman minta restu ke beberapa sekolah. Mereka masuk ke kelas-kelas dan minta doa dari murid-murid yang sedang belajar. Beberapa tahun kemudian, Isdiman yang sudah menjadi komandan gugur di tengah pertempuran. Kematiannya meninggalkan lubang besar di hati sahabatnya. Sementara karir Soedirman melesat setelah terpilih sebagai panglima besar melalui sidang pertama TKR di tanggal 12 November 1945.

Pecandu rokok yang hidup dengan paru-paru sebelah

Soedirman sudah kecanduan rokok sejak masih belia. Ia terserang tuberkolosis sekembalinya dari perjalanan untuk menumpas kudeta PKI Madiun tahun 1948. Menurut anak bungsunya, nelangsa Soedirman karena harus membasmi beberapa orang yang ia kenal dalam operasi itu turut ambil bagian dalam penurunan kesehatannya.

Jenderal Soedirman saat dirawat di RS karena penyakit paru-parunya.
Jenderal Soedirman saat dirawat di RS karena penyakit paru-parunya. Photo credit: TEMPO

Sejak itu kondisi Soedirman terus memburuk, terutama setelah dia menjalani operasi untuk menon-aktifkan sebelah paru-parunya. Saat itu metode tersebut dipercaya dapat menyembuhkan TBC. Tetapi pengobatan seperti ini terbukti tidak efektif dalam dunia medis modern. Kondisi Soedirman tidak pernah membaik lagi, walaupun kekuatan tekad sempat membuat dirinya sanggup bangun dari kasur untuk gerilya.

Keputusan Soedirman itu memang didasari rasa kecewanya yang menganggap Sukarno-Hatta ingkar dari janji mereka sendiri untuk memimpin gerilya jika ibukota Yogyakarta sampai jatuh ke tangan musuh. Tampaknya Soedirman tak mengetahui kalau kukuhnya dwitunggal untuk bertahan di Yogya merupakan hasil keputusan kabinet. Keduanya pun sudah menyiapkan serangkaian rencana jika mereka benar-benar ditawan. Salah satunya adalah memberikan mandat kepada  Syafruddin Prawiranegara untuk mendirikan pemerintahan darurat.

Tetapi pemikiran Soedirman bahwa seorang pemimpin militer tidak boleh sampai ditawan musuh juga bukannya salah. Kenekatannya untuk menolak perintah Sukarno agar tetap di Yogya merupakan bukti bahwa dirinya tidak menganut disiplin buta. Ia patuh kepada negara, tetapi berani untuk mengambil jalan yang berbeda jika menurutnya para penyelenggara negara mengambil langkah yang salah.

Jenderal Soedirman diangkut dengan tandu saat gerilya.
Jenderal Soedirman diangkut dengan tandu saat gerilya. Photo credit: Istimewa

Setelah berbulan-bulan gerilya, Soedirman diminta untuk kembali ke ibukota Yogyakarta karena kondisi kesehatannya. Kali ini sang jenderal manut. Setelah penyambutannya di Griya Agung, beredar foto legendaris saat Sukarno memeluknya. Foto itu selalu dianggap sebagai bukti atas mesranya hubungan pemerintah sipil dan militer. Tetapi aslinya saat itu Soedirman masih ngambek. Dia menolak masuk ke dalam Griya Agung dan memeluk balik Bung Karno. Tetapi Sukarno sendiri yang meminta agar adegan pelukan itu dipotret berkali-kali sampai ‘momennya dapet’. Bagaimanapun Bung Karno memang seorang politisi sejati. Dia tahu betul kekuatan selembar foto untuk propaganda.

Mohammad Hatta (kiri) dan Jenderal Soedirman (kanan).
Mohammad Hatta (kiri) dan Jenderal Soedirman (kanan). Photo credit: Istimewa

Sekembalinya dari gerilya, Soedirman dirawat di rumah sakit dengan nama samaran. Masih sempat memimpin rapat dengan pemerintah dan anak buahnya. Namun perawatan memadai tak bisa mencegah Soedirman untuk berpulang ke penciptanya. Dia meninggal setelah mengucapkan kalimat syahadat dengan bantuan istrinya. Pemakamannya dihadiri oleh Hatta. Meskipun sering berseberangan, kedua tokoh ini sebenarnya cukup dekat. Hatta sering menjenguk dan mengajaknya diskusi di rumah sakit. Ia bahkan sempat pergi jauh-jauh ke Belanda untuk membelikan obat. Sayang obat itu tak pernah sampai ke tangan Soedirman yang saat itu sudah keburu tugas di luar ibukota.

Kiai sakti atau jenderal dengan prajurit dengan naluri tajam?

Salah satu penyebab Soedirman tidak pernah tertangkap saat gerilya adalah ia selalu tahu jika musuh sudah mendekat. Bisa jadi itu karena instingnya memang benar-benar tajam. Tetapi para penduduk yang rumahnya sempat ditumpangi sang jenderal yakin betul kalau pria kurus dengan napas tercekat itu betulan sakti. Bisa membuat tempat persembunyiannya tak terlihat pesawat Belanda dengan bantuan keris ajaib, bahkan konon bisa mendatangkan badai segala.

Jenderal Soedirman sekembalinya dari gerilya. Photo credit: Istimewa
Jenderal Soedirman sekembalinya dari gerilya. Photo credit: Istimewa

Soedirman memang menganut aliran Kejawen. Percaya klenik dan ke mana-mana menyandang keris. Anehnya, Mohammad Roem sendiri mengakui kalau ‘klenik’ Soedirman membuat dirinya berhasil memenangkan diplomasi Perjanjian Roem-Royen. Menurut buku biografinya, sebelum mewakili Indonesia ia diminta Sukarno untuk mendatangi Soedirman agar ‘jiwanya bisa diperkuat’. Setelah itu Soedirman mendatangkan ‘orang pintar’ yang memberinya selembar kertas berisi doa-doa. Roem percaya ia bisa membungkam mulut delegasi Belanda berkat mengantungi kertas itu sepanjang pertemuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.