Hari gini, siapa yang nggak tahu Agatha Christie? Perempuan Inggris ini sangat terkenal di dunia perbukuan. Novel-novel misterinya diterbitkan di puluhan negara dan sudah sering diadaptasi ke layar kaca sampai layar lebar.
Kebanyakan pembaca ketagihan dengan cerita Hercule Poirot, karakter detektif rekaan Agatha Christie yang paling populer.
Selama tahun 2009–2017, penikmat cerita detektif mungkin lebih kepincut dengan Sherlock Holmes gara-gara Robert Downey, Jr. dan Benedict Cumberbatch. Namun, belakangan, karya-karya Christie ramai dibicarakan lagi gara-gara munculnya franchise film Hercule Poirot besutan Kenneth Branagh.
Hercule Poirot adalah karakter detektif Agatha Christie yang paling terkenal. Sebagian besar novel Christie yang paling populer menceritakan detektif Belgia ini.
Ada teman saya yang tertarik untuk mulai membaca Agatha Christie setelah menonton Poirot-nya Kenneth Branagh di Murder on the Orient Express (2017). Waktu itu, dia nanya ke saya harus mulai dari mana.
Mengikuti petualangan Poirot bisa dimulai dengan membaca The Mysterious Affair at Styles. Ini adalah novel pertama Agatha Christie sekaligus perkenalan pembaca dengan Poirot.
Kalau malas membaca seluruh novel Poirot, boleh juga langsung baca buku-bukunya yang paling populer. Meskipun tidak dibaca secara berurutan, novel-novel Agatha Christie nggak membingungkan, kok.




Berikut ini adalah daftar lima novel terbaik Agatha Christie yang diambil dari hasil voting di situs book cataloguing, Goodreads.
Hasil voting-nya 80% cocok dengan pendapat saya. Cuma peringkatnya saja yang menurut saya berbeda.
5. The A.B.C. Murders (Opini Pribadi: Peringkat 4)
Sinopsis: Seorang pembunuh “menantang” Hercule Poirot untuk menghentikan kejahatannya. Ia melakukan serangkaian pembunuhan berdasar alfabet dan menghebohkan seluruh Inggris.
A berarti Andover, di sana Mrs. Ascher dipukul sampai mati. B berarti Bexhill, tempat Betty Barnard mati dicekik. C berarti Churston dan Sir Carmichael Clarke ditemukan terbunuh. Di samping tubuh masing-masing korban diletakkan sebuah buku Panduan Kereta Api ABC, terbuka pada halaman yang menunjukkan tempat pembunuhan.
Opini pribadi: The ABC Murders terasa menarik karena menawarkan formula yang agak berbeda daripada novel detektif pada umumnya. Ini bukan cerita tentang pembunuhan di mana si detektif terisolasi di TKP bersama para tersangka.
Kali ini, Hercule Poirot harus kejar-kejaran dengan si pembunuh. Dia harus menangkap si pelaku sebelum rencana pembunuhan berikutnya terlaksana.
Agatha Christie menunjukkan keahliannya dalam reader manipulation di novel ini. Pembaca dibuat tegang dan digiring ke satu arah, sebelum memberikan konklusi cerita yang sama sekali berbeda.
4. Death on the Nile (Opini Pribadi: Peringkat 6 setelah Curtain)
Sinopsis: Saat Hercule Poirot mengamati Linnet Ridgeway), Simon Doyle, dan Jackie de Bellefort yang tak dikenalnya, ia langsung tahu bencana akan segera terjadi.
Kekhawatiran Poirot terbukti benar. Saat takdir mempertemukannya lagi dengan tiga orang itu, salah satu di antaranya tewas.
Linnet terbunuh di atas kapal Karnak yang ditumpanginya untuk bulan madu dengan Simon. Jackie, mantan kekasih Simon terus-menerus membuntuti keduanya. Ia tak bisa memaafkan Linnet dan Simon yang telah mengkhianatinya.
Kasus pembunuhan Linnet yang belum terpecahkan itu lantas disusul sederet tragedi lainnya. Poirot harus berlomba dengan waktu sebelum jumlah mayat yang berjatuhan terus bertambah.
Opini pribadi: Saya paham kenapa rating buku ini di Goodreads sangat tinggi. Death on the Nile punya cerita yang dramatis, didukung latar yang megah pula. Perselingkuhan, pembunuhan berlatar cemburu, dan tempat-tempat eksotis di Mesir sebagai “panggung” cerita. Semua itu merupakan formula yang manjur untuk menciptakan sebuah fiksi nan sedap.
Walaupun begitu, formula cinta segitiga dan pembunuhan dengan motif cemburu begini sudah sering digunakan di cerita-cerita Agatha Christie. Setelah membaca Sad Cypress dan Triangle at Rhodes, Death on the Nile jadi tidak punya unsur kejutan lagi bagi saya.
[REVIEW BUKU] DEATH ON THE NILE (HERCULE POIROT #17)
3. The Murder of Roger Ackroyd (Opini Pribadi: Peringkat 1)
Sinopsis: Roger Ackroyd tahu terlalu banyak. Ia tahu bahwa wanita yang ia cintai meracuni suami pertamanya yang kejam. Ia juga curiga bahwa wanita itu diperas seseorang. Dan kini, wanita itu bunuh diri.
Malam itu, Roger menerima sepucuk surat berisi informasi yang sangat fatal. Sebelum ia sempat membaca surat itu sampai selesai, seseorang menikamnya hingga tewas.
Awalnya, Hercule Poirot pindah ke King’s Abbot untuk menikmati masa pensiun. Gara-gara kasus ini, rencananya bertanam labu terpaksa ditunda. Ia harus mengerahkan sel-sel kelabu di kepalanya untuk investigasi.
Opini pribadi: Bagi saya, The Murder of Roger Ackroyd adalah novel Agatha Christie yang paling mengecoh. Sepertinya, banyak juga pembaca lain yang punya pendapat sama.
Keseluruhan cerita novel ini sebenarnya tidak terlalu istimewa. Beberapa bagian mungkin malah terasa membosankan.
Walaupun begitu, konklusi ceritanya bikin saya kepingin noyor kepala sendiri. Ini adalah trik “pengalihan isu” yang sangat sederhana, tapi sukses bikin saya ketipu habis-habisan.
[REVIEW BUKU] PEMBUNUHAN ATAS ROGER ACKROYD: YANG MAHA PLOT-TWIST DARI AGATHA CHRISTIE
2. Murder on the Orient Express (Opini Pribadi: Peringkat 3)
Sinopsis: Tepat setelah tengah malam, gumpalan salju menghentikan kereta Orient Express. Padahal saat itu kereta mewah tersebut sangat dipadati penumpang. Tetapi, begitu pagi tiba, mereka kekurangan satu penumpang. Ia tewas di dalam kompartemen, dengan belasan luka tusuk, dan pintunya terkunci dari dalam.
Sebelumnya, Samuel Ratchett, si korban telah meminta Hercule Poirot untuk melindunginya. Namun, Poirot menolak tawaran kerja dari pria itu. “Saya tak suka dengan wajah Tuan,” kata Poirot saat itu. Kini, Poirot harus memecahkan kasus pembunuhan Ratchett.
Opini pribadi: Ada banyak alasan yang membuat saya sangat menyukai Murder on the Orient Express. Pembukaan ceritanya bagus, dramanya dapet, karakter-karakternya bikin penasaran, konklusi ceritanya juga tak terduga.
Kalau mau baca buku ini, sebaiknya buang jauh-jauh pakem cerita detektif yang sudah umum dipakai para penulis lain. Terutama di bagian konklusi kasus. Jangan terpaku dengan anggapan bahwa pembunuh di cerita detektif itu harus A, B, C, dan seterusnya.
[REVIEW BUKU & FILM] MURDER ON THE ORIENT EXPRESS, KENNETH BRANAGH BUKAN HERCULE POIROT
1. And Then There Were None (Opini Pribadi: Peringkat 2)
Sinopsis: Sepuluh orang diundang ke sebuah rumah mewah dan modern di sebuah pulau di seberang pantai Devon. Sepuluh orang dengan rahasia kelam masing-masing, datang tanpa curiga pada sore musim panas yang indah.
Tiba-tiba terjadi serentetan kejadian misterius. Pulau tersebut berubah menjadi pulau maut yang mengerikan ketika orang-orang itu tewas satu demi satu.
Opini pribadi: Novel ini memang layak mendapat rating yang tinggi. Meskipun tidak ada Hercule Poirot atau Miss Marple, ceritanya tetap seru. Tegangnya justru terasa banget karena nggak ada sosok detektif yang bakal memecahkan kasus. Mendekati akhir cerita, pembaca dibuat mikir, “Lho, kok gini?” Begitu kebenaran terbongkar, saya cuma bisa mencep. “Alah, kena tipu lagi.”
Honorable Mention: Curtain (Opini Pribadi: Peringkat 5)
Sinopsis: Kapten Hastings diundang sahabat lamanya, Hercule Poirot untuk berlibur di Styles, tempat mereka pertama kali bertemu. Hastings tak hanya bertemu Poirot. Ada Judith, putrinya yang sudah lama memusuhinya di sana.
Rupanya, Poirot mengundang Hastings untuk membantunya menghentikan seorang psikopat. Sosok misterius yang disebut X oleh Poirot itu terlibat dalam lima pembunuhan di tempat yang berbeda dengan motif yang berbeda. Lima pembunuhan yang begitu sempurna hingga X tak akan bisa ketahuan.
Sekarang X berada di Styles. Berarti tak lama lagi akan ada pembunuhan di sana.
Opini pribadi: Rasanya Curtain perlu mendapatkan rating yang lebih tinggi, karena level reader manipulation di novel ini cukup advanced buat saya. Kalau mau baca buku ini, pesan saya cuma satu. Jangan mengecualikan satu tokoh pun dari daftar tersangka. Beneran.
Momen nostalgia di novel ini cukup ditekankan oleh Agatha Christie, terutama lewat narasi Hastings yang banyak mengenang pertemuan pertamanya dengan Poirot di Styles.
Sosok Hercule Poirot yang sudah renta dan fakta bahwa ini adalah kasus terakhirnya juga membuat keseluruhan cerita ini terasa pahit dan manis di saat yang bersamaan.
[REVIEW BUKU] CURTAIN: POIROT’S LAST CASE, SALAM TERAKHIR HERCULE POIROT BUAT PARA PEMBACA SETIANYA
Yak, demikian daftar novel terbaik Agatha Christie menurut saya dan Goodreads. Masing-masing menunjukkan kepiawaian Agatha Christie dalam menyesatkan pembaca. Silakan dipilih sendiri, mau baca yang mana duluan.







