[Just My Two Cents] Mari Kita Bicara Tentang Game-game Survival Berdarah di Literatur Fiksi

 

Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.
Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak lelaki dan perempuan untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.
The Hunger Games, Suzanne Collins
 
Sejak lahir kami semua sudah ada di tempat ini.
Seingatku, lebih banyak lagi anak-anak yang ada di sini pada awalnya.
Sekarang hanya tinggal seratus orang.
Saat kami berusia tujuh belas tahun nanti hanya ada tujuh orang di antara kami yang akan terpilih.
Selama kami tak bisa terpilih menjadi salah satu dari tujuh orang itu, kami tak akan pernah bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini.
7 Seeds vol.7, Tamura Yumi

Dua judul di atas merupakan salah satu buku yang kubaca berulang-ulang. Keduanya memiliki kesamaan, extreme survival challenge. Ini adalah tema cerita yang sangat saya sukai, bukan karena saya menyukai kekerasan, tetapi karena cerita mengenai permainan bertahan hidup selalu menyuguhkan pengalaman mental yang kompleks; mengerikan, menyedihkan, sekaligus menarik. Bayangkan kepanikan tokoh-tokoh dalam cerita itu ketika tiba-tiba mereka dilemparkan ke dalam suatu permainan yang mengharuskan mereka membunuh satu sama lain. Bukankah ini seperti dipaksa menjalani seleksi alam dalam waktu singkat? Bedanya alam memberikan banyak waktu bagi makhluk hidup untuk membuktikan keunggulannya sebagai spesies yang berhak bertahan. Sementara para tokoh ini hanya punya beberapa hari atau beberapa minggu untuk memastikan bahwa hanya salah satu di antara mereka yang akan hidup. Pilihannya hanya membunuh atau terbunuh.

Dalam cerita seringkali digambarkan beban mental yang para tokoh alami karena menyadari bahwa mereka harus menghabisi nyawa teman atau kekasih. Hal itu mendorong mereka sampai batas ketahanan psikis, dan pada akhirnya memunculkan sisi lain kepribadian yang mungkin bahkan tidak pernah disadari ada dalam diri mereka selama ini. Dalam titik ini, segalanya bisa terjadi.

Peserta yang berkepribadian lemah mungkin akan histeris, tidak bisa mengatasi kepanikannya dan terbunuh dengan mudah pada tahap awal permainan. Tetapi seringkali keinginan untuk bertahan hidup bisa saja memicu potensi tak terduga seseorang untuk muncul ke permukaan. Seperti Titus, peserta The Hunger Games dari distrik 6 yang digambarkan Katniss sebagai pemuda yang terlihat normal, tetapi ketika dilepas di arena berubah menjadi pembunuh keji yang memakan korban-korbannya. Di sinilah, cerita berkembang menjadi semakin menarik.

The Hunger Games
The Hunger Games

Gagasan sekelompok remaja yang dipaksa mengikuti permainan saling-membunuh oleh otoritas tertentu memang cukup banyak dipakai pada manga, novel, game, maupun film yang beredar saat ini. Selain The Hunger Games dan 7 Seeds, ada film The Tournament, Naked Weapon, manga Judge!, dan masih banyak lagi. Saya menjumpai ide cerita  ini pertama kali dalam film Jepang, Battle Royale (2000) yang kutonton pada tahun 2004. Battle Royale merupakan karya sutradara Kinji Fukasaku yang diadaptasi dari novel laris karya Koushin Takami dengan judul yang sama. Film ini menuai banyak kontroversi, melebihi novel dan manga-nya yang sudah lebih dulu popular di Jepang.

Walaupun mendapat pujian dari para kritikus dan sineas, Battle Royale mendapat banyak kecaman dari pemerintah dan lembaga-lembaga penyiaran Jepang karena tema ‘kekerasan oleh remaja’ yang ditampilkan secara eksplisit dalam filmnya dianggap dapat memicu perkembangan kriminalitas remaja. Kenyataannya pada tahun 2004 terjadi peristiwa pembunuhan sadis murid perempuan 12 tahun oleh  teman sekelasnya dimana si pelaku yang mengaku pernah membaca novel Battle Royale.

 

Battle Royale (2000). Photo credit: Metacritic
Battle Royale (2000). Photo credit: Metacritic

Kontroversi Battle Royale selanjutnya menghasilkan publisitas luas yang membuat film ini menjadi perbincangan internasional. Film ini menjadi box-office di Eropa, Asia, dan Amerika Utara meskipun dilarang beredar di beberapa negara. Bahkan di AS film ini baru diizinkan diputar di bioskop pada tahun 2012 karena temanya yang sensitif dianggap berbahaya bagi warga AS yang pada saat itu masih trauma dengan tragedi penembakan Columbine High School yang dilakukan dua murid lelaki sekolah tersebut dan menewaskan sejumlah murid.

Battle Royale. Photo credit: Redbubble
Battle Royale. Photo credit: Redbubble

Bagaimanapun, Battle Royale memang telah mempopulerkan tema ‘sekelompok remaja yang diisolasi dan dipaksa untuk saling membunuh’, terutama di Hollywood. Bahkan sutradara Quentin Tarantino yang sangat terkesan dengan film ini sengaja menciptakan karakter  Gogo Yubari karena kekagumannya kepada karakter Takako Chigusa dalam film Battle Royale yang diperankan aktris Chiaki Kuriyama. Tarantino juga sengaja meminta Kuriyama memerankan Yubari dalam Kill Bill. Selanjutnya semakin banyak film Hollywood yang terinspirasi Battle Royale bermunculan, tapi sampai saat ini belum ada yang dianggap sukses menandingi kekuatan cerita Battle Royale.

Novel bestseller The Hunger Games yang baru-baru ini diangkat ke layar lebar juga tidak luput dari tuduhan meniru Battle Royale. Beberapa kritikus bahkan menyebut The Hunger  Games sebagai ‘tiruan yang buruk dari Battle Royale’ walaupun Suzanne Collins, sang penulis, mengaku belum pernah mendengar tentang Battle Royale. Konsep permainan The Hunger Games yang dirancang pemerintah Capitol sebagai bentuk teror bagi warganya memang serupa dengan konsep program Battle Royale (dalam novel hanya disebut Program) yang diciptakan oleh suatu pemerintah totaliter untuk pengembangan riset mengenai efektivitas program tersebut sebagai alat teror.

Lagipula, deskripsi arena The Hunger Games ke-75 (disebut juga The Quarter Quell ke-2) dalam Catching Fire, dimana arena permainan terbagi menjadi beberapa area dan dipasangi jebakan yang aktif pada waktu yang berbeda-beda, sehingga peserta harus menghindari area tersebut pada jam-jam tertentu, lagi-lagi memiliki kesamaan dengan zona kematian dalam Battle Royale. Dalam film, setiap beberapa jam sekali game lord Battle Royale mengumumkan area-area yang harus dihindari peserta pada waktu-waktu tertentu karena memasuki area tersebut dapat mengaktifkan detonator peledak pada kalung peserta.

Disamping kemiripan-kemiripan The Hunger Games dan Battle Royale, baik Takami maupun Collins sebenarnya bermaksud menyampaikan pesan yang berbeda. Deadly survival challenge pada Battle Royale adalah alat yang ekstrem untuk memicu perkembangan karakter-karakter di dalamnya, sedangkan bagi Collins ajang saling bunuh dalam novelnya adalah sebuah pembukaan tajam yang mengawali perubahan besar bagi Katniss dan seluruh penduduk Panem. Takami menitikberatkan kekerasan dan drama sebagai daya tarik, sementara Collins mengemas berbagai unsur sekaligus untuk membuat The Hunger Games disukai pembaca. Action, roman, reality show ala Survivor, drama, dan peperangan. Memang ini mengakibatkan pesan apapun yang ingin diperkuat Collins tidak fokus dan setiap unsur yang berusaha ditampilkan jadi kurang mengena, tapi bagaimanapun trilogi The Hunger Games tetap menarik untuk diikuti berkat semua unsur tersebut.

Lagipula, bukan tidak mungkin Takami, Collins, maupun penulis-penulis lain mempunyai ide tema yang sama tanpa meniru atau terinspirasi karya yang lain. Bisa saja mereka terinspirasi dari sejarah. Bukankah permainan seperti ini sempat popular di masa lalu? Kita bahkan masih bisa melihat bukti sejarahnya di Roma, Italia. Ya, Colloseum, arena survival games para gladiator pada zaman Romawi kuno.

Colosseum. Photo credit:Walks of Italy
Colosseum. Photo credit:Walks of Italy

Bisa jadi, para penulis ini terinspirasi dari duel gladiator di masa lalu. Duel ini biasanya berupa pertarungan sampai mati antara dua orang pria atau manusia dan binatang buas. Para petarung dipilih dari tawanan yang akan dieksekusi. Mereka diberi kesempatan kedua dengan mengikuti duel maut di arena dan ditonton kaum bangsawan kota. Petarung yang berhasil menjadi pemenang akan diampuni kejahatannya dan mendapat sejumlah fasilitas dari penguasa. Sebagai gantinya mereka akan terus bertarung untuk menghibur para bangsawan tersebut.

Duel gladiator sejatinya adalah reality show kuno yang menjadikan pertumpahan darah sebagai hiburan untuk kaum berada, sama seperti Hunger Games. Apalagi Collins menambahkan first impression parade, wawancara publik, sponsorship, dan sesi penilaian bakat untuk menekankan konsep reality show dalam novelnya. Salah satu kritik menyebut usaha Collins menjadikan peserta Hunger Games sebagai selebriti TV tidak relevan dengan tujuan awal dibuatnya Hunger Games oleh Capitol, yaitu untuk menciptakan peringatan bagi distrik-distrik agar tidak menentang penguasa. Padahal jika dibandingkan dengan duel gladiator sebenarnya hal itu cukup masuk akal. Gladiator jawara pun sesungguhnya selebriti.

Gladiator (2000). Photo credit: Hollywood Reporter
Gladiator (2000). Photo credit: Hollywood Reporter

Tetapi kebintangannya memang sengaja diciptakan oleh penguasa agar para bangsawan bosan itu memiliki cukup hiburan untuk menutup mata atas penyimpangan-penyimpangan yang mungkin dilakukannya. Dan seberapa pun populernya atau piawainya seorang gladiator, nasibnya tetap berada di tangan penonton. Di antara tahanan yang dijadikan petarung ini banyak yang dulunya bahkan bukan penjahat tapi mendapat vonis hukuman mati hanya karena kesalahan kecil yang menyinggung penguasa. Nasib mereka cukup sebagai peringatan untuk menakut-nakuti rakyat jelata. Satu kesalahan kecil bisa mengirim mereka untuk tewas secara mengenaskan di tengah amphiteater.

Konsep survival challenge yang berbeda ditampilkan manga 7 Seeds dan Aegis In The Dark. Dalam kedua cerita ini permainan bertahan hidup digunakan oleh gamelord sebagai suatu bentuk fit and proper test untuk peran tertentu yang sudah direncanakan bagi para tokoh. Di sini para peserta harus mampu mengatasi tantangan yang diberikan dan bertahan hidup hingga akhir permainan untuk membuktikan kelayakan mereka. Peserta Hunger Games dan Battle Royale ditentukan melalui undian sehingga kemampuan para peserta tidak seimbang dan peserta yang paling lemah menjadi sasaran mudah bagi peserta lain yang lebih kuat. Sedangkan peserta survival challenge dalam cerita-cerita seperti 7 Seeds dan Aegis In The Dark adalah anak-anak dengan bakat tertentu yang sengaja dikumpulkan oleh gamelord dan diadu untuk menentukan pemilik bakat yang paling menonjol.

Dalam manga 7 Seeds, survival challenge merupakan bagian dari 7 Seeds Project yang direncanakan pemerintah Jepang untuk menghadapi prediksi kehancuran peradaban manusia akibat meteor raksasa yang menghantam permukaan bumi. Untuk itu pemerintah mengumpulkan bayi-bayi yang dianggap bibit unggul dan melatih mereka menguasai berbagai kecakapan mulai dari beladiri, ilmu medis, keterampilan sehari-hari, sampai pengetahuan untuk bertahan hidup di alam liar. Pada usia 17 tahun murid-murid ini dihadapkan pada ujian akhir tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

7 Seeds. Photo credit: 7 Seeds Wiki - Fandom
7 Seeds. Photo credit: 7 Seeds Wiki – Fandom

Satu per satu dari mereka tewas karena kecelakaan, kebakaran, dan keracunan yang sudah diatur oleh para guru. Puncaknya murid-murid yang masih bertahan harus menghadapi ujian yang dirancang khusus untuk masing-masing peserta. Gengorou harus melawan hewan-hewan buas peliharaannya sejak kecil yang sengaja dilepaskan para guru di alam liar agar berubah agresif. Sementara Koruri yang mudah panik menghadapi berbagai jebakan yang memaksanya untuk tetap berpikir logis saat menyaksikan teman-temannya tewas.

Ujian baru berakhir saat murid yang bertahan hidup tinggal tujuh orang. Tujuh orang ini selanjutnya menjadi bagian tim musim panas A. Bersama tujuh anggota tim musim panas B, tim musim semi, tim musim gugur, dan tim musim dingin yang dipilih dari penduduk sipil, mereka akan dibekukan untuk dibangunkan kembali di masa depan pada waktu yang berbeda-beda. Tugas mereka adalah memastikan umat manusia tidak akan punah membuat peradaban baru.

Sementara dalam Aegis In The Dark survival challenge muncul di salah satu episode yang menceritakan pertemuan kedua Carlito Tate dan pemuda 16 tahun bernama Liu Yijien. Dalam kehidupan sehari-hari Yijien adalah murid SMA biasa, tetapi sebenarnya ia adalah assassin handal sekaligus pemimpin Dragon Gate, organisasi pembunuh bayaran terbesar di Asia yang berkedok jaringan restoran internasional. Ditunjukkan melalui adegan flashback alasan kenapa Yijien yang masih muda bisa terpilih menjadi pewaris pertama Dragon Gate, mengungguli saudara-saudaranya yang lebih tua adalah potensi yang ditunjukkannya pada saat ujian lima tahun sebelumnya.

Aegis in the Dark 17. Photo credit: Angelzon.com
Aegis in the Dark 17. Photo credit: Angelzon.com

Saat itu, kakek Yijien sebagai pemimpin tertinggi Dragon Gate memilih penerusnya dengan cara mengadu empat belas anak dari keluarga Liu dengan para tahanan yang telah divonis hukuman mati. Anak-anak itu dilepaskan di lokasi pegunungan sementara masing-masing tahanan yang dulunya pembunuh kejam diperintahkan untuk membunuh  satu anak sebagai syarat pembatalan hukuman mati mereka. Pertarungan berakhir ketika semua tahanan tewas dan tersisa lima anak yang kelak menjadi pewaris Dragon Gate.

Untunglah dalam kenyataan sebagian besar dari kita hidup dengan nyaman, tak perlu dan semoga tidak akan pernah harus menjalani kenyataan seberat cerita-cerita itu. Tapi, kadang-kadang saya berpikir jika saya (naudzubillah min dzalik) tiba-tiba terlempar ke dalam permainan semacam itu, apakah saya akan menjadi seperti diriku di kehidupan sehari-hari? Outsider yang menarik diri dari aliansi dan mengamati situasi sebelum membunuh diam-diam seperti pengecut, dengan racun, bom, atau jebakan, tanpa perlu mengotori tanganku secara langsung. Tapi, seperti kebanyakan manusia lainnya, saya adalah manusia berkepribadian abu-abu (jarang hitam, dan tak pernah putih) yang punya sisi jahat. Dan kembali lagi, manusia sanggup melakukan apapun dalam keadaan terdesak. Saya hanya benar-benar berharap tidak akan pernah diuji dengan hal semacam itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.