[Review Buku & Film] Antologi Rasa, Crazy Rich Asians Rasa Lokal yang Sukses Merangsang Kantuk

Antologi Rasa. Photo: Tantri Setyorini

Judul: Antologi Rasa
Penulis: Ika Natassa
Bahasa: Indonesia
Format: paperback, 336 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
Genre: Fiksi, contemporary romance

Sinopsis (buku)

Tiga sahabat. Satu pertanyaan. What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover?

K e a r a

We’re both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe.
How can we be so different and feel so much alike, Rul?
Dan malam ini, tiga tahun setelah malam yang membuatku jatuh cinta, my dear, dan aku di sini terbaring menatap bintang-bintang di langit pekat Singapura ini, aku masih cinta, Rul. Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu.
Three years of my wasted life loving you.

R u l y

Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah bahwa sampai sekarang gue merasa mungkin satu-satunya momen yang bisa mengalahkan senangnya dan leganya gue subuh itu adalah kalau suatu hari nanti gue masuk ke ruangan rumah sakit seperti ini dan Denise sedang menggendong bayi kami yang baru dia lahirkan. Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah rasa hangat yang terasa di dada gue waktu suster membangunkan gue subuh itu dan berkata, “Pak, istrinya sudah sadar,” dan bahwa gue bahkan tidak sedikit pun berniat mengoreksi pernyataan itu. Mimpi aja terus, Rul.

H a r r i s

Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu. Karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan-perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka klepek-klepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, “Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love.”
Thats probably as close as I can get to hearing that she loves me.

1 Poin untuk:

check sign

Story

Setting

Characterization

Writing style

Moral/interesting trivia

Level of Interest

Review (buku)

Seperti judulnya yang sudah sangat gamblang, Antologi Rasa menceritakan tentang kisah cinta rumit di antara empat orang sahabat. Harris mencintai Keara, Keara mencintai Rully, sementara Rully cinta mati kepada Denise yang sudah menjadi istri orang. Denise? Untungnya dia sibuk berkutat sendiri dengan rumah tangganya yang tak bahagia, meskipun masih juga bergantung secara emosional kepada Ruly.

Antologi Rasa merupakan salah satu novel karya Ika Natassa yang paling laris dan dipuja-puji. Sepertinya para pembaca menyukai gaya berceritanya yang sangat anak muda dan bertabur kemewahan. Barangkali sensasi membaca karya-karya Ika seperti menonton Crazy Rich Asians. Ringan, glamor, dan romantis.

Sayangnya saya kurang terhibur dengan cerita-cerita model begini. Saya lebih suka cerita ber-setting lokal dengan tokoh-tokoh yang membumi dan masalah yang kemungkinan juga bisa saya alami.

Maksud saya adalah saya kurang bisa relate dengan tokoh cantik sempurna seperti Keara yang punya gaji berdigit-digit, sanggup hedon setiap malam, dan masih bisa mengeluh karena sudah menghabiskan uang senilai belasan juta demi cinta. Saya dan mungkin sebagian pembaca lain yang hidup dengan level kenyamanan di bawah itu tentunya kurang bisa bersimpati dengan derita Keara.

Saya juga sering merasa terganggu dengan celotehan-celotehan bahasa Inggris Ika Natassa yang bagi saya overdosis. Juga sederet merek-merek high end yang kerap dia sebutkan.

Tapi harus saya akui gaya bercerita dengan POV yang berganti-ganti di Antologi Rasa memang membuat ceritanya lebih hidup. Sebetulnya novel ini memang punya potensi untuk menjadi kisah yang jauh lebih menarik lagi.

Menilai dari segi penokohan, saya paling bersimpati kepada Harris. Meskipun digambarkan sebagai pria brengsek, menurut saya dialah yang paling menderita di sini. Sementara Keara, lagi-lagi saya kesulitan untuk bersimpati kepada karakter yang satu ini dan sikap kekanakan, egois, dan drama queen-nya. Terutama saat dia menyalahkan Harris karena kekhilafan ‘mereka berdua’ di Singapura.

Dari keempat tokoh utama di cerita ini, hanya Harris yang tidak menggunakan tokoh utama lain sebagai rebound. Keara, Denise, Ruly? Alah sama saja.

Intinya, novel ini memang cukup berkesan bagi saya. Tetapi bukan kesan baik yang ditinggalkannya. Lalu bagaimana dengan filmnya? Silakan baca ulasan di bawah ini.

Antologi Rasa. Photo: Soraya Intercine Films
Antologi Rasa. Photo: Soraya Intercine Films

Judul: Antologi Rasa
Diangkat dari: Antologi Rasa oleh Ika Natassa
Sutradara: Rizal Mantovani
Bahasa: Indonesia
Tahun rilis: 2019
Produksi: Soraya Intercine Films
Genre: drama, roman

Sinopsis (film)

Disadur dari Book My Show:

Antologi Rasa menyibak problematika cinta yang mungkin saja terjadi di kehidupan kamu sehari-hari, khususnya pekerja kantoran. Ada rasa yang tertahan, kata yang harus di sembunyikan, pastinya adalah hal-hal kecil yang sulit diabaikan.

Apa susahnya sih membuka sedikit saja pintu hari pada orang yang benar-benar mencintai kita? Begitulah konflik yang membantin antara Harris, Keara, Ruly dan Denise. Semuanya dimulai dari pertemuan pertama mereka.

Pertemuan pertama yang berlanjut pada penggalan-penggalan kisah cinta yang tertahan.

Level of Interest

Review (film)

Sebelumnya saya sudah menyatakan kalau Antologi Rasa memiliki potensi untuk menjadi cerita yang menarik, meskipun diwarnai drama yang tak perlu dan kerumitan khas sinetron di sana-sini. Saya sempat berharap filmnya akan menyuguhkan tontonan yang cukup sedap, setidaknya seperti Critical Eleven yang juga diangkat dari novel Ika Natassa.

Kenyataannya, level mengecewakan Antologi Rasa: The Movie tak beda jauh dari novelnya. Para aktor dan aktris yang dipasang sebagai tokoh utama di sini terhitung gagal menghidupkan peran mereka. Satu-satunya yang menunjukkan akting mulus di sini cuma Angel Pieters. Padahal karakter Dinda yang dia perankan cuma tokoh pembantu.

Bahkan Herjunot Ali yang mempunyai jam terbang lebih tinggi daripada rekan-rekannya pun tidak bisa membuat saya terkesan. Bagi saya, Harris yang diperankan oleh Junot terasa agak lebay. Saya merasa Junot seperti mas-mas cool yang tiba-tiba mencoba slengekan dan gagal total. Padahal di film-film lain aktor yang satu ini juga bisa menunjukkan kualitas akting yang bagus, kok.

Refal Hady memerankan Ruly dengan cukup baik, tetapi tidak terlalu berkesan juga. Bahkan mudah terlupakan menurut saya. Soalnya karakter Ruly di novelnya sendiri pada dasarnya memang forgetable.

Harris, Keara, dan Ruly di Antologi Rasa. Photo: Soraya Intercine Films.
Harris, Keara, dan Ruly di Antologi Rasa. Photo: Soraya Intercine Films.

Lalu bagaimana dengan Carrissa Perusset? Secara fisik, bintang baru ini memang sempurna untuk memerankan Keara. Tapi maaf, saya rasa Carissa perlu mengikuti kelas akting terlebih dahulu sebelum benar-benar terjun ke dunia film. Walaupun begitu, saya merasa dia bisa saja jadi aktris yang bagus dalam beberapa tahun ke depan.

Karakter Denise yang cukup penting di novelnya malah tidak banyak diceritakan di sini. Sementara Panji, lelaki rebound nomor dua Keara justru tidak muncul sama sekali di film ini.

Keara, Ruly, Denise, dan Harris di Antologi Rasa. Photo: Soraya Intercine Films.
Keara, Ruly, Denise, dan Harris di Antologi Rasa. Photo: Soraya Intercine Films.

Secara keseluruhan, menurut saya Antologi Rasa adalah film yang cukup eye catchy dari segi setting. Pakai Singapura dan Bali, sih, dijamin fotogenik. Aktor-aktrisnya juga enak dilihat. Tetapi saya justru gagal menahan kuap sepanjang pemutaran film.

Untunglah film ini ditutup dengan ending yang berbeda dari novelnya. Sebuah happy ending yang cukup buat mengurungkan niat saya untuk memberikan rating satu hati. Tetapi kalau boleh jujur, sebenarnya ending Antologi Rasa: The Movie ini juga sedikit ganjil dan terburu-buru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.